Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Galeri Foto

Internalisasi Nilai Kebangsaan di Wilayah Perbatasan, Perkokoh NKRI dan Hubungan Negara Serumpun

Rabu, 19 April 2017 - 01:02:11 WIB

Bupati Syamsuar menjadi salah satu narasumber. (Foto:Humas/FokusRiau.Com)


SIAK-Bupati Siak Syamsuar, Senin (17/4/2017) pagi menceritakan sejarah kerajaan Siak kepada guru-guru se-Indonesia di gedung LAM Siak. Sebagai narasumber, Ketua Ikatan Sejarawan Indonesia dari Jakarta Muchlis Paeni dan Budayawan (LAM) Riau O.K. Nijami Jamil.
 
Panjang lebar bupati dua periode itu menceritakan sejarah berdirinya kerajaan Siak, sampai pada masa Sultan Syarif Kasim II sebagai pahlawan nasional. Pada masa sultan inilah, kerajaan Siak bergabung dengan NKRI dan menyerahkan seluruh harta kekayaan kerajaan kepada Negara.
 
Sehari setelah Indonesia merdeka, Sultan Siak turut mengibarkan bendera merah putih di halaman Istana, dan bendera tersebut dijahit sendiri oleh permaisuri sultan.
 
 
Bupati Syamsuar menceritakan sejarah kesultanan di Siak. (Foto:Humas/FokusRiau.Com) 
 
Saat di jumpai usai acara, Bupati Syamsuar kelihatan senang. Karena Siak sebagai tuan rumah kegiatan tersebut, sehingga nantinya dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke negeri istana.
 
“Tentunya kami sangat senang, karena kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mengenal sejarah kerajaan Siak, sekaligus bisa mempromosikan Kabupaten Siak, karena pesertanya guru-guru dari seluruh Indonesia," ulas Syamsuar.
 
Saat sesi tanya jawab, Syamsuar mempersilahkan peserta bila ingin melihat bukti sejarah perjuangan rakyat Siak dan Bengkalis. "Silahkan dilihat ke Arsip Nasional. Dapat dilihat disana, tulisan-tulisan dari rakyat yang ikut mempertahankan republik Indonesia, berjuang sebelum kemerdekaan Indonesia. Tulisan itu dibubuhkan dengan stempal cap jempol darah," tukasnya.
 
 
Bupati Syamsuar mempersilahkan peserta untuk melihat bukti sejarah perjuangan rakyat Siak dan Bengkalis. (Foto:Humas/FokusRiau.Com) 
 
Sementara Eddy Suardi, Kasubdit Internalisasi Nilai Sejarah, Direktorat Sejarah, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan, peserta yang ikut sebanyak 120 orang, terdiri dari guru sejarah SMA/SMK, dan guru IPS SMP se Indonesia. Masing-masing provinsi mengutus 2 orang guru yang berprestasi dan berdedikasi tinggi dan ditambah guru-guru tempatan.
 
“Kegiatan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, dulu namanya kemah guru di wilayah perbatasan, dan sekarang internalisasi nilai kebangsaan,” jelas Eddy.
 
Menurut Eddy, apa yang diinternalisasikan disini adalah nilai-nilai kebangsaan yang ada di wilayah perbatasan.
 
Dijelaskan, kegiatan ini dimulai dari tanggal 16-21 April 2017 yang berlangsung di Siak dan Bengkalis. Tujuannya untuk melihat bagaimana kondisi daerah di perbatasan, baik dari segi geografis, sosial, budaya maupun ekonominya, terlebih masalah keamanannya.
 
Selanjutnya, peserta nanti bisa berbagi pengalamannya kepada teman sejawat dan anak-anak didiknya di daerah masing-masing. Bagaimana pembentukan sejarah ini memberikan pemahaman kebangsaan bagi siswanya. Yang selanjutnya untuk memperkuat cinta tanah tanah air dan rasa nasionalisme.
 
 
Eddy Suardi memberikan penjelasan kepada peserta tentang nilai-nilai kebangsaan yang ada di wilayah perbatasan. (Foto:Humas/FokusRiau.Com) 

Selain itu, hasil dari kegiatan ini memberikan suatu kemasan pendapat ataupun pemikiran, yang diharapkan menjadi rekomendasi bagi daerah Siak. Rombongan guru menuju sekolah-sekolah (SD dan SMA) di Siak yang dibagi menjadi 8 kelompok, untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman untuk anak-anak didik di sekolah tersebut. 
 
 
Bupati Syamsuar memberikan cenderamata kepada narasumber usai acara berlangsung. (Foto:Humas/FokusRiau.Com) 

 
Lestarikan budaya Melayu 
Sehari kemudian,  Selasa (18/4/2017) dilakukan kegiatan pembacaan dongeng yang berlangsung di Taman Baca Afrita Dara. Plt Kadis Perpustakaan dan Aset Wan Fazri Auli mengatakan, melalui kegiatan ini diharapkan bisa mengasah bakat dan kemampuan peserta dan menumbuh kembangkan semangat dan motivasi budaya membaca, khususnya mengenai cerita rakyat.

Selain itu, menurut Wan Fazri, kegiatan tersebut untuk membudayakan bahasa Melayu agar tidak terlupakan dan bentuk tanggungjawab sebagai orang Melayu. Sehingga diharapkan bahasa Melayu akan kembali muncul di tengah masyarakat.
 
 
Salah seorang peserta membacakan dongeng dan mengundang decak kagum Bupati Syamsuar.(Foto:Humas/FokusRiau.Com) 

Dikatakan, sebanyak 84 orang peserta mewakili kecamatan di Siak dan berlangsung dua hari. Adapun kriteria penilaian lomba pidato dan mendongeng tingkat SD hingga SMA dan umum, antara lain pidato kesesuaian isi dengan tema, sistematikan penulisan, bahasa yang baik dan benar, pidato bahasa melayu yang baik, improvisasi, ketepatan waktu dan lain-lain.

"Dongeng-dongeng dan pidato yang diceritakan atau disampaikan tentu harus mengadung pesan moral dan edukasi sehingga bisa membangun karakter disiplin anak sejak dini," ujarnya. 
 
 
Bupati Syamsuar memberikan apresiasi terhadap penampilan peserta saat membacakan dongeng. (Foto:Humas/FokusRiau.Com) 
 
Bupati Syamsuar saat membuka kegiatan tersebut mengatakan, untuk mengembangkan budaya baca di kalangan generasi muda perlu strategi atau upaya tepat serta berkesinambungan. Salah satunya melalui lomba-lomba seperti ini. Lomba minat baca, mendongeng dan berpidato bahasa Melayu sangat bagus. Artinya, anak-anak sejak kecil sudah dikenalkan budaya daerah kita khususnya, dan budaya nusantara pada umumnya.

Bupati mengajak, undangan dan peserta untuk ikut melestarikan budaya Melayu sampai ke anak cucu dan tak hilang di bumi Melayu ini. (humas)
 
 
Bupati Syamsuar menyempatkan diri berbincang dengan salah seorang peserta jelang berdongeng. (Foto:Humas/FokusRiau.Com) 
 


Galeri foto terkait :

Terkini
Terpopuler


 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus