Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Nasional

36.861 KK di Kota Padang Masih Jadikan Sungai Sebagai Lokasi MCK dan BAB

Sabtu, 11 November 2017

Masyarakat masih gunakan sungai sebagai lokasi MCK. (Foto:Ilustrasi)

PADANG-Sebanyak 36.861 Kepala Keluarga (KK) dari 207.877 KK di Kota Padang, Sumatera Barat masih belum memiliki jamban dan memanfaatkan sungai untuk keperluan mandi cuci dan kakus (MCK).

"Data itu diambil dari setiap puskesmas yang terdapat pada 11 Kecamatan di Kota Padang," kata Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinas Kesehatan Padang Gusweni, kemarin di Padang.

Masyarakat yang sudah memiliki jamban di daerah tersebut baru 182.083 jiwa dari 908.189 jiwa penduduknya. Jumlah tersebut belum bisa dikatakan layak, sebab masih ada 38.284 jiwa yang masih belum memiliki jamban dan menggunakan sungai sebagai tempt buang air besar (BAB). "Mereka tersebar di Kecamatan Pauh, Kuranji dan Lubuk Kilangan," tambahnya.

Menurut Gusweni, terdapat empat jenis sarana jamban yang digunakan masyarakat, yaitu jenis komunal, jumlah sarana yang dipakai 218 jamban dan yang layak sebanyak 211 jamban. "Kemudian jenis leher angsa, jumlah sarana sebanyak 165.744, sedangkan yang terhitung memenuhi syarat 140.883 jamban," katanya.

Untuk jenis plengsengan jumlah sarana 2.055, sedangkan yang layak hanya 381 jamban dan cemplung digunakan oleh 24.869 jiwa dengan jumlah sarana 14.066, sementara yang dinilai layak hanya 2.324 jamban.

Sebagian besar kecamatan yang belum memiliki fasilitas jamban layak tersebut berada pada kawasan yang dilalui oleh sungai atau pun irigasi besar.

Meskipun di dalam rumah warga tersebut sudah memiliki jamban namun pembuangannya masih pada aliran sungai atau irigasi, masih belum memenuhi standar kelayakan karena untuk dikatakan layak jamban harus memiliki bak penampungan (septic tank).

Pihaknya terus menyosialisasikan pemakaian jamban layak kepada masyarakat dan juga berupaya menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat untuk menghilangkan kebiasaan buang air besar di sungai.

Setelah diberikan penyuluhan tentang bagaimana pentingnya mempunyai jamban yang layak di setiap rumah, tindakan selanjutnya yakni mengimbau para warga untuk aktif pada kegiatan kelurahan dan membuat program demi membangun kesehatan bersama.

Pengamat sosial dari Universitas Andalas (Unand) Padang Nursyirwan Effendi mengusulkan, diberlakukan sistem denda bagi masyarakat yang masih buang air besar (bab) sembarangan terutama di sungai. "Saya mengusulkan untuk diberlakukan denda pada mereka yang masih melakukan kebiasaan bab di sungai, untuk memberi efek jera kepada pelaku," katanya.

Usulan tersebut merupakan cara terakhir yang harus dilakukan pemerintah setempat, jika cara-cara sebelumnya tidak dapat menghentikan kebiasaan tersebut. (antara)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus