Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Properti

Apersi: Biaya Tinggi, Daya Beli Makin Rendah

Sabtu, 23 November 2013


JAKARTA-Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) meminta batas penghasilan pembeli rumah bersubsidi dinaikkan. Permintaan tersebut merespons penaikan batas atas harga rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Ketua Umum DPP Apersi, Eddy Ganefo mengatakan, penetapan kenaikan batas atas harga rumah bersubsidi sudah tidak sesuai lagi dengan masyarakat berpenghasilan Rp3,5 juta/ bulan. "Seharusnya, pemerintah juga merevisi aturan bagi warga yang ingin memiliki rumah subsidi. Tidak seperti dulu lagi, terutama batas penghasilan calon pembeli/pekerja harus bergaji Rp 4 juta," kata Eddy, di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan keputusan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) batas harga atas rumah bersubsidi naik dengan kisaran antara Rp105 juta-Rp165 juta dari sebelumnya Rp88 juta-Rp145 juta. Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR-FLPP) baru bisa diajukan jika masyarakat memenuhi beberapa syarat. Persyaratan itu antara lain memiliki penghasilan tetap maupun tidak tetap tidak lebih dari Rp 3,5 juta dan belum pernah memiliki rumah.

"Sekarang biaya makin tinggi, tapi daya beli makin rendah. Kalau batas penghasilan Rp3,5 juta/bulan setidaknya naik menjadi Rp 4,5 juta/ bulan, agar bisa terjangkau membeli rumah," kata Eddi.

Namun demikian, bila ada pekerja yang penghasilannya di bawah Rp3,5 juta/bulan, Kemenpera harus memberikan subsidi lain, seperti bantuan uang muka dan pembebasan pengurusan biaya perizinan pembangunan rumah. (brs/lin)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus