Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Advetorial

Benahi Perekonomian, Gubernur Riau Andi Rachman Tulus Membangun Riau

Sabtu, 23 September 2017

Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman. (Foto:Istimewa)

PEKANBARU-Gubernur Riau H Arsyadjuliandi Rachman MBA teruse memperlihatkan komitmennya di dalam membenahi Provinsi Riau, salah satunya terus berupaya meningkatkan perekonomian di negeri ini. 

Dalam catatan yang ditulis Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Ahmad Hijazi, pekerjaan yang dilakukan Gubernur beberapa tahun lalu, sekarang terasa hasilnya. Begitu juga dengan pekerjaan sekarang akan diketahui hasilnya beberapa tahun kedepan.

"Kerja empat-lima tahun lalu, baru berdampak sekarang. Dan kerja sekarang, baru bisa terlihat empat-lima tahun mendatang," demikian ditulis Ahmad Hijazi, awal Oktober silam.

Menurutnya, pemerintahan yang dipimpin Arsyadjuliandi Rachman saat ini pada kenyataannya adalah Pemerintahan Recovery (cuci piring). "Sumber daya dan tenaga terkuras untuk menyelesaikan sejumlah persoalan masa lalu," tegas Ketua Umum IKA Universitas Riau ini seraya menyebut lima persoalan masa lalu itu.
 
 
Gubernur Arsyadjuliandi Rachman mendampingi Presiden Jokowi meninjau sejumlah proyek pembangunan di Riau, termasuk progres jalan tol Pekanbaru-Dumai. (Foto:Istimewa)
 
Pertama, proyek mangkrak Jembatan Siak 4 yang memerlukan pembenahan administrasi dan kajian teknis ulang. Alhamdulillah, sudah bisa dilanjutkan.

Kedua, pembayaran utang Main Stadion dan infrastruktur dengan segala persoalan pasca OTT pemerintahan sebelumnya, juga sudah mulai diangsur/dibayar yang ternyata cukup menguras belanja APBD, bahkan harus merasionalisasi alokasi belanja penting lainnya untuk kebutuhan masyarakat.

Ketiga, Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau yang berlarut-larut dan menjadi penghambat realisasi investasi. Dibahas dan dikoordinasi bertahun tahun, juga sudah ada kemajuan tinggal pengesahan.

Keempat, permasalahan BUMD terutama RAL yang tidak saja bangkrut dan menimbulkan masalah bagi pemegang saham lainnya, tapi juga banyak beban utang pajak dan sebagainya. Ini harus diurus dan perlu kehati-hatian.

Kelima, puluhan beban akibat pembiaran kasus masa lalu yang inkrach kalah di pengadilan. Kasus-kasus ini harus diurus Pemerintahan Andi Rachman, di antaranya Kasus Tanah Universitas Riau, tanah eks Kanwil Pariwisata dan utang-utang Pasca PON Pemerintahan sebelumnya.

"Itu semua beban pemerintahan saat ini. Persoalannya bagi Pemerintahan Andi Rachman bukan hanya membayar, tapi berat dan harus hati-hati menyelesaikan administrasinya, masalah teknisnya, dampak turunannya. Itu semua diselesaikan dengan komitmen ikhlas membenahi dan membangun Riau," tegas Ahmad Hijazi.

Dikatakan, melihat dan membandingkan perekonomian Riau juga tidak sesederhana yang di-judgment Lukman Eddy, bakal calon Gubernur Riau dalam suatu kesempatan. Perekonomian Riau sudah terbangun dan ditopang sektor Migas, pertanian/perkebunan, dan pertambangan.

"Kita tahu sektor-sektor tersebut sangat rentan dengan pengaruh harga pasar global. Dampaknya sangat terasa bagi Indonesia, tentunya karena Riau share terbesar di sektor-sektor itu, maka Riau yang paling terdampak kontraksi perekonomian," ujar alumni S2 Universitas Airlangga ini.

Hal ini, ungkapnya, juga dapat dilihat dari analisis sektoral. Dengan mengesampingkan sektor Migas, artinya kalau perekonomian Riau tanpa migas angka pertumbuhannya mencapai 4,37 persen. Itu masih dipengaruhi konstraksi sektor pertanian/perkebunan yang kita tahu kontribusinya terhadap perekonomian cukup besar.

"Pemerintahan Andi Rachman sudah berhasil dan terus mendorong pertumbuhan sektor jasa untuk menopang perekonomian daerah agar lebih berdaya tahan," tukas mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam ini.
 
 
Gubernur memperoleh penjelasan dari Dinas PU soal pembangunan infrastruktur di Riau. (Foto:Istimewa) 
 
Bahkan hasil terakhir Analisis BI, tuturnya, diperkirakan mulai Triwulan III Thun 2017 perekonomian Riau mulai membaik, karena ditopang permintaan domestik yang kuat dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi dengan migas sekitar 3, 19 persen, yang didukung peningkatan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah di akhir tahun, dan peningkatan ekspor.

Perekonomian Riau memberikan share terbesar kelima nasional (5,04%) bersama sama DKI Jakarta (17,36 %), Jawa Timur (14,60), Jawa Barat (13,13 %), dan Jawa Tengah (8,6%). Artinya, andil ekonomi Riau terbesar pertama di Sumatera/luar jawa.

"Kalau membandingkan sesuatu itu mestinya apple to apple. Kalau membandingkan ekonomi Riau kurang tepat dengan Sumbar, Jambi, dan provinsi yang berbeda potensi dan keunggulannya. Bandingan Riau adalah Kaltim, dan ternyata kinerja ekonominya hampir sama dengan Riau. Bahkan untuk indikator-indikator tertentu, Riau lebih unggul," ujar pria low profile ini.

Untuk diketahui, serapan APBD Riau sudah membaik. Dari 63 % tahun 2014, 68 % tahun 2015, menjadi 84,19 % tahun 2016. Hasil itu semua dengan kerja keras, memacu program sambil membenahi masalah-masalah masa lalu.

Perencanaan, penganggaran, dan pengelolaan aset yang diurus Pemerintahan Andi Rachman sudah kembali ke track (on the track). Pengelolaan aset dari kondisi amburadul, tidak terinventarisasi, tidak terurus, tidak tertib. Saat ini sudah mulai tertib. Yang sebelumnya belum ada nilai buku yang valid, bertahap dibenahi dari nilai perolehan Rp9 triliun tahun 2015, Rp25 triliun tahun 2016, dan hasil LHP BPK tahun 2017 tercatat dan tervalidasi Rp33 triliun. (adv/hms)


Berita terkait :

    Terkini
    Terpopuler



     
    situs portal berita riau
    fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus