Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Nasional

Beruang Madu Mangsa Dua Kambing Kurban Warga Tanah Datar Sumbar

Minggu, 11 Agustus 2019

Beruang madu mangsa kambing kurban warga. (Foto:Istimewa)

TANAH DATAR-Dua ekor kambing Rosmidar (65), warga Jorong Sungai Salak, Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat mati dimangsa beruang madu. Rosmidar menemukan dua ekor kambing yang rencananya akan dijadikan hewan kurban di hari raya Idul Adha ini mati.

Tampak tubuh kambing tersebut penuh luka robek, Sabtu (10/8/2019) sekira pukul 08.00 WIB. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Tanah Datar menduga, kematian kambing kurban ini disebabkan serangan Beruang Madu. 

Ini setelah banyak ditemukan jejak menyerupai jejak kaki satwa yang memiliki nama latin Helarctos Malayanus itu di sekitar rumah Rosmidar.

"Dua ekor kambing ini merupakan hewan hasil ternak dari warga atas nama Rosmidar. Niatnya, akan dijadikan hewan kurban esok hari. Ditemukan mati tadi pagi," kata Kepala Resor BKSDA Tanah Datar, Ansarul, Sabtu malam.

Dikatakan, kematian dua ekor kambing ini menambah daftar kematian hewan ternak milik warga setempat. Sebelumnya, juga ditemukan kasus kematian serupa. Ada hewan ternak kambing, itik dan ayam. Dugaan sama yakni disebabkan oleh serangan beruang madu.

"Konflik beruang madu di Jorong Sungai Salak ini sudah terjadi sejak Juli lalu. Kita sudah lakukan sejumlah upaya sesuai dengan prosedur yakni, melakukan pengusiran dengan cara membunyikan meriam, patroli hingga pemasangan kandang perangkap atau box trap. Kamera trap juga sudah kita pasang di sejumlah titik," ujar Ansarul.

Meski sudah dilakukan upaya penangkapan, namun masih belum membuahkan hasil. Umpan berupa buah-buahan seperti cempedak dan kelapa diambil dan dimakan dari sisi samping kandang perangkap.

"Kita sudah pasang kandang perangkap. Umpan yang kita kasih dimakan, tapi tidak dari depan, melainkan diambil dari samping kandang. Pun dengan kamera trap yang kita pasang, juga belum merekam aktifitas beruang madu tersebut," kata Ansarul.

Dia menilai, prilaku beruang madu ini agak sedikit berbeda. Biasanya beruang madu, mengkonsumsi buah-buahan. Ini malah sebaliknya, memangsa hewan ternak warga. Yang dimakan hanya bagian hati, jantung dan paha. Analisis sementara, beruang madu mengkonsumsi bagian tertentu dari hewan ternak itu untuk menambah protein.

"Beruang biasanya makan buah-buahan. Ada juga makan bagian organ hewan kecil. Tapi tak banyak. Paling sering itu, ulat tanah dan kumbang yang hidup di kayu. Kalau yang ini memangsa hewan ternak warga. Dan yang dimakan hanya bagian hati, jantung dan paha," ujarnya.

Ansarul berpendapat, terganggunya habitat asli juga menjadi salah satu faktor konflik ini terjadi. Pasalnya, area hutan perbukitan disekitar lokasi yang merupakan hutan lindung dan hutan produksi, sudah banyak beralih ke lahan perkebunan yang ditanam dengan Pinus dan karet.

"Habitat aslinya terganggu. Kawasan itu sudah banyak dijadikan lahan perkebunan. Sebagai antisipasi, kita imbau kepada masyarakat untuk tidak pergi ke kebun sendirian dan selalu membunyikan bunyian yang keras untuk menghalau beruang madu agar tidak mendekat. Kita juga tetap melakukan pengawasan dan upaya lain sesuai dengan prosedur penanganan konflik satwa dilindungi," tukasnya. (*)




Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Viva.co.id


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus