Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Nasional

Bila Gerindra dan PKS Pecah Kongsi, Bagaimana Peta Politik Pilpres 2019

Rabu, 11 Juli 2018

Prabowo Subianto (kiri) bersama Presiden PKS Sohibul. (Foto:Kompas.Com)

JAKARTA-Peta koalisi partai politik menjelang pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden di pemilihan presiden 2019 masih sangat dinamis. Setidaknya, terdapat dua kubu partai politik saat ini yang sudah mengakar. 

Pertama, partai politik pendukung Joko Widodo yang terdiri dari PDI Perjuangan, Golkar, Nasdem, Hanura, PPP, Perindo, PSI dan PKPI. Kedua partai politik di luar itu, yakni Gerindra, PKS, Demokrat, PKB dan PAN. 

Melihat situasi sekarang, Pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio memprediksi, Pilpres 2019 akan menjadi arena pertarungan bagi tiga poros partai politik. Hal ini didasarkan pada PKS yang semula tampak 'mesra' dengan Gerindra, justru semakin menjauh lantaran adanya ketidakinginan Gerindra mengambil calon wakil presiden bagi Prabowo Subianto dari PKS. 

"Kalau misalnya, Gerindra sampai akhir 'kekeuh' mengambil cawapres bukan dari PKS, berarti yang tersisa PKS, PAN dan PKB. Buat mereka, ini berarti hanya dua pilihan saja, mau gabung ke Jokowi atau Prabowo atau bikin koalisi sendiri," ujar Hendri, Rabu (11/7/2018). 

Melihat Partai Demokrat yang getol menyodorkan nama Agus Harimurti Yudhoyono dengan siapa saja di Pilpres 2019, Hendri memprediksi, Gerindra akan bergabung bersama Demokrat dan membentuk poros tandingan Jokowi. Poros ketiga tersebut terdiri dari PKS, PAN dan PKB. Situasi ini, menurut Hendri, tentunya menyisakan persoalan. Sebab, poros tersebut notabene tidak mempunyai tokoh sentral. 

"Kalau jadi bikin koalisi sendiri, poros baru, mereka harus ada tokoh sentral dan satu-satunya tokoh sentral yang tersisa cuma Pak Jusuf Kalla. Beliau lah penentu arahnya nanti," ujar Hendri. 

Prediksi konfigurasi koalisi partai politik tersebut, kata Hendri, akan berubah lagi apabila Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan uji materi atas presidential threshold sebesar 0 persen. Artinya, setiap parpol bisa mengusung pasangan capres-cawapres. 

Coattail Effect Mengenai PKS yang ngotot memajukan kadernya sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo, menurut Hendri, adalah hal yang wajar. Apalagi, PKS mengancam akan pecah kongsi apabila Gerindra tidak menggandeng kadernya. 

Salah satu hal yang jadi pertimbangan, yakni 'coattail effect' atau bagaimana sosok yang diusung di Pilpres mampu mendongkrak perolehan suara pada pemilihan anggota legislatif. Maka tidak heran kalau PKS melakukan 'test the water' dengan mewacanakan sejumlah nama, termasuk mewacanakan Anies Baswedan-Ahmad Heryawan. (*)





Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Kompas.com


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus