Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Pendidikan

Bila Taruna SMK Penerbangan SPN Dirgantara Batam Bermasalah, Jalani Sikap Tobat dan Konseling!

Selasa, 28 November 2017

Prosesi makan nasi tumpeng bersama taruna. (Foto:Indra/FokusRiau.Com)

BATAM-Disiplin merupakan dasar yang diterapkan di SMK Penerbangan SPN Dirgantara, Batam, Kepri. Karena itu, Setiap taruna dan taruni yang melakukan kesalahan fatal, seperti berkelahi, pengeroyokan, keributan atau merusak gedung pendidikan hukumannya selain diberikan konseling semi militer juga sikap tobat.

Ketua Pembina Yayasan Sapta Lencana sebagai pengelola SMK Penerbangan SPN Dirgantara Batam Erwin Depari mengatakan, konseling bertujuan untuk pembentukan mental, disiplin dan jiwa korsa bagi taruna-taruni yang bermasalah atau terkonseling.

"Konseling biasanya diberikan seminggu kepada taruna-taruni yang bermasalah selama menjalani pendidikan di SMK Penerbangan SPN Dirgantara. Selama menjalani konseling, taruna-taruni wajib tinggal di asrama yang berada di lingkungan sekolah," kata Erwin kepada fokusriau.com, Selasa (28/11/2017).

Dijelaskan, selama konseling, taruna-taruni mendapatkan materi dari pelatih anggota Marinir Batalyon 10/Satria Bumi Yudha, Setokok, Barelang. Tiga hari dilatih tentara, sisanya diberikan kepada pembina dan guru-guru di sekolah.

"Ini salah satu contoh kita baru saja minggu lalu melakukan penutupan kegiatan pelatihan dan pembentukan mental, disiplin dan jiwa korsa bagi tujuh taruna yang bermasalah yang terlibat perkelahian di sekolah. Semestinya delapan orang, namun satu orangnya mantan taruna tingkat II Fauzan Azim sudah keluar duluan (drop out)," ujarnya.

Dengan penutupan konseling bagi tujuh taruna ini, menurut Erwin, pihaknya melakukan upacara dengan formasi angka 10 semua taruna-taruni mendapatkan nilai 10 claer terhadap tanjungjawab dan jiwa korsanya. "Seluruh anak kelas III jiwanya berjanji dengan mengambil sikap tobat, sambil bersujud ke bumi selama 1 jam, sambil mendengarkan amanat dari pelatih dan pembina serta guru dan sekalian taruna-taruni membuat perjanjian terakhir kepada pribadinya masing-masing terhadap dia lahir di SPN Dirgantara ini," papar Erwin.

Dikatakan, supaya tidak terjadi perkelahian atau perkelahian satu darah, satu korps atau satu almamater antar taruna baik di luar maupun di lingkungan sekolah selama menjalani pendidikan di sekolah penerbangan yang bekerjasama dengan EASA, lembaga penerbangan internasional.

"Setelah selesai sikap tobat, kita suguhkan nasi tumpeng untuk dimakan bersama-sama taruna-taruna yang berjumlah 173 orang. Tumpeng yang disiapkan harus habis dengan catatan tidak boleh kurang dan tidak boleh tersisa," ungkapnya.

Erwin memaparkan, ketika rekan-rekan mengikuti sikap tobat, sedangkan tujuh taruna yang sebelumnya sudah mengikuti konseling atau taruna yang bermasalah, tidak mengikuti sikap tobat lagi, karena mereka sudah menjalani konseling selama seminggu. 

"Karena sewaktu dididik pelatih dari Marinir selama tiga hari dianggap para taruna tersebut sudah bermental, memiliki kedisiplinan, dan tentunya sudah memiliki jiwa korsa yang baru," tuturnya.

Sedangkan taruna lainnya, sikap tobat menggambarkan saat terjadi permasalahan teman-temannya, dianggap tidak bisa mencegah terjadinya antara niat pribadi dan kesempatan untuk berkelahi atau bermasalah yang melibatkan 7 taruna tingkat III dengan seorang taruna tingkat II yang sudah keluar (DO) dari SPN Dirgantara. 

"Artinya jiwa korsanya tidak dihukum berlatih tetapi mereka mengambil sikap sujud untuk menanamkan jiwa korsanya. Pelatihan ini kita kerjasama dengan anggota Marinir Batalyon 10/SBY yang mengutus dua pelatih yaitu Serka Mar M. Simanjuntak dan Serda Mar Ardi," tukasnya. (indra h piliang)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus