Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Pemkab Bengkalis

Bupati Luncurkan BBN Bioethanol Ramah Lingkungan

Senin, 18 Maret 2013


BENGKALIS-Bupati Bengkalis, H Herliyan Saleh mengharapkan, keberadaan bahan bakar nabati bioethanol yang dihasilkan Kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah bisa dikembangkan dalam masyarakat. Bioethanol berasal dari bahan baku alami kebun dan pertanian masyarakat yang diharapkan mampu mengangkat potensi ekonomi kerakyatan.

“Produk ini harus terus dikembangkan. Sehingga masyarakat pemilik kendaraan bisa mempunyai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan biaya terjangkau. Untuk itu, saya berharap Balitbangda terus mengembangkan BBN bioethanol dengan ketersediaan bahan baku yang memadai di Bengkalis,” kata Herliyan Saleh kepada wartawan usai meluncurkan penggunaan BBN bioethanol di halaman Kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Bengkalis, Senin (18/3).

Dikatakan, bila telah berkembang dengan ketersediaan bahan baku yang cukup, perlu dipikirkan bagaimana membangun stasiun pengisian BBN Bioethanol yang baru di luar Balitbangda. Disarankan, kalau perlu nantinya bisa bekerjasama dengan SPBU atau APMS yang sudah ada di Bengkalis.

“Sekarang stasiun pengisian BBN bioethanol baru ada di Kantor Balitbangda. Ke depan kita berharap, BBN bioethanol menjadi produk unggulan daerah yang dapat dikembangkan. Perlu kerjasama dengan banyak pihak, termasuk masyarakat pensuplay bahan baku, sekaligus mendorong percepatan ekonomi masyarakat dan daerah,” kata bupati.

BBN bioethanol termasuk bahan bakar ramah lingkungan dengan oktan yang sesuai dengan lingkungan dan tidak menimbulkan pencemaran atau polusi.

Kepala Balitbangda, Sopyan Hadi menyebutkan, saat ini produksi biothanol memang belum stabil. Karena tergantung kepada pasokan bahan baku masyarakat. Untuk itu, diharapkan ada kebijakan khusus pemerintah untuk mensubsidi petani yang menjadi pensuplay bahan baku bioethanol, sehingga kelangsungan produksi dapat terjaga.

Dikatakan, tidak tertutup kemungkinan bioethanol akan menjadi bahan bakar primadona. Walaupun sekarang harga jual Rp11.000 perliter, bila ada subsidi tidak menutup kemungkinan harga jualnya dipasaran akan distabilkan, sesuai dengan standarisasi harga BBM atau Pertamax.

“Harapan kita, perlu ada subsidi atau proteksi terhadap kebutuhan bahan baku untuk memproduksi bioethanol ini. Apabila bahan baku mencukupi, otomatis produksi meningkat, dan harga jual ke masyarakat dapat terjangkau oleh konsumen atau pemilik kendaraan,” kata Sopyan. (adv/hms)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus