Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Nasional

Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria Minta Maaf Soal Kebijakan Diskriminatif ke Dokter Romi

Senin, 05 Agustus 2019

Bupati Muzni Zakaria menyambangi Kantor Kemenpan RB. (Foto:Liputan6.Com)

JAKARTA-Bupati Solok Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) Muzni Zakaria menyampaikan permohonan maaf atas kekhilafan dan sikap diskriminatif terhadap dokter gigi Romi Syofpa Ismael.

"Pada kesempatan ini kami atas nama Pemerintah Solok Selatan menyampaikan permohonan maaf atas permasalahan yang terjadi yang mungkin telah melukai hati masyarakat Indonesia," kata Muzni saat menyambangi Kantor Kemenpan RB, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (5/8/2019).

"Khususnya kawan-kawan dari disabilitas," ucap Muzni.

Dikatakan, sebagai manusia biasa tak luput dari salah. Oleh karenanya, ia berkomitmen supaya ke depannya pihaknya akan lebih mengakomodir kebijakan yang berkeadilan.

"Ke depan kita akan lebih memperhatikan, memprioritaskan rasa keadilan publik dalam setiap kebijakan," tegasnya.

Status CPNS dokter gigi Romi dibatalkan Pemkab Solok Selatan karena dianggap tidak bisa menjalankan fungsionalnya karena lumpuh. Kelumpuhan berawal dari tahun 2016, saat Romi melahirkan anak keduanya. Dia lantas mengalami kelemahan pada otot kaki bawah.

Romi pun melakukan aktivitas sehari-hari dengan kursi roda. Meski dalam kondisi tersebut, rutinitas Romi sebagai dokter gigi tak terganggu sedikit pun.

Mengadu ke Mendagri
Pada tahun berikutnya, Romi menyebut, dirinya memiliki keinginan berhenti dari pekerjaannya. Namun, pihak Dinas Kesehatan Solok Selatan menahan dirinya agar tidak berhenti.

"Saya sempat ingin resign, tapi pihak Dinkes Solok Selatan menahan saya agar tidak resign, masih butuh tenaga dokter gigi di puskesmas katanya," ujar Romi, Rabu (24/7/2019).

Romi memberikan satu syarat, dia menginginkan rumah dinas di dekat lokasi sekitar puskesmas di tempat ia bekerja. Hal ini agar akses perjalanan Romi tidak terlalu jauh dari puskesmas. Akhirnya Romi memperjanjang kontraknya selama 2 tahun dan berstatus Tenaga Harian Lepas. Pada tahun 2018, Romi mengadu nasib pada tes CPNS. Romi mendapatkan peringkat 1.

Kemudian dia mengikuti tahapan tes untuk memenuhi berkas kelulusan. Dimulai dari tes kesehatan dan juga tes jasmani dan fisik.

Namun, ketika tes fisik dan jasmani, kata Romi, pihak penyelenggara menilai Romi tidak layak fisik. "Mereka bilang, saya tidak layak melakukan tugas fungsional dokter sehari-hari," ujar Romi

Selain itu, karena kondisi fisik Romi yang mengalami kecacatan pada kaki kiri, Romi harus melakukan tes kesehatan yang agak berbeda dari peserta lainnya. (*)



 
 
Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Liputan6.com


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus