Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Kolom

Caleg Artis Bisa Kurangi Golput?

Selasa, 21 Mei 2013


Oleh: Bambang Arianto*

Sejumlah artis, baik yang senior maupun artis yang mulai naik daun terus menjadi incaran sejumlah partai untuk menjadi caleg mereka pada pemilu 2014. Mereka berharap, popularitas artis dapat mengangkat elektabilitas partai dan raihan kursi parlemen.

Untuk itulah, Bulaksumur Empat Research and Consulting (BERC) kemudian mencoba untuk menggelar survei dengan tema “Politisi Pesohor” yang dimulai tanggal 25 April - 3 Mei 2013. Dah hasilnya, ketika responden diberikan pertanyaan selain berbasis nasionalis dan Islami, apa saja kriteria yang menarik bagi Anda untuk memilih caleg dari partai politik dalam pemilu 2014?

Nyaris sebanyak 29,4 persen responden menjatuhkan pilihannya pada faktor adanya caleg artis dalam parpol tersebut. Sedang yang berdasarkan kriteria banyaknya iklan politik hanya berkisar 26,6 persen. Program kerja partai yang merakyat hanya 19,4 persen, pernah menjadi anggota legislatif atau petahana 7,2 persen dan sama-sama kader partai hanya 17,4 persen. Sebuah bukti psikologis bahwa pemilih lebih menaruh hati pada partai politik yang menyajikan caleg artis sebagai wakilnya diparlemen. 

Survei BERC menyatakan, terdapat 37,1 persen responden yang tidak yakin  bila ditanya apakah partai politik akan mampu menghasilkan tokoh pesohor dari rahim sebuah kaderisasi. Artinya publik lebih wait and see terhadap caleg pesohor yang ditampilkan dan bisa jadi ketika pemilu berlangsung bisa dipastikan mereka akan memilih atau sebaliknya. Hanya 24,4 persen yang yakin bila parpol mampu melahirkan tokoh dari kaderisasi, sedangkan 17,2 persen tidak menjawab dan yang tidak tahu sebesar 21,3persen.
 
“Perilaku pemilih ini perlu dicermati sebagai sebuah perubahan mainstream pemilih akhir-akhir ini yang lebih terbuai dengan popularitas. Artinya, publik merasa artislah sosok yang dia kenal dan tentunya akan mampu menjadi wakil mereka diparlemen. Responden pun banyak yang menyatakan kekecewaan pada kinerja para wakil rakyat selama ini, sehinga banyak responden menilai artis dan bukan artis sama saja ketika duduk diparlemen. Inilah yang membuat mereka lebih memilih caleg artis diantara pilihan lainnya karena faktor kedikenalan artis lebih baik dibanding caleg lainnya.

Berharap para caleg artis akan mampu bertransformasi layaknya beberapa artis yang mampu menjelma menjadi politisi ulung seperti  Nurul Arifin, Tantowi Yahya, Rieke Diah Pitaloka sampai “Miing” Gumelar. Publik pun merasa harus memilih diantara dua pilihan terburuk karena minimnya tokoh populer yang mampu disajikan partai dihadapan rakyat.

Hal inilah yang mengakibatkan pilihan jatuh pada tokoh pesohor, karena secara psikologi lebih mudah diingat. Tapi hal ini harus tetap dimaklumi sebagai upaya menarik pemilih untuk tetap mengikuti jalannya proses pesta demokrasi dan meningkatkan partisipasi masyarakat. Bahkan ada 39.5 persen responden yang akan memilih jalan golput bila tidak ada caleg pesohor atau artis dalam parpol pilihannya nanti padahal KPU saat ini berupaya partisipasi pemilih menjadi 75 persen.

Responden yang tidak menjawab hanya 32,1 persen dan yang tetap akan memilih hanya 19,6 persen dan menjawab tidak tahu 8,8 persen. Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik kaum pesohor untuk saat ini masih sangat efektif untuk mengurangi angka golput. Politisi pesohor pun bisa digunakan partai politik untuk menarik simpati massa mengambang (swing voters) dan non ideologis dengan biaya yang murah karena rata-rata pesohor juga ikut merogoh koceknya demi menaikkan elektabilitasnya.

Magnet politisi pesohor diharapkan mampu membius para pemilih di daerah minus yang selama ini terbuai dengan rayuan iklan politik. Banyak masyarakat yang menilai bahwa tanpa adanya politisi pesohor pemilu dirasakan akan terasa ambar.

Pengumpulan data oleh tim BERC mulai tanggal 25 April - 3 Mei 2013. Sebanyak 440 responden berusia minimal 17 tahun dipilih secara acak menggunakan metode multi stage random sampling di 9 kota besar yaitu DIY, Jawa Tengah, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan dan Bali.

Jumlah responden ditentukan secara acak diambil disetiap kecamatan dalam satu provinsi secara proporsional. Tingkat kepercayaan 95 persen, nir pencuplikan penelitan 4 persen. Kesalahan diluar pengambilan sample dapat mungkin terjadi. Hasil ini tidak dapat dijadikan mewakili seluruh pendapat masyarakat Indonesia. (***)


* Tim Survei Bulaksumur Empat Research and Consulting (BERC) Yogyakarta



Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus