Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Lifestyle

Dinas Kesehatan Ungkap 10 Daerah Endemis Kaki Gajah di Riau, Ini Dia!

Minggu, 22 Oktober 2017

Kaki gajah perlu diantisipasi sejak dini. (Foto:Ilustrasi)

PEKANBARU-Dinas Kesehatan Provinsi Riau mengungkapkan, saat ini ada 10 kabupaten/kota dinyatakan endemis atau belum bebas dari penyakit kaki gajah (filariasis).

"Dari 12 kabupaten/kota di Riau sepuluh di antaranya belum terbebas kaki gajah atau disebut filariasis," kata Kepala Dinas Kesehatan Riau Mimi Yuliani Nazir, Minggu (22/10/2017) di Pekanbaru.

Dikatakan, daerah yang masih endemis tersebut adalah Pelalawan, Kuansing, Kampar, Meranti Siak, Indragiri Hulu,Indragiri Hilir Rokan Hilir dan Bengkalis. Untuk penanggulangan pihaknya sudah melakukan upaya pengobatan. "Daerah endemis filariasis Dumai, Pelalawan dan Kuansing dari 2010 sudah dilakukan pemberian obat massal Dietyl Carbamazin Cytrat (DEC) dan sudah disurvei pusat telah lolos eliminasi filariasis. Hasilnya, baru Dumai yang menerima sertifikat bebas filiriasis, 4 Oktober lalu," urainya.

Namun emikian, pihaknya terus berupaya untuk melakukan eliminasi kaki gajah di setiap kabupaten/kota lainnya dengan penyuluhan dan vaksinasi. Misalkan di Kampar, Meranti, Siak, Inhu, Inhil, Rohil dan Bengkalis dilakukan gerakan minum obat massal sejak 2012.

"Juga sudah disurvei pre Trasmition Assesment Survei (TAS) oleh pusat tahun 2017, seluruhnya lolos pre tas dan selanjutnya menunggu pusat melakukan TAS 1, II dan III, " tuturnya.

Ditambahkan, untuk proses eliminasi kaki gajah pihaknya melakukan pemberian obat DEC secara merata dan diminum seluruh penduduk kecuali ibu hamil dan anak di bawah dua tahun dan orang sedang sakit dalam pengawasan dokter. Tujuannya agar memutus mata rantai penularan. "Tetapi kami ada dua daerah tidak endemis yakni Pekanbaru dan Rokan Hulu, ditambah Dumai dalam proses," tegasnya.

Sekedar informasi, filariasis atau penyakit kaki gajah adalah penyakit zoonosis menular yang banyak ditemukan di wilayah tropika seluruh dunia. Penyebabnya adalah sekelompok cacing parasit nemtoda yang tergolong superfamilia Filarioidea yang menyebabkan infeksi sehingga berakibat munculnya edema.

Gejala yang umum terlihat adalah terjadinya elefantiasis, berupa membesarnya tungkai bawah (kaki) dan kantung zakar (skrotum), sehingga penyakit ini secara awam dikenal sebagai penyakit kaki gajah.

Filariasis biasanya dikelompokkan menjadi tiga macam, berdasarkan bagian tubuh atau jaringan yang menjadi tempat bersarangnya, filariasis limfatik, filariasis subkutan (bawah jaringan kulit), dan filariasis rongga serosa (serous cavity).

Filariasis ditemukan di daerah tropis Asia, Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, dengan 120 juta manusia terjangkit. WHO mencanangkan program dunia bebas filariasis pada tahun 2020. (antara)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus