Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Pemkab Bengkalis

Dinyatakan Aman, Dinkes Bengkalis Resmi Hentikan Survaielans Cacar Monyet

Rabu, 12 Juni 2019

Kepala Dinas Kesehatan dr Ersan Saputra. (Foto:M Rafii/FokusRiau.Com)

BENGKALIS-Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis, Riau secara resmi menghentikan program surveilans ketat di pintu masuk pelabuhan. Hal ini dilakukan setelah tidak ditemukannya indikasi adanya penyakit cacar monyet atau Monkeypox yang masuk Bengkalis. Dengan demikian, Bengkalis dinyatakan aman dari penyakit tersebut. 

“Sejak beberapa hari ini, kita telah melakukan pemantauan di pintu masuk. Hasilnya tidak ditemukan indikasi penyakit Cacar Monyet masuk ke Bengkalis. Kita langsung menghentikan surveilans di pelabuhan,” kata Kepala Dinas Kesehatan dr Ersan Saputra TH melalui Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Alwizar SKM, Selasa (11/6/2019).

Dikatakan, penghentian pengawasan terhadap penyakit Cacar  Monyet didasari indikasi, tidak adanya peningkatan jumlah penderita di Singapura. Kemudian, tidak ada masyarakat Batam sebagai buffer area dari Singapura yang tertular Monkeypox.

“Kemudian dari laporan subveilans aktif seluruh Puskesmas tidak ada pasien yang menunjukkan gejala Monkeypox,” ujar Alwizar.

Dikatakan, sejak tersebar berita penularan penyakit Cacar Monyet di Singapura, Dinas Kesehatan Bengkalis bersama instansi terkait langsung melakukan pengawasan ketat.

Pihak yang terlibat dalam pengawasan Kantor Kesehatan Pelabuhan Wilayah Kerja (KKP Wiker) Bengkalis dan Sungai Pakning, pihak Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) dan UPT Puskesmas.

Dari informasi yang disampaikan Ministry Of Health Singapura (Menteri Kesehatan Singapura, red) tidak ada peningkatan jumlah penderita Monkeypox dari jumlah awal yang terpapar sebanyak 23 orang.

Hal ini disebabkan karena pemerintah Singapura melakukan tindakan karantina (isolasi) yang sangat ketat terhadap 23 penderita tersebut, sehingga penularan kepada yang lain menjadi terputus.

Pada saat kejadian, Pemerintah Kota Batam langsung mengaktifkan alat pemindai suhu tubuh (thermo scanner) di pelabuhan dan juga bandara Sekupang. Demikian juga bandara Sultan Syarif Qasim Pekanbaru.

“Alat tersebut memang wajib ada di Pelabuhan dan Bandara berskala internasional, karena jika terjadi wabah penyakit menular di negara asal penumpang, maka thermo scanner ini menadi alat deteksi dini kepada penumpang, apakah terinfeksi penyakit menular di negara asal nya atau tidak,” ulas Alwizar.

Sementara berdasarkan infromasi dari KKP Wiker Bengkalis thermo scaner di pelabuhan internasional Bandar Sri Seta Raja di Selatbaru mengalami kerusakan. Terkait dengan hal itu, Dinas Kesehatan akan koordinasi lebih lanjut dengan KKP Kelas III Dumai, agar alat tersebut segera diperbaiki. (*)





Penulis: M Rafii
Editor: Boy Surya Hamta


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus