Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Hukum

Divonis 10 Tahun Penjara, 2 Pelaku Pembunuhan Berencana di Bengkalis Ternyata Anak Bawah Umur

Jumat, 05 Oktober 2018

Kedua pelaku hanya bisa tertunduk mendengarkan vonis hakim. (Foto:Tribunpekanbaru)

BENGKALIS-Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bengkalis, Kamis (4/10/2018) kemarin menjatuhkan vonis hukuman 10 tahun penjara kepada dua pelaku penikaman dan pembunuhan seorang lelaki bernama Tri Sutrisno Sijabat (20), warga Kecamatan Pinggir, Bengkalis, Riau.

Kedua pelaku ternyata anak di bawah umur, yakni JL (17) dan RDS (16) juga warga Pinggir. Sidang putusan dibacakan Ketua majelis hakim Zia Ul Jannah didampingi dua hakim anggota Wimmi D Simarmata dan Aulia Fhatma Widhola.

Dalam putusan tersebut, hakim berkeyakinan berdasarkan fakta persidangan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana. Sesuai dakwaan Jaksa Penuntut umum terdakwa melanggar pasal 340 KHUP dengan ancaman 20 tahun penjara maksimal hukuman mati.

Namun karena perkara ini terdakwa anak di bawah umur, maka hukuman maksimal hanya bisa dijatuhkan separuh dari hukuman maksimal orang dewasa. Selain itu, karena terdakwa anak di bawah umur hakim tidak dibenarkan menjatuhi hukuman mati.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, majelis hakim menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara. Setelah pembacaan putusan tersebut, kedua terdakwa diberikan kesempatan untuk berkonsultasi dengan penasehat hukumnya. Dari konsultasi tersebut kedua terdakwa menerima putusan majelis hakim.

Mendengar jawaban ini, Ketua majelis hakim langsung menutup sidang. Majelis sidang kemudian meninggalkan ruang sidang Kartika Pengadilan Negeri Bengkalis. Suasana persidangan berbeda dari sidang pada umumnya.

Saat persidangan anak ini, majelis hakim, Jaksa Penuntut Umum dan penasehat hukum terdakwa tidak terlihat memakai toga dan hanya berpakaian biasa dan rapi. Sementara terdakwa JL dan RDS sejak awal persidangan sampai pembacaan putusan dan diminta berdiri oleh majelis hakim dan lebih banyak menunduk.

Bahkan mereka sempat meneteskan air mata setelah pembacaan putusan. Sementara Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Bengkalis Iwan Roy Carles mengatakan, pihaknya menerima putusan PN Bengkalis. Karena putusan tersebut sesuai dengan tuntutan JPU kemarin.

"Putusannya sudah sesuai dengan tuntutan kita hukuman maksimal untuk perkara terdakwa anak anak ini sesuai ketentuan undang undang nomor 11 Tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak maksimal hukuman hanya 10 tahun," ungkap Roy yang juga Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Bengkalis.

Menurut dia, perkara dengan terdakwa anak ini memang diproses secara meraton. Karena ada keterbatasan waktu penahanan yang dibolehkan. "Sekitar dua minggu persidangan ini kita lakukan secara maraton. Karena kita memiliki keterbatasan waktu dalam penahanan terdakwa," tukasnya.

Sebagai informasi, pembunuhan yang dilakukan kedua terdakwa terungkap setelah warga Desa Semunai, Kecamatan Pinggir menemukan tengkorak dan tulang belulang diduga manusia, Rabu (29/8/2018) lalu.

Temuan tersebut pertama kali oleh pelajar yang melintasi areal perkebunan kelapa sawit milik PT. Adei, tepatnya di blok 126 Divisi 4 Km 1 Base Camp Desa Semunai. Polisi yang mendapat informasi ini langsung menuju lokasi. Kemudian melihat empat tumpukan tulang di atas tanah berada di dalam semak di antara batang kelapa sawit.

Tidak hanya itu setelah melakukan olah TKP berjarak hanya beberapa meter dari temuan tersebut, petugas kembali menemukan tulang belulang beserta sehelai celana pendek berwarna hitam motif kotak kotak.

Pada celana yang ditemukan ini terpasang sebuah ikat pinggang kulit warna hitam. Selain itu, dalam saku celana bagian belakang ditemukan juga sebuah cincin berwarna silver keemasan motif domino.

Tidak jauh dari sana juga ada ditemukan baju kaos lengan tiga perempat warna hitam merk Jimboss bermotif sablon kompas Dari hasil olah TKP, petugas langsung mengumpulkan tulang belulang dan membawanya ke RSUD Duri untuk visum.

Penemuan tengkorak manusia ternyata sampai ke telinga Marta Lena Marbun (46), warga Desa Semunai yang terdetak hatinya untuk memastikan tengkorak yang ditanemukan tersebut.

Pasalnya Marta Lena sudah hampir tiga bulan tidak mendapat kabar anaknya yang pamit dari rumah untu pergi pekerja. Marta Lena Rabu petang itu langsung mendatangi tempat penemuan tulang belulang yang saat itu sedang diolah TKP oleh petugas.

Dia terkejut saat melihat pakaian yang berada disekitaran TKP persis dengan pakaian yang digunakan anaknya saat tanggal 25 Mei 2018 pamit padanya untuk pergi bekerja memuat sawit.

Mengenali pakaian yang berada di tempat penemuan tulang belulan, Marta Lena menanyakan keberadaan tulang belulang yang di temukan oleh petugas. Petugas Polsek Pinggir yang saat itu sedang berada di TKP mengatakan tulang belulang dan tengkorak sudah di bawa ke RSUD Duri.

Memastikan tulang belulang yang ditemukan ini merupakan anaknya yang hilang, petugas di lapangan meminta Marta Lena membuat laporan tertulis ke Polsek Pinggir.

Kapolsek Pinggir Kompol Ernis Sitinjak mengungkapkan, dari laporan Marta Lena ini anaknya Tri Sutrisno Sijabat (20) sudah tiga bulan hilang tanpa kabar. Keterangan ibu korban terakhir kali Tri Sutrisno pamit padanya Sekitar pukul 08.00 WIB berangkat bekerja sebagai buruh sawit dengan mengunakan sepeda motor pada tanggal 25 Mei 2018 lalu.

Sejak hari itu korban tidak kunjung pulang ke rumah. Kemudian bos korban mendatangi Marta Lena tiga hari setelah korban pamit bekerja kepada Marta Berdasarkan laporan ini Polsek Pinggir langsung melakukan penyelidikan terhadap laporan Marta Lena.

Petugas langsung mengali informasi terakhir keberadaan korban sebelum menghilang tanpa kabar. Dari hasil penyelidikan dan pemeriksaan saksi sebelum korban hilang mengetahui korban terakhir bertemu dengan dua rekannya JL (17) dan RDS (16) yang merupakan warga PT Adei Utara Base Camp Desa Semunai.

Memastikan hal ini petugas Polsek Pinggir langsung melakukan penjemputan terhadap dua rekan korban ini sekitar pukul 20.00 WIB atau dua jam setelah penemuan tengkorak korban. Kemudian petugas melakukan interogasi terhadap rekan korban di Mapolsek Pinggir.

Hasil Interogasi petugas dua orang rekan korban mengakui telah melakukan pembunuhan terhadap Tri Sutrisno. Bahkan kendaraan korban telah jual dua rekannya dengan harga dua juta rupiah.

Pembunuhan terhadap Tri Sutrisno dilakukan bermotif dendam. Pengakuan dua pelaku, korban sering berkata kasar kepada mereka. Pembunuhan Tri Sutrisno sendiri tergolong berencana. Nyawa korban dihabisi menggunakan pisau sangkur milik ayah RDS yang sudah disiapkan sekitar pukul 19.00 WIB, Jumat (25/5/2018) lalu.

Saat itu, kedua pelaku awalnya berniat menemui korbannya di rumah korban dengan membawa pisau sangkur yang sudah disiapkan. Keduanya mengajak korban membeli tuak. Tuak yang dibeli diminum bersama di area perkebunan PT Adei oleh ketiganya.

"Sekitar 20 menit setelah minum tuak, antara pelaku JL dan korban terjadi perkelahian mulut," kata Kapolsek.

Secara tiba-tiba tersangka JL langsung mencabut pisau dari pinggangnya dan menusuk ke arah kepala korban sebelah kanan sebanyak satu kali. Saat tertikam pisau kepala korban mengeluarkan darah yang cukup banyak. Korban sempat meminta tolong dibawa berobat.

Namun JL malah menusuk kembali ke arah leher sebelah kiri dan korban pun jatuh dan menggelepar. Melihat kondisi korban kritis, keduanya menunggu sampai korban meninggal dunia.

Selanjutnya, kedua pelaku mengangkat korban menjauh dari TKP penusukan berjarak sekitar 15 meter. "Kedua tersangka lalu menutupi badan korban dengan pelepah kelapa sawit agar tidak tampak. Kemudian darah korban yang berceceran di TKP ditutup dengan menggunakan pasir," tambahnya.

Kendaraan korban diambil Kedua tersangka ini. Lalu dijual seharga Rp2 juta. Keduanya bahkan sempat melarikan diri ke Medan menggunakan hasil penjualan sepeda motor tersebut sebelum kembali ke Pinggir. (*)








Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Tribunpekanbaru


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus