Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Hukum

Dugaan Tipikor Drainase Jalan Soekarno-Hatta Pekanbaru, Kejaksaan Tetapkan 5 Tersangka

Rabu, 10 Oktober 2018

Pembangunan drainase di Jalan Soekarno-Hatta. (Foto:Ilustrasi)

PEKANBARU-Kejaksaan Negeri Pekanbaru menetapkan lima tersangka dalam perkara korupsi pembangunan drainase paket A di Jalan Soekarno-Hatta, Pekanbaru. Dalam perkara tersebut, kerugian negara yang ditimbulkan akibat perbuatan tersangka mencapai Rp2.523.979.195.

Kelima tersangka diketahui adalah Direktur Utama PT Sabar Jaya Karyatama berinisial SJ, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) berinisial ICS, Konsultan Pengawas CV Siak Pratama Enginering Consultan berinisial IS, Ketua Pokja berinisial WS dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) berinisial RAP.

Kepala Kejari Pekanbaru Suripto Irianto mengatakan, penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik melakukan gelar perkara, Selasa (9/10/2018) kemarin. "Kita gelar bersama penyidik kemarin," ujar Suripto kepada wartawan, Rabu (10/10/2018).

Drainase Paket A dibangun mulai dari simpang Jalan Riau-Simpang SKA Pekanbaru. Proyek tersebut menggunakan APBD Riau Tahun Anggaran (TA) 2016 pada Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Sumber Daya Air Riau dengan nilai pagu Rp14.314.000.000. 

PT Sabarjaya Karyatama merupakan pelaksana pekerjaan. Adapun nilai penawaran yang diajukan PT Sabarjaya Karyatama adalah Rp11.450.609.000. Suripto didampingi Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Pekanbaru Sri Odit Megonobdo menyebut, terjadi penyimpangan dalam pembangunan drainase tersebut. 

Modusnya, ada beberapa pekerjaan yang tidak sesuai dengan kontrak, padahal dana sudah dicairkan 100 persen. Berdasarkan audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Riau ditemukan kerugian miliaran rupiah. "Kerugian negara sebesar Rp2.523.979.195. Dari sini terdapat alat bukti untuk menetapkan tersangka," ujar Suripto.

Akibat perbuatannya, kelima tersangka dijerat dengan Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-undang (UU) Tahun 1999 Psebagaimana diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Selanjutnya, menurut Suripto, kejaksaan akan mengundang tersangka untuk kembali dimintai keterangan dalam rangka melengkapi berkas. Dia meminta penanganan perkara ini cepat dilimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan. "Penanganan perkara ini cukup singkat, hanya satu bulan. Kita minta tim bekerja cepat, jangan ditunda-tunda hingga bisa cepat selesai," ujarnya.

Dalam penyidikan perkara ini, puluhan saksi telah dipanggil guna menjalani pemeriksaan. Mereka terdiri dari sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pihak rekanan. 

Selain memeriksa saksi fakta, penyidik juga telah menurunkan ahli untuk mengecek fisik proyek pada akhir Juni 2018 lalu. Proses cek fisik tersebut dilakukan tim ahli dibantu tenaga dan alat-alat dari Pidsus Kejari Pekanbaru.

Dalam perkara itu, dugaan penyimpangan sudah ada sejak proses tender dilakukan. Sejumlah pihak diduga melakukan pengaturan lelang untuk memenangkan salah satu perusahaan dalam kegiatan tersebut.

Dalam pengaturan itu, terdapat uang pelicin sebesar Rp100 juta. Uang tersebut disita dari Kelompok Kerja (Pokja) di Unit Layanan Pengadaan (ULP) Provinsi Riau. Mereka mengembalikan uang tersebut, Selasa (5/6/2018) lalu, setelah perkara ini disidik penyidik Pidsus Kejari Pekanbaru. (*)






Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Cakaplah


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus