Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Kolom

Guru Kian Terluka

Rabu, 26 September 2012


Oleh: Dodi Syahputra*
Hampir menjadi diktum umum, setiap pejabat berganti berganti pula kebijakan. Khusus di dunia pendidikan, hal ini terus terjadi. Setiap menteri berganti, setiap Kadinas berganti nama, ada saja kebijakan baru yang katanya menyegarkan kualitas, namun memuramkan bagi tenaga pengajar.
 
Sertifikasi guru. Guru bersertifikat atau berkompetensi sejalan dengan UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 serta aturan turunannya. Tak paham saya secara keseluruhan. Menuliskan jerit tangis guru ini rasanya penting sangat. Sangat pentingnya sebab saya mengenyam bersama para guru ini di kampus yang sama.
 
Akhir Juli lalu, misalnya diganyang para guru dengan ujian kompetensi atau ujian kemampuan secara terhubung di dunia maya. Perangkatnya, komputer online. Ini terlihat berat dan memberatkan. Para guru, dalam konteks selaku fasilitator kognitif atau keilmuan, harusnya bisa mengoperasikan komputer. Harusnya.
 
Sayang sekali, komputer online, jauh dari sistem kerja yang diketahui oleh para guru ini. Guru, di pedalaman dengan guru di kota besar, jelas berbeda kemampuannya di bidang penguasaan alat atau sarana ujian kompetensi ini. Tidak bisa disamakan begitu saja. Sayangnya, tak ada kata ampun. Pukul rata. Kalaulah masalah materi keilmuan menjadi persoalan ketimpangan kemampuan, barangkali kita bisa paham bahwa guru yang rendah kompetensi tidak mengupgrade kemampuan mereka.
 
Namun, di bidang sarana ujian ini, saya sangsikan. Kemampuan guru mesti dikategorikan; guru tua, guru muda, guru di kota, guru di desa, guru dengan pengalaman hidup dekat dengan kemajuan zaman dibandingkan dengan daerah sulit, jelas beda. Berkali-kali dinyatakan ujian kompetensi guru gagal akibat perangkat yang menjadi sarana ujian gagal terhubung ke server nasional. Ah!
 
Apa pula ini? Sudahlah untuk mendapatkan uang sertifikasi yang besarnya sama dengan gaji guru harus susah payah luar biasa, kini guru dihukum harus melewati standar kemampuan dengan ujian yang tak berkemampuan. Inilah runyamnya. Bertambah pejabat di atas sana, bertambah pula kebijakan menyeluruh secara nasional. Apakah kebijakan di Kemendikbud itu hanya untuk menunjukkan bahwa para pejabat tinggi itu berkemampuan? Entahlah.
 
Sertifikasi, awalnya menjadi hal yang sangat diharapkan para tenaga pengajar yang kini telah profesional. Profesi guru tidak lagi berlabel Oemar Bakri. Guru sudah digaji dan diberikan balasan kerja yang sesuai. Tentu, khusus bagi guru yang berstatus pegawai negara. Sementara, yang honor makin susah hidupnya. Ini kenyataan. Ada guru honor berjam mengajar sama dengan guru pegawai negara bergaji Rp400 ribu saja.
 
Inilah Indonesia. Kekhawatiran kita soal mutu pendidikan yang kian anjlok, dengan rata-rata kualitas pendidikan dunia yang makin jauh ke bawah. Kampus-kampus ternama kita pun posisinya di level tengah Asia Tenggara. Salahkah dosen dan guru? Jangan cepat mengambil simpulan. Salah dan benar itu dari kategori mana dulu.
 
Banyak guru yang tak mau menampilkan identitasnya, saat ditanyai apakah sertifikasi yang diterimanya sudah sesuai harapan, menjawab ketus. Ada potongan, bahkan sebulan sertifikasi, alasan untuk operasional dinas. Sementara tanda tangan di amprah harus penuh 12 bulan. Lalu, ada yang pagi mengajar di sekolah asal, siang di sekolah ujung negeri, sore hari sampai mengajar di sekolah lain lagi.
 
Ini demi 24 jam. Syarat harus mengajar 24 jam di mata pelajaran yang sama dan strata sekolah yang sama sungguh memusingkan. Di kota, misalnya, yang gurunya berlebih, bahkan ada kesepakatan tak tertulis, sertifikasi seluruhnya, tapi dibagi dua. Bagaimana pula caranya itu, entah!
 
Kalau hal ini dibiarkan terus hancurlah mutu pendidikan kita. Mengejar 24 jam sama artinya tak lagi bisa berkomunikasi dengan sekolah induk atau sekolah asal. Kejar-mengejar jam mengajar menjadi susah untuk berkeluh-kesah, berbagi cerita.
 
Sebuah kertas bertuliskan tentang sertifikasi saya terima dari seorang teman. Guru di Agam. Katanya, inikah arti sertifikasi?
 
”Tidak ada waktu lagi untuk berbagi dengan teman-teman satu sekolah, membezuk teman yang sakit, berbagi suka dan duka. Apalagi waktu melihat keluarga yang terbaring sakit atau bahkan meninggal dunia. Waktu kami para guru sertifikasi, habis untuk mengajar sampai ke ujung negara.”
 
Ulasan terakhirnya di setengah halaman kertas kuarto itu, inikah arti sertifikasi? Entahlah. Sekarang guru sudah lelah. Menunggu kebijakan, pejabat baru. Bertambahlah beban ini.
 
* Alumni FT Universitas Negeri Padang


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler
      Selasa, 17 September 2019 - 20:10:50 WIB
      Selasa, 17 September 2019 - 17:23:19 WIB
      Selasa, 17 September 2019 - 17:04:32 WIB
      Selasa, 17 September 2019 - 15:42:31 WIB
      Selasa, 17 September 2019 - 12:38:08 WIB


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus