Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Utama

Habitat Gajah dan Harimau Sumatera di Taman Nasional Tesso Nilo Pelalawan Riau Aman

Rabu, 14 Agustus 2019

Kawasan hutan TNTN terbakar. (Foto:Tribunpekanbaru)

PEKANBARU-Sepekan lebih kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Kabupaten Pelalawan, Riau terbakar. Kawasan TNTN merupakan merupakan habitat asli satwa endemik gajah sumatera (elephas maximus sumatranus), harimau sumatera, tapir, beruang dan lainnya. 

Sekarang, kawasan konservasi itu terbakar dan menimbulkan kabut asap yang menyebar di hutan dan permukiman warga sekitar lokasi. Lalu bagaimana kondisi satwa endemik di TNTN?

Kepala Balai TNTN Halasan Tulus memastikan, gajah Sumatera liar di TNTN dalam kondisi aman. Tetapi ada delapan gajah sumatera jinak di camp Flying Squad yang dipindahkan ke tempat lebih aman, karena asap cukup pekat di lokasi. 

"Kita ada memelihara delapan ekor gajah jinak binaan Balai TNTN. Memang kita pindahkan ke tempat yang lebih aman betul. Tapi seperti biasanya kita bawa ngangon juga. Karena di dalam hutan kita juga tanam tanaman pakan untuk mereka (gajah)," kata Halasan, Rabu (14/8/2019). 

Delapan gajah jinak ini digunakan untuk menangani konflik gajah liar yang masuk ke kebun masyarakat. Selain itu juga digunakan untuk atraksi hiburan bagi pengunjung wisatawan. "Saat ini kondisi delapan gajah jinak sehat-sehat semua. Gemuk-gemuk," ujar Halasan. 

Sementara kondisi gajah liar saat ini masih aman. Sebab, kebakaran tidak sampai ke zona inti TNTN. "Yang terbakar di TNTN itu bukan di hutan. Tapi cuma semak-semak belukar di pinggirnya yang sudah dirambah. Dan gajah liar posisinya di hutan alam atau kawasan inti. Sampai sekarang belum ada terbakar, belum terganggu," kata Halasan. 

Salah satu titik api di kawasan TNTN terdapat di wilayah Desa Bukit Kesuma, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten  Pelalawan. Namun, kata Halasan, jarak titik api ke kawasan inti masih sangat jauh. "Jaraknya 10 kilometer lagi dari hutan alam," sebutnya. 

Dikatakan, pengolahan TNTN diberlakukan sistem zonasi. Ada zona inti, zona rehalibitasi, zona trasional dan ada juga zona reliji. "Yang terbakar itu di zona rehalibitasi. Ya, memang sudah terbuka. Ada kebun sawit masyarakat di sana. Zona ini bekas HPH (hak penguasaan hutan) yang merupakan penambahan dari luasan TNTN.

Jadi bukan hutan alamnya yang terbakar," sebut Halasan. Dia menambahkan, selain mengurus satwa dilindungi itu, pihaknya juga ikut membantu pemadaman karhutla di kawasan TNTN. "Kita ada tim yang ikut membantu tim satgas karhutla untuk memadamkan api," kata Halasan. (*)




Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Kompas.com


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus