Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Sumbar

Jebol Sejak Lima Tahun Lalu, Semen Padang Normalisasi Intake Baringin

Selasa, 30 Juni 2020

Dari kiri; Kadep Komunikasi & Hukum PT SP Oktoweri, Camat Luki Yalmasri, Ka Unit CSR M Ikrar. (Ist)

PADANG- Masyarakat petani di Baringin, Tarantang  dan sekitarnya dalam beberpa waktu ke depan tidak bakal kekeringan lagi. Pasalnya, intake Baringin yang jebol sekitar lima tahun lalu, dinormalisasi oleh PT Semen Padang.

Ketua KAN Lubuk Kilangan Basri Dt Rajo Usali menyebutkan, normalisasi intake ini sudah lama diimpikan oleh para petani di Baringin dan Tarantang, karena sejak intake jebol akibat banjir bandang beberapa tahun lalu, para petani tidak bisa lagi menggarap sawahnya untuk ditanam padi.

“Ya, sejak intake Baringin ini jebol, sekitar 5 tahun para petani tidak menggarap sawahnya, karena aliran air yang masuk ke sawah terputus. Bahkan, banyak sawah yang menjadi lahan tidur. Jadi dengan adanya normalisasi ini, tentu ke depan para petani akan kembali memanfaatkan sawahnya untuk ditanami padi,” katanya saat mendampingi rombongan Semen Padang meninjau proses pengerjaan normalisasi Intake Baringin, Selasa, (30/6/2020)..

Wajar, normalisasi oleh PT Semen Padang disambut antusias masyarakat Lubuk Kilangan, Kota Padang, karena normalisasi intake yang berada di aliran Batang Arau itu, akan membuat sekitar 120 Ha lahan sawah dan kolam ikan yang berada di Baringin dan Tarantang, akan dialiri air.

"Alhamdulillah, normalisasi ini bermanfaat bagi petani dan pembudidaya ikan yang ada di Baringin dan Tarantang," kata Bustami, salah seorang tokoh masyarakat Lubuk Kilangan.

Camat Lubuk Kilangan Yalmasril, mengapresiasi PT Semen Padang yang telah menormalisasi intake Baringin. Kata dia, normalisasi intake ini sangat membantu beban Pemerintah Kota (Pemko) Padang dalam mengatasi kebutuhan air untuk pengairan sawah di Baringin dan Tarantang.

"Normalisasi intake Baringin ini sangat meringankan beban Pemko Padang, karena memang sebelumnya, Pemko Padang sudah berupaya menganggarkan dana untuk normalisasi intake Baringin, tapi sampai sekarang anggarannya belum tuntas-tuntas juga," katanya.

Yalmasril juga menuturkan bahwa kerusakan intake Baringin akibat banjir bandang beberapa tahun lalu itu membuat sawah dan kolam ikan mengering. Bahkan informasi dari Dinas pertanian, jumlah lahan dan kolam ikan yang mengering mencapai 120 ha.

Kepala Unit CSR Semen Padang Muhamad Ikrar mengatakan bahwa normalisasi intake Baringin ini merupakan bagian dari Program Khusus Nagari yang diinisiasi bersanama KAN Lubuk Kilangan, dan program khusus ini direalisasikan untuk Nagari Lubuk Kilangan dalam beberapa bentuk kegiatan sejak 2019 lalu.

"Program khusus berupa normalisasi intake ini sudah dimulai sejak 2019, yaitu normalisasi sungai (pembersihan delta) secara swakelola dan penyusunan batu-batu di pinggir sawah. Kemudian untuk tahun ini, pembuatan bronjong sepanjang 175 meter dan pembuatan Intake saluran air ke Baringin dan Tarantang.  Lama pengerjaannya 90 hari dengan total anggaran Rp1,5 miliar," katanya.

Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi & Hukum Perusahaan PT Semen Padang Oktoweri mengatakan, Program Khusus Nagari berupa normalisasi intake ini merupakan jantung perekonomian bagi masyarakat, dan itu bukan hanya masyarakat Baringin dan Tarantang, tapi juga buat daerah lainnya.

"Di tahun 2020 ini, ada empat Program Khusus Nagari yang direalisasikan. Intake Baringin adalah yang terbesar di tahun ini. Setelah intake, program khusus lainnya adalah air bersih, dan ini akan bergulir terus ke program lainnya," kata Oktoweri.

Oktoweri juga menuturkan bahwa realisasi Program Khusus Nagari ini juga dilatar belakangi oleh kekayaan sumber daya alam di Lubuk Kilangan. Di samping adanya bahan baku pembuat semen seperti batu kapur, tanah liat dan silika, di Lubuk Kilangan juga dikaruniai sumber air yang berlimpah dan tanah yang subur.

"Sebagai wujud syukur kita, maka kita manfaatkan sumber daya yang ada. Seperti sumber air misalnya, kami manfaatkan untuk mengaliri sawah petani atau masyarakat lingkungan, karena sumber air tersebut juga mendorong perekonomian mashyarakat untuk tumbuh," katanya. (*)


Editor: Boy Surya Hamta



Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus