Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Berita Islami

Karomah Syekh Abdul Wahab Rokan, Ulama Sufi yang Dikeramatkan (Bag. 2)

Jumat, 01 September 2017

Syekh Abdul Wahab Rokan. (Foto:Istimewa)

ROKAN HULU-Kini perkampungan yang dibangun tersebut semakin berkembang dan akhirnya diberi nama Kampung Babussalam yang berarti pintu keselamatan. Masyarakat umum sering menyebutnya Bassilam atau Besilam. Kampung Basilam atau Babussalam ini dibangun Syekh Abdul Wahab pada 1811-1926. 

Demikian pula nama pesantren dan masjidnya serta kegiatan tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang dipimpin Syeikh Abdul Wahab yang kemudian dikenal dengan sebutan Suluk Bassilam. Sebagai seorang ulama sufi, Syekh Abdul Wahab Rokan cukup dikeramatkan penduduk setempat. Sejumlah cerita keramat tentang beliau cukup populer di kalangan masyarakat Langkat. 

Di antara karomah beliau yang paling populer adalah ketika diadakannya gotong-royong membangun anak sungai di Kampung Babussalam. Nasi bungkus yang rencananya akan dibagikan kepada peserta gotong-royong ternyata kurang. Nasi yang tersedia hanya 40 bungkus, sementara para pekerja berjumlah ratusan. 

Melihat itu, Syekh Abdul Wahab menyuruh petugas mengumpulkan kembali nasi yang sudah sempat dibagikan dalam sebuah bakul. Kemudian ia menutupi bakul itu dengan selendangnya dan berdoa. Beberapa saat setelah itu, para petugas kemudian membagikan kembali nasi bungkus itu, dan ternyata jumlahnya berlebih. 

Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan juga dikenal bisa mendorong perahu-perahu dengan mudah, padahal perahu-perahu itu sangatlah berat dan tak mampu didorong oleh seorang saja. Kisah lain, pada saat masa masa penjajahan, Belanda mencurigai Syeikh Abdul Wahab karena tidak pernah kekurangan uang. Lantas Belanda menuduhnya telah membuat uang palsu.

Karena merasa tersinggung, Syekh Abdul Wahab meninggalkan Kampung Babussalam dan pindah ke Sumujung, Malaysia. Pada saat hijrah itulah beliau menyempatkan waktu mengembangkan tarekat Naqsyabandiyah di Malaysia.

Selama kepergian Syekh Abdul Wahab, konon sumber-sumber minyak BPM Batavsche Petroleum Matschapij (sekarang bernama Pertamina) di Langkat menjadi kering. Kepah dan ikan di lautan Langkat juga menghilang sehingga menimbulkan kecemasan para penguasa Langkat. 

Akhirnya Syekh Abdul Wahab dijemput dan dimohon untuk kembali ke Babussalam. Setelah itu, sumber minyak pun mengalir dan ikan-ikan bertambah banyak di lautan. Kaum buruh dan nelayan senang sekali.

Syekh Abdul Wahab juga dikisahkan pernah ikut dalam peperangan melawan Belanda di Aceh pada tahun 1308 H atau bertepatan tahun 1891. Menurut cerita dari pihak Belanda yang saat itu sempat mengambil fotonya, Syekh Abdul Wahab Rokan mampu terbang di angkasa. Kemudian menyerang dengan gagah perkasa dan tidak dapat ditembak dengan senapan atau meriam. 

Setelah Beliau wafat pada tahun 1926 dalam usia 115 tahun, banyak orang yang berziarah dan bernazar ke makamnya. Bertepatan dengan hari wafat Tuan Guru Syeikh Abdul Wahab Rokan diadakan acara haul besar peringatan wafat Tuan Guru Pertama, yakni pada tanggal 21 Jumadil Awal setiap tahunnya. 

Pada momen ini ribuan pengikut dan peziarah dari pelosok Indonesia dan sejumlah negara Asia datang berbondong-bondong ke Besilam. Selain mengikuti acara dzikir bersama, peziaroh juga bersilaturahmi dengan penerus Tuan Guru Besilam. 

Saat itulah Kampung Besilam yang biasanya teduh dan tenang mendadak menjadi sibuk karena kedatangan ribuan murid, peziarah, ulama hingga para wisatawan. Bagi masyarakat Sumatera Utara, Besilam sangat dihormati karena sosok Tuan Syekh Abdul Wahab rokan.

Setelah berpulangnya Tuan Guru Babussalam Syekh Abdul Wahab Rokan, ajaran Tarikat Naqsabandiyah terus diamalkan oleh murid yang menggantikan perannya sebagai penyiar Islam di tanah Langkat. Keadaan kampung Besilam sangat tenang, berada jauh dari pusat keramaian, dan hanya dikelilingi oleh perkebunan.

Sehingga banyak orang memilih Kampung Besilam sebagai tempat tarekat dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebuah pesantren pun berdiri kokoh di tengah kampung. Selain itu terdapat dua masjid, salah satu kompleksnya menjadi makam bagi Syekh Abdul Wahab. Satunya lagi merupakan masjid yang digunakan para santri dan warga kampung untuk beribadah.

Keistimewaan Syekh Abdul Wahab adalah ketika sibuk memimpin Tarekat Naqsyabandiyah, ia masih menyempatkan diri menuliskan pemikiran sufistiknya, baik dalam bentuk khutbah-khutbah, wasiat, maupun syair-syair yang ditulis dalam aksara Arab Melayu. 

Tercatat ada dua belas khutbah yang ia tulis dan masih terus diajarkan kepada jamaah di Babussalam. Wasiat atau yang lebih dikenal dengan nama “44 Wasiat Tuan Guru” adalah kumpulan pesan-pesan Syekh Abdul Wahab kepada seluruh jamaah tarekat, khususnya kepada anak cucu dan keturunannya. 

Karya tulis Syekh Abdul Wahab dalam bentuk syair, terbagi pada tiga bagian yakni Munajat, Syair Burung Garuda dan Syair Sindiran. Syair Munajat yang berisi pujian dan doa kepada Allah, sampai hari ini masih terus dilantunkan di Madrasah Besar Babussalam oleh setiap muazzin sebelum azan dikumandangkan. 

Dalam munajat itu tampak keindahan syair Syekh Abdul Wahab dalam menyusun secara lengkap silsilah Tarekat Naqsyabandiyah yang diterimanya secara turun temurun yang terus bersambung kepada Rasulullah SAW. Sedangkan Syair Burung Garuda berisi kumpulan petuah dan nasehat yang diperuntukkan khusus bagi anak dan remaja. 

Sayangnya, sampai saat ini Syair Burung Garuda tidak diperoleh naskahnya lagi. Sementara itu, naskah asli Syair Sindiran telah diedit dan dicetak ulang dalam Aksara Melayu (Indonesia) oleh Syekh Haji Tajudin bin Syekh Muhammad Daud Al-Wahab Rokan pada tahun 1986. (boy surya hamta)

Sumber:
- Sejarah Syekh Abdul Wahab Tuan Guru Babussalam, Pustaka Babussalam.
- Sindonews.com
- Diolah dari berbagai sumber.


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus