Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Utama

Kelemahan Virus Corona Mulai Terkuak, Tak Tahan Suhu Panas dan Pelarut Lemak

Selasa, 07 April 2020

Ilustrasi. (Foto:Istimewa)

PEKANBARU-Kelemahan virus corona Covid-19 mulai terungkap. Virus ini bisa mati, terutama kala berhadapan dengan sabun. Kelemahan virus corona dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai upaya pencegahan.

Pasalnya masyarakat tengah khawatir dengan peningkatan kasusnya. Sampai Senin kemarin,  tercatat 1.282,383 kasus Covid-19 di seluruh dunia dan 70.183 meninggal. Di Indonesia, total kasus Covid-19 menjadi 2.491 kasus dan tercatat 209 orang meninggal.

Padahal, Covid-19 baru terdeteksi Desember 2019 di Wuhan China. Meski menakutkan, namun virus corona memiliki kelemahan yang bisa dimanfaatkan untuk mencegah penularan, sehingga risiko tertular bisa lebih rendah.

Sejauh ini, para ilmuwan, peneliti dan petugas kesehatan telah menyusun cara mencegah penularan Covid-19 melalui kelemahan-kelemahan tersebut.

Satu hal yang membuat banyak orang khawatir soal Covid-19 karena belum adanya obat maupun vaksin yang memang dikhususkan untuk mengatasi dan mencegah penyakit ini. Karenanya, cara terbaik yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dengan melakukan pencegahan semaksimal mungkin.

Meski menyebar dengan cepat, virus corona juga masih punya kelemahan yang bisa dimanfaatkan untuk memutus rantai penularan.

Lalu apa saja kelemahan virus corona?

1. Mudah hilang dengan pelarut lemak
Apa itu pelarut lemak? Ya betul, pelarut lemak adalah sabun yang sehari-hari kita gunakan. Virus corona, bisa hancur dan mati jika terkena sabun. Itulah sebabnya, kita dianjurkan untuk rajin cuci tangan dengan air dan sabun untuk mencegah infeksi Covid-19.

Lalu, mengapa sabun efektif untuk membunuh virus corona?

Jawabannya ada pada susunan virus itu sendiri.

Virus corona pada intinya tersusun atas tiga bagian, yaitu:
- DNA atau RNA yang menjadi inti dari virus
- Protein yang merupakan bahan baku virus untuk memperbanyak diri
- Lapisan lemak sebagai pelindung luarnya

Ketiga bagian tersebut sebenarnya tidak terikat dengan kuat satu sama lain. Sehingga, saat lapisan lemak tersebut hancur karena sabun, maka virus tersebut pun akan hancur dan mati.

Jadi, imbauan untuk mencuci tangan adalah langkah yang valid dan sangat efektif untuk mencegah penularan Covid-19. Jika Anda rajin cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, maka kemungkinan virus berpindah dari tangan dan masuk ke dalam tubuh akan berkurang drastis.

2. Bisa dikalahkan antibodi
Infeksi Covid-19 bisa terjadi dalam beberapa tingkat keparahan, mulai dari yang ringan hingga parah. Pada pasien Covid-19 yang memiliki gejala ringan, infeksi ini bisa sembuh dengan sendirinya selama daya tahan tubuhnya baik.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Australia mengamini bahwa salah satu kelemahan virus corona adalah dalam menghadapi antibodi yang sehat. Penelitian ini melihat secara teratur kadar antibodi yang dihasilkan seorang pasien Covid-19 berusia 47 tahun dengan gejala ringan hingga sedang.

Pasien tersebut tidak memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi atau diabetes. Kondisi tubuhnya secara keseluruhan sehat dan hanya terdapat satu infeksi yang sedang terjadi, yaitu Covid-19.

Pada hari ke 7-9 sejak gejala Covid-19 pertama kali muncul pada pasien tersebut, sejumlah antibodi mulai terbentuk di tubuh. Ini tandanya, tubuh tengah mengeluarkan berbagai senjatanya untuk berusaha melawan virus corona.

Beberapa hari setelah antibodi terbentuk, tubuh pasien tersebut mulai membaik. Memang masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut dalam skala yang lebih besar lagi untuk melihat pola “peperangan” antara virus corona dan antibodi.

Namun, penelitian di atas bisa dijadikan sebagai pengingat pentingnya menjaga daya tahan tubuh dengan menjalani gaya hidup yang sehat.

3. Bisa dibunuh dengan disinfektan
Virus corona ada banyak jenisnya. Ada virus corona yang menyebabkan SARS, MERS, dan saat ini jenis yang baru ditemukan, mengakibatkan Covid-19.

Masing-masingnya memang memiliki perbedaan dan masih butuh lebih banyak penelitian. Namun sejauh ini, diketahui bahwa secara umum karakter keluarga coronavirus cukup mirip, yaitu dianggap lemah jika harus berhadapan dengan bahan disinfektan.

Berdasarkan hasil penelitian, virus corona penyebab SARS dan MERS bisa bertahan di permukaan benda seperti metal, kaca, atau plastik hingga beberapa hari. Meski sejauh ini belum ada penelitian mengenai ketahanan virus penyebab Covid-19 di permukaan, tapi diduga hasilnya tidak jauh berbeda dari sepupu sesama coronavirus lainnya.

Kabar baiknya, virus tersebut dianggap bisa nonaktif dengan bahan disinfektan seperti alkohol dengan kadar 60-70 persen, hidrogen peroksida 0,5 persen atau sodium hipoklorit 0,1 persen dalam waktu 1 menit.

Jadi rajin-rajinlah membersihkan permukaan benda yang sering disentuh seperti telepon genggam, gagang pintu dan meja kerja menggunkaan bahan disinfektan.

4. Melemah di suhu panas
Sejauh ini belum ada penelitian yang menyebut bahwa virus penyebab Covid-19 lemah terhadap panas. Namun coronavirus penyebab penyakit SARS, terbukti bisa melemah pada suhu panas.

Berdasarkan data yang diterbitkan oleh badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), virus penyebab SARS bisa terbunuh pada suhu 56°C. KAbar terbaru, BMKG dan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM mengkonfirmasi adanya indikasi pengaruh cuaca dan iklim dalam mendukung penyebaran wabah COVID-19.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dikutip dari situs resminya menjelaskan, kondisi cuaca/iklim serta kondisi geografi kepulauan di Indonesia, sebenarnya relatif lebih rendah risikonya untuk berkembangnya wabah COVID-19.

Pasalnya, Indonesia terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 27-30 derajat celcius dan kelembapan udara berkisar antara 70-95 persen. Dari kajian sejumlah literatur, BMKG-UGM menilai, sebenarnya lingkungan ini cenderung tidak ideal untuk outbreak COVID-19.

Bulan April hingga puncak musim kemarau Agustus nanti, suhu rata-rata di Indonesia akan berkisar antara 28 derajat Celcius hingga 32 derajat Celcius dengan kelembapan udara berkisar antara 60 persen-80 persen.

Itu artinya, cuaca di Indonesia cukup menguntungkan dalam menahan penyebaran Covid-19.

5. Tidak bisa bertahan lama dipermukaan
Virus corona memang bisa bertahan beberapa hari di permukaan. Namun, seiring berjalannya waktu, virus ini tidak lagi cukup kuat untuk bisa menimbulkan infeksi. Sehingga baik WHO maupun Kementerian Kesehatan RI tidak melarang pengiriman paket antar negara karena risiko penularan melalui media pengiriman paket tersebut sangatlah rendah.

Kelemahan virus corona patut diketahui agar Anda bisa memahami cara mencegah penularan Covid-19 dan bukan untuk meremehkan virus ini. Selalu lakukan pencegahan di berbagai tempat dan waktu, agar risiko terkena virus ini tetap rendah.

Penjelasan Ilmiah Kenapa Virus Corona Mati dan Hancur jika Kena Sabun, Pembungkusnya Larutan Lemak. (*)



Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Tribunpekanbaru/Kompas.com


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus