Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Advetorial

Kembangkan Komoditi Serai Wangi, Alternatif Peningkatan Pendapatan Masyarakat Kuansing

Selasa, 05 Juni 2018

Syoffinal mendampingi Wabup Halim ke BALITTRO Bogor. (Foto:Jhon/FokusRiau.Com)

KUANSING-Untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di tengah kondisi harga karet yang relatif rendah dan harga sawit berfluktuatif, Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi, Riau berencana mengembangkan komoditi serai wangi sebagai salah satu alternatif dengan nilai ekonomis cukup tinggi.

"Dipilihnya komoditi serai wangi setelah melalui analisa teknis yang lebih komprehensif," kata Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Kuansing Syoffinal, SP., M.Si kala mendampingi kunjungan Wakil Bupati Halim ke Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITTRO) Bogor dan kunjungan lapangan ke kebun penelitian Manoko Lembang Bandung, beberapa waktu lalu.

Dijelaskan, pemilihan serai wangi setelah mempertimbangkan beberapa hal, pertama produksi minyak yang potensial dan dibutuhkan untuk bahan baku industri, seperti parfum, sabun, kosmetik, antiseptik, pengusir serangga, aromaterapi dan pestisida nabati, bahan baku bio additif BBM, limbahnya sebagai pakan ternak dan media tumbuh jamur. 
 
 
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Kuansing Syoffinal. (Foto:Jhon/FokusRiau.Com) 
 
Kedua serai wangi termasuk tanaman perkebunan yang mudah dibudidayakan dan dikembangkan masyarakat secara massal. Terbukti selama ini serai dapur telah ditanaman secara luas oleh masyarakat. Ketiga, serai wangi mampu hidup dan berkembang serta toleran terhadap tanah marjinal seperti lahan-lahan eks tambang (karena termasuk tanaman konservasi dan rekalamsi lahan), sehingga sangat potensial dikembangkan pada lahan-lahan bekas penambang emas tanpa izin (PETI).

Keempat, pengembangan serai wangi tidak membutuhkan input dan teknologi tinggi. Sehingga investasi yang diperlukan relatif rendah dan terjangkau oleh masyarakat. Kelima serai wangi bisa dikembangkan pada lahan-lahan pekarangan masyarakat, termasuk lahan-lahan non produktif yang relatif banyak di daerah kita (lahan terlantar yang tidak dikelola oleh masyarakat). 

Terakhir, adanya jaminan pasar produksi serai wangi, karena teknologi pasca panen dan pengolahan hasil tidak membutuhkan investasi besar (cukup dilakukan dengan terknik penyulingan sederhana) dan fasilitas penyulingan langsung dapat dibangun untuk mendukung proses pengolahan hasil.
 
 
Syoffinal mendampingi Wabup Halim meninjau pola penyulingan minyak serai wangi menjadi berbagai olahan, termasuk parfum. (Foto:Jhon/FokusRiau.Com) 
 
Berdasarkan hal itulah, pengembangan serai wangi sangat berpotensi untuk dikembangkan di Kuantan Singingi secara massal. Rencananya pengembangan serai wangi dilakukan dalam bentuk Gerakan Tanam Serai Wangi (GETAS), sehingga layak secara ekonomis dan prospektif untuk menambah pendapatan masyarakat dan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).

"Sumber dana pengembangan program ini disamping dari dukungan APBD juga diharapkan adanya dukungan dunia usaha melalui program CSR," ujar Syoffinal.

Terkait produksi dan penerimaan dari hasil penjualan produk, secara teknis produksi serai wangi berupa daun (minyak berada di daun) berkisar antara 1-3 kg per rumpun. Dengan populasi 10.000 rumpun per hektar (jarak tanam 1x1 meter), maka potensi produksi mencapai 10-30 ton per tiap kali panen. Dengan harga sekitar Rp. 500, maka estimasi penghasilan berkisar antara Rp 5 juta sampai Rp 15 juta per tiap kali panen. 

Sementara waktu panen pada tahun pertama adalah pada umur 6 bulan setekah tanam dan selanjutnya panen dilakukan setiap 3 bulan sekali. Serai wangi dapat dipanen secara kontinu selama produktifitasnya masih tinggi. Jadi sekali tanam dapat dilakukan panen secara kontinu.

Ditambahkan, potensi lainnya adalah serai wangi dapat dikembangkan secara terpadu dengan prinsip zerro waste (tanpa sampah). Karena seluruhnya dapat digunakan dalam konsep pengembangan terpadu. Limbah serai wangi yang telah diolah, langsung dapat digunakan untuk pakan ternak bernutrisi tinggi, terutama sapi (integrasi atsiri dengan ternak), pengembangan biogas dan limbah biogas dapat juga digunakan untuk pakan ternak, serta untuk bahan bakar penyulingan. 

Selanjutnya kotoran ternak digunakan kembali sebagai pupuk organik untuk tanaman. Inilah konsep terpadu dengan prinsip zerro waste, semua bermanfaat tanpa menyisakan limbah yang berdampak pada lingkungan. (adv/kominfo)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus