Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Ekonomi

Ketidakjelasan Kasus Bioremediasi Ancam Industri Migas

Rabu, 08 Mei 2013


PEKANBARU-Kepala Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, Rudi Rubiandini berpendapat, kasus bioremediasi yang tidak jelas duduk persoalannya bisa menjadi salah satu pemicu terancamnya industri minyak dan gas nasional.

Imbasnya, lebih dari 240 juta jiwa warga Indonesia, termasuk didalamnya 2,9 juta guru, 350.000 anggota Polri serta sekitar 400.000 TNI dan lebih dari 90 juta jiwa masyarakat miskin di Indonesia berpotensi untuk ikut terpuruk.

"Satu hal yang harus dipahami semua pihak. Kasus bioremediasi yang tidak jelas duduk persoalannya itu bisa menjadi satu pemicu terancamnya industri minyak dan gas nasional. Kondisi ini yang menyebabkan terancamnya 240 juta jiwa rakyat di negara ini," papar Rudi Rubiandini, Rabu (8/5) di Pekanbaru.

Dijelaskan, kasus bioremediasi yang diyakini sebagai bentuk kriminalisasi tanpa disadari banyak pihak, telah menjadi ancaman serius bagi berbagai sektor. "Karena selama 10 tahun terakhir, industri hulu migas rata-rata memberikan kontribusi penerimaan Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara sebesar 25 persen," papar Rudi.

Jika tercuat kepermukaan adanya diskriminasi dan kriminalisasi terhadap pelaku industri migas, khususnya yang dimiliki pihak asing, maka menurut dia hal itu akan sangat berdampak pada produksi migas tanah air. "Tidak akan ada pihak asing yang ingin berinvestasi migas di negara ini, karena tidak ada pihak yang ingin dikriminalisasi seperti yang terjadi pada kasus proyek bioremediasi PT Chevron Pasific Indonesia (CPI)," katanya.

Jika demikian, menurut Rudi, secara tidak langsung akan berpengaruh pada produksi migas tanah air yang juga akan merambat dampaknya pada sektor-sektor lainnya. Untuk diketahui, dalam kondisi sehat seperti beberapa tahun ini saja, persentase atas kontribusi migas terhadap pemasukan negara terus mengalami penurunan setiap tahunnya.

Meski pada dasarnya, kata dia, penurunan ini merupakan hal yang positif karena terjadi akibat meningkatnya penerimaan negara dari sektor lainnya. Data SKK-Migas, sejak tahun 2005 hingga 2011, neraca minyak nasional telah mengalami defisit sebesar 8.069 juta US Dollar hingga 17,526 juta US Dollar.

"Apalagi kalau sempat industri migas nasional terpuruk karena berbagai persoalan, maka hal ini tentunya akan sangat berdampak luas tentunya untuk sektor-sektor lainnya. Bahkan 240 juta warga Indonesia yang terdiri dari guru, polisi, tentara dan masyarakat miskin juga ikut terancam. Hal itu karena APBN merupakan sumber dari segala-galanya," tukasnya.

Kejaksaan Agung dalam menangani kasus dugaan korupsi proyek bioremediasi Chevron telah menetapkan sebanyak lima orang tersangka, dua diantaranya yang merupakan kalangan kontraktor proyek tersebut telah melalui sidang vonis dan tiga lainnya (karyawan Chevron) masih terus menjalani sidang lanjutan. Sidang perkara dilaksanakan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Selatan. (anr/lin)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus