Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Otomotif

Ketika Pabrikan China Mulai Menggebrak Pasar Otomotif Indonesia

Jumat, 18 Oktober 2019

Booth wuling di IIMS 2019. (Foto:Merdeka.com)

JAKARTA-Pasar otomotif Indonesia tengah berevolusi. Kehadiran pabrikan otomotif China di Tanah Air sejak dua tahun lalu menjadi pemicunya. China hadir melalui Wuling Motors dan DFSK. Perlahan tapi pasti, dua pabrikan roda empat itu memperlihatkan kejayaan.

Mobil asal China sebenarnya bukan barang baru. Sebelum dua merek itu, beberapa sudah hadir terlebih dulu. Di antaranya merek Chery, Geely, FAW dan Foton. Mereka hadir di segmen mobil komersial. Sayangnya terlihat tidak serius ketika itu.

Seolah menghapus masa suram pabrikan otomotif China di Indonesia, Wuling pada Juli 2017 memulai gebrakan. Kemudian diikuti PT Sokon Automobile (DFSK) pada November di tahun sama. Sejak itu, panorama industri otomotif berubah walau tidak drastis.

Industri mobil China tidak lagi dicap tak serius. Wuling bahkan sudah meresmikan pabrik di Cikarang, sedangkan DFSK di Cikande. Dobrakan kedua pabrikan ini di pasar otomotif nasional dengan menawarkan kendaraan penumpang di segmen MPV dan SUV.

Tidak sembarangan, Wuling dan DFSK sampai menghadirkan fitur berlimpah di segmennya dengan harga jualnya terjangkau. Bahkan lebih murah dari merek Jepang yang lebih mapan di industri otomotif Indonesia.

Gebrakan pertama datang dari Wuling saat meluncurkan model pertamanya, yakni Confero pada dua tahun lalu. Sebagai mobil keluarga (MPV) bermesin 1.5L tujuh penumpang, Wuling Confero Series dibanderol mulai dari Rp 150 jutaan saat itu. Pasar segmen low MPV pun terguncang. Alasannya di tipe serupa, pabrikan Jepang menjual rata-rata di atas Rp 170 juta hingga Rp 200 juta.

Guncangan kecil berlanjut jadi ledakan ketika Wuling Cortez yang bermain di segmen medium MPV dibanderol Rp 200 jutaan. Di segmen ini pemain dominannya adalah Toyota Kijang Innova. Terbaru, Wuling meluncurkan Almaz untuk kelas SUV. Fitur dihadirkan melimpah dan dibanderol Rp 318 jutaan.

Pameran otomotif GIIAS Juli 2019, menjadi ajang Wuling unjuk gigi. Mereka kembali mengejutkan pasar dengan meluncurkan varian baru Almaz berkapasitas tujuh penumpang dengan fitur menarik: voice command berbahasa Indonesia yang bernama Wind.

Fitur ini sontak menarik perhatian kalangan otomotif nasional dan menjadi fitur 'beyond', karena inilah fitur voice command bahasa Indonesia pertama di pasar otomotif nasional. Berkat fitur inovatif itu, Wuling Almaz merebut gelar "Mobil Terbaik 2019" versi Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot), yang diberikan pada medio Oktober ini.

Strategi Wuling terbukti cukup berhasil jika melihat tren penjualannya yang terus meningkat. Periode Januari-Agustus tahun ini, penjualan ritel Wuling tumbuh 22,5 persen menjadi 12.864 unit dibandingkan periode sama tahun lalu. Pangsa pasar meningkat menjadi 1,9 persen dari 1,4 persen.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat Wuling telah masuk dalam kelompok 10 besar merek otomotif di Indonesia. Merek ini duduk di peringkat ke-9 hanya dalam tempo dua tahun. Pabrikan dengan moto "Drive for a Better Life" ini sukses menggeser Nissan dan Datsun di kelompok bergengsi itu.

Strategi mirip-mirip juga diterapkan DFSK. Sebagai 'saudara' satu negara dengan Wuling, DFSK meluncurkan Glory 580 di segmen medium SUV. Sayangnya respons konsumen justru tidak sebaik Wuling Almaz.

Strategi pun diubah. DFSK bermain lebih ke bawah, yakni segmen low SUV. Kali ini lewat Glory 560 yang dirilis pada April tahun ini. SUV kompak ini dibanderol dengan harga di kisaran Rp 189-239 juta.

Seri DFSK Glory 560 menawarkan mesin 1.5L turbo. Beragam fitur modern diberikan bahkan lebih mewah dan harganya di bawah mobil sejuta umat, Toyota Avanza. Pabrikan Otomotif Jepang itu kini dibanderol seharga Rp 191 juta untuk varian paling rendah.

Menurut Gaikindo, volume penjualan DFSK di Januari-Agustus tahun ini tercatat 1.717 unit, naik lebih dari 300 persen dari periode sama tahun lalu. Pangsa pasarnya juga naik menjadi 0,3 persen dan berada di peringkat 13 pasar otomotif Indonesia.

Perang Harga dan Fitur
Strategi pabrikan China menjual produknya lebih murah dibandingkan pabrikan Jepang mulai menampakkan hasil. Membuat kondisi otomotif terlihat sedang perang harga.

Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi, tidak menampik keadaan itu. Dalam pandangannya, terjadi perang harga antara pabrikan China dan Jepang terutama di segmen low/small MPV. Meski begitu, persaingan paling murah menjadi lumrah di industri otomotif nasional.

"Diskon-diskon atau potongan harga saat membeli mobil baru sejatinya adalah perang harga. Dan praktik tersebut sudah lama dilakukan di sini," ujar Yohannes menjawab Merdeka.com, beberapa waktu lalu.

Gaikindo tidak mengatur strategi harga jual setiap pabrikan otomotif yang menjadi anggota Asosiasi. Mereka juga tidak boleh menyinggung harga jual. "Kami bersih dari masalah penentuan harga jual supaya Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menilai Gaikindo anak baik," ungkap dia.

Sejak pabrikan China hadir, baru kali pertama terjadi di Indonesia harga mobil baru tidak naik di segmen low MPV. Tepatnya ketika New Toyota Avanza dan Grand New Daihatsu Xenia diluncurkan pada Januari 2019.

Segmen low MPV merupakan pasar gemuk di Indonesia dengan kontribusi sekitar 30 persen dari total pasar nasional. Rata-rata penjualannya sekitar 300 ribu unit per tahun.

Strategi harga jual tetap New Avanza-Xenia itu diikuti pula PT Honda Prospect Motor, saat meluncurkan New Honda Mobilio pada akhir Februari lalu. Kemudian diikuti lagi All New Nissan Livina yang diluncurkan pada buka sama. Harga jualnya hanya selisih Rp 1 jutaan dibandingkan varian Mitsubishi Xpander Ultimate sebagai tipe tertinggi.

Direktur Marketing PT Toyota-Astra Motor, Anton Jimmy berpendapat, pabrikan China mengambil strategi harga jual dan fitur, karena sulit mengejar di aspek lain, seperti layanan purnajual dan jaringan diler. Strategi ini diambil untuk menggempur pasar guna mendapat volume dan representasi kendaraan di jalanan Indonesia.

"Kalau bersaing di layanan purnajual, pabrikan China kesulitan mengejar karena membangun jaringan diler tidaklah mudah di Indonesia. Maka itu, mereka bersaing di pasar dari sisi harga dan fitur," ucapnya.

Tapi benarkah demikian? Faktanya, Wuling saat ini sudah memiliki 100 diler di seluruh Indonesia dari target 120 diler hingga akhir tahun ini. Jumlah ini makin mendekati diler Nissan Datsun Indonesia yang memiliki 110 outlet.

Analisa Yuswohadi melihat, segmen low MPV merupakan segmen pasar mobil yang paling besar di Indonesia. Tak heran pemain di segmen ini makin banyak dengan kehadiran merek otomotif asal Negeri Tirai Bambu. Rumus marketingnya, setiap kali pabrikan tidak memberikan inovasi, kecenderungannya adalah memberikan fitur lebih banyak, tapi harga jual tetap atau turun.

"Yang terjadi kecenderungan perang harga (price war). Bila tidak inovasi, maka main di harga jual. Prinsipnya, more (items) for less (price)," ujar praktisi dunia pemasaran kepada merdeka.com.

Kondisi terjadi sekarang lebih tepat value war (perang kualitas) dibanding bukan price war (perang harga). Sebab yang terjadi sebenarnya adalah perang di fitur dengan benefit harga jual tetap atau cenderung turun.

Dari sisi pabrikan, mereka berani melakukan itu karena segmen low MPV volumenya besar, sehingga pabrikan mengincar volume ketimbang margin. Segmen MPV berkontribusi 30-35 persen terhadap pasar mobil nasional atau rata-rata 300-350 ribu unit per tahun. "Pabrikan melihatnya begini, karena marginnya ditekan, maka harapannya main di volume (besar), karena pasar MPV besar," Yuswohadi menerangkan. (*)



 
 
Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Merdeka.com


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus