Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Pokok Pikiran

Ketika Prabowo Subianto Muncul Bersama Segala Kritik Tajamnya

Minggu, 01 April 2018

Prabowo (kiri) berbicang dengan Anies Baswedan. (Foto:Kompas.Com)

Oleh: Febrianto Adi Saputro, Febrian Fachri

KETUA Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial. Setelah sebelumnya sempat mengatakan Indonesia bubar pada 2030, kini Prabowo menyebut sebagian elite di Jakarta penipu, bodoh, dan bermental maling.

Pernyataan tersebut muncul pada saat Prabowo berpidato di gedung serbaguna di Istana Kana, Cikampek, Jawa Barat, Sabtu (31/3/2018). Kritik keras Prabowo terhadap pemerintahan saat ini juga kembali disampaikan saat dia menjadi juru kampanye pasangan cagub-cawagub Jawa Barat, Sudrajat-Syaikhu, di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Minggu (1/4/2018).

Dalam orasi di hadapan ribuan kader dan simpatisan Partai Gerinda, Prabowo mengatakan, sangat menolak sistem ekonomi neoliberal. “Gerindra dalam manifestonya sejak partai dibentuk tegas menolak sistem Neolib karena meningkatkan kesenjangan pendapatan,” ujar Prabowo.

Prabowo menyinggung soal utang luar negeri dan kekayaan alam. Kekayaan alam sebagian besar justru dibawa ke luar negeri. Oleh karena itu, kata dia, perlu ada pergantian sistem ekonomi yang berpihak kepada rakyat.

Ia kembali menyinggung elite yang kerap merugikan bangsa dan negara. "Apa arti elite? Elite artinya unsur-unsur pimpinan, lapisan pimpinan orang yang paling terdidik di bangsa itu. Dan saya akui saya bagian dari elite tentara. Karena saya sampai pangkat jendral," ungkap Prabowo.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang lengah dan tidak waspada terhadap kelakuan para elite. Di hadapan tamu undangan yang hadir, Prabowo mengaku kapok dengan kelakuan para elite di Indonesia. "Gua udah kapok sama elite Indonesia. Ya saya juga elite, saya elite yang sudah tobat," katanya disambut tawa simpatisan dan kader Gerindra.

Prabowo menjelaskan elite adalah seorang pemimpin yang punya pengaruh, punya pengikut, bisa ceramah, dan bisa mengajar, bahkan ulama hingga budayawan juga bisa disebut elite. "Pemimpin redaksi elite, pemilik media, elite, itu elite banget itu," jelasnya.

Mantan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus tersebut mengakui dirinya adalah elite yang telah sadar bahwa elite Indonesia keliru. Prabowo diketahui sebelumnya tengah mengkritik kesenjangan ekonomi di Indonesia dan minimnya kepemilikan lahan oleh rakyat. Prabowo mengatakan kesenjangan tersebut terjadi karena kerakusan elite politik.

"Jangan-jangan karena elite kita yang goblok, atau menurut saya campuran. Sudah serakah, mental maling, hatinya beku, tidak setia pada rakyat. Mereka hanya ingin kaya," kata Prabowo.

Namun, Prabowo mengeluhkan pandangan orang terhadap dirinya yang kerap dianggap memiliki bakat diktator. Selama empat tiga kali keikutsertaannya pada pilpres, ia mengaku masih sering dianggap tidak demokratis. "Dulu saya dituduh mau kudeta. Terus terang aja dalam hati, nyesel juga gue nggak kudeta dulu," kelakar Prabowo.

Mantan menantu presiden Soeharto tersebut melanjutkan, tuduhan tersebut dianggap tidak tepat. Bahkan, menurutnya, dia berhasil membuktikan dirinya kepada demokrasi dan UUD 1945. 

Jangan alergi kritik
Mengenai pernyataan Prabowo di Cikampek, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Gerinda Andre Rosiade mengatakan, para elite seharusnya tidak perlu berlebihan menyikapi pernyataan Prabowo tersebut. Menurut Andre, pernyataan Prabowo adalah untuk mengkritik mental elite yang dinilai menjadi penyebab bangsa Indonesia menjadi miskin.

Seharusnya, kalau elite benar-benar peduli terhadap rakyat, sumber daya alam yang dimiliki Indonesia tidak dibawa lari ke luar negeri. “Kita juga tidak perlu berutang lagi untuk membangun bangsa dan negara ini. Gitu lho maksudnya,” ujar Andre.

Andre pun menepis anggapan bahwa pernyataan yang dilontarkan Prabowo semata-mata untuk menaikkan elektabilitas Prabowo. Pernyataan Prabowo tak lain hanya sebagai upaya menyadarkan bangsa.

Belakangan, Prabowo memang kerap mengkritik kesenjangan ekonomi di Indonesia dan minimnya kepemilikan lahan oleh rakyat. Menurut Prabowo, kesenjangan terjadi karena kerakusan para elite partai politik.

Pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing mengatakan, Prabowo memang sudah mulai gencar memberikan kritik kepada pemerintahan Joko Widodo mengenai kondisi terkini Indonesia. Prabowo sering menyingggung mengenai kebocoran dana, kondisi utang negara, dominasi investasi asing, dan lain-lain.

Menurut Emrus, hal itu bukanlah sesuatu yang baru. Sebab, sudah bukan rahasia lagi Prabowo akan menjadi kandidat calon presiden di Pemilu 2019 dari gerbong koalisi yang akan dibangun Partai Gerindra.

Untuk itu, kata Emrus, wajar saja Prabowo mulai memberikan pandangan dan kritik guna menarik simpati masyarakat. "Prabowo itu sejak 2014 dulu adalah kawan bersaing bagi Presiden Joko Widodo. Sekarang, Prabowo mulai memberikan pandangan-pandangannya itu biasa. Karena dia harus mulai menarik perhatian masyarakat,” kata Emrus yang juga Direktur Emrus Corneritu, Minggu (1/4/2018).

Dilanjutkan, kritik yang dilakukan Prabowo perlu untuk mengontrol pemerintah. Namun, dalam memberikan masukan atau kritik, sebaiknya Prabowo atau kandidat capres dan cawapres lainnya menggunakan data. Dengan begitu, rakyat bisa dicerdaskan mengenai kondisi nyata saat ini.

Setelah Pemilihan Presiden 2014, kata dia, Prabowo adalah tokoh utama dari kubu oposisi. Gerbong Prabowo adalah pihak yang paling sering mengkritik pemerintahan Jokowi-JK. Karena itu, dalam mengkritik seharusnya Partai Gerindra dan koalisinya juga harus mengkaji data-data 
 
 

Sumber : Republika.co.id
Editor Boy Surya Hamta


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus