Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Pokok Pikiran

Ketokohan Syamsuar Terbukti

Minggu, 08 Juli 2018

Syamsuar-Edy Nasution. (Foto:Istimewa)

Oleh: Boy Surya Hamta)*

SYAMSUAR membuktikan ketokohannya. Bersama Edy Natar Nasution, Bupati Siak dua periode ini berhasil menyisihkan tiga kandidat kuat dan memenangkan pertarungan untuk kemudian berhak menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Riau lima tahun ke depan. 

Kemenangan tersebut terungkap dari hasil rekapitulasi penghitungan suara yang digelar KPU Provinsi Riau, Minggu (8/7/2018) di Aryaduta Hotel Pekanbaru. Dimana pasangan yang diusung PAN, PKS dan Nasdem ini berhasil menang pada sembilan kabupaten kota di Riau. Hanya tiga daerah saja yang tak dikuasai, yakni Kabupaten Kampar, Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir.



Di Pekanbaru, Syamsuar-Edy Nasution meraih 148.664 suara. Kemudian di Rohul mendapatkan 69.946 suara. Untuk Rohil, pasangan Syamsuar-Edy Nasution mendapatkan 97.239 suara, Dumai meraih 41.144 suara, Bengkalis mendapat 87.709 suara, Meranti meraih 38.999 suara, Kabupaten Siak sebagai basis berhasil meraih 110.020 suara disusul Pelalawan dengan 36.161 suara dan Kuansing mendapat 39.881 suara.

Secara akumulasi, perolehan suara Syamsuar-Edi Nasution tercatat 799. 289 suara atau 38,20 persen. Kemudian pasangan Lukman Edi-Hardianto memperoleh 369.802 suara atau 17,67 persen, selanjutnya Firdaus-Rusli Effendi memperoleh 416.248 suara atau 19,89 persen dan pasangan Andi Rachman-Suyatno memperoleh 507.187 suara atau 24,24 persen.

Hal ini jelas menunjukan bagaimana kapasitas ketokohan yang dimiliki Syamsuar memang tak perlu diragukan. Apalagi dengan dukungan Edy Nasution, tentu akan semakin menguatkan pasangan ini dalam memimpin Riau lima tahun ke depan. 

***

Bila ditarik kebelakang, jauh sebelum kemenangan ini diperoleh.
 Bukan sedikit rintangan yang harus dihadapi Syamsuar. Harapan mendapatkan dukungan dari Partai Golkar yang selama ini dibesarkan dan membesarkan dirinya, tetiba sirna. Sebab, DPP Golkar yang saat itu dipimpin Setya Novanto menjatuhkan pilihan kepada Andi Rachman (Gubernur Riau petahana-Ketua DPD I Partai Golkar Riau).

Namun Syamsuar tak patah arang. Dia mencoba melakukan lobi ke sejumlah partai yang masih belum menentukan sikap. Alhasil, PAN memberikan rekomendasinya. Namun saat tengah berjuang mencari dukungan partai koalisi (14 kursi) agar bisa maju, tetiba PAN mengeluarkan rekomendasi baru untuk Walikota Pekanbaru dua periode DR Firdaus MT yang juga akan maju di Pilgubri. 

Hebatnya, kondisi tersebut bukannya mematahkan semangat Syamsuar. Namun menjadi pemicu untuk dirinya berjuang lebih keras mendapatkan dukungan partai lain. Alhasil, tantangan demi tantangan itupun membuahkan hasil. Nasdem menyatakan dukungan penuh kepada politisi Golkar tersebut.

Selanjutnya, PKS yang memiliki tiga kursi di parlemen juga bulan mendukung dirinya. Dengan bekal inilah, PAN kemudian penuh memberikan dukungan kepada Syamsuar-Edy Nasution. Maka berlayarlah kapal Syamsuar-Edy Nasution menjadi kandidat kuat kedua yang akan bertarung di Pilgubri menyusul pasangan Andi Rachman-Suyatno yang sudah mengantongi dukungan Golkar, PDI Perjuangan dan Hanura.

***

Ternyata didukung partai besar saja tak cukup untuk bisa menang di Pilgub Riau. Pengamat politik dari Unversitas Islam Riau Dr Ahmad Tarmizi Yusa beberapa waktu lalu mengungkapkan, maju sebagai calon Gubernur Riau tak bisa hanya mengandalkan popularitas atau dukungan partai besar saja. 

Sebab yang terpenting adalah karya nyata selama memimpin, sehingga masyarakat bisa menilai dan memutuskan untuk menjatuhkan pilihannya di kota suara. Track record selama memimpin di Riau sangat berpengaruh bagi pemilih nantinya, karena itulah kampanye terbaik yang layak dijual. 

Pilgubri sendiri merupakan pertarungan bagi kepala daerah yang dianggap berhasil membangun daerahnya. Syamsuar, menurut Tarmizi, memahami betul kondisi sosial masyarakat. Sehingga tak ada konflik horizontal yang terjadi selama dirinya memimpin Siak. "Dia duduk sebagai bapak, mengayomi rakyat yang heterogen," ujar Dr Ahmad. 

Dari segi perilaku, etika budaya dan hasil karya, Pengamat Politik dari Universitas Riau Prof Sujianto tidak melihat bupati atau mantan bupati yang betul-betul berhasil membangun daerahnya. Kalau pun ada yang mendekati syarat itu adalah Bupati Siak Syamsuar.

Menurut Sujianto, Riau sebaiknya dipimpin figur birokrat yang memahami dunia politik. Meski ada beberapa figur yang populer secara politik tapi secara administratif mereka gagal, begitu juga sebaliknya. 

Sekarang, Syamsuar dengan karakter birokrat dan memahami dunia politik tersebut itu telah berhasil memenangkan hati masyarakat Riau. Ketokohannya telah terbukti mampu melewati berbagai ujian dan tantangan. Kini saatnya, masyarakat Riau menunggu realisasi dari janji kampanye Syamsuar-Edy Nasution setelah resmi dilantik Februari 2019 nanti. (***)





Penulis adalah Pemimpin Umum FokusRiau.Com


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus