Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Lifestyle

Kongsi Usaha Kedai Kopi dengan Teman, Anak Bupati Siak Ini Sewa Ruko di Pekanbaru

Kamis, 04 Januari 2018

Kedai Kopi Yong Bengkalis milik anak Bupati Siak di kawasan Gobah, Pekanbaru. (Foto:Satria Donald/Fo

Tak seperti anak pejabat pada umumnya, anak Bupati Siak H Syamsuar, Muhammad Riski Saputra memilih hidup mandiri dengan membuka usaha kedai kopi di Jalan Beringin/ S Parman, kawasan Gobah, Kota Pekanbaru, Riau. 

Meski berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri, pemuda lajang berusia 24 tahun ini tak berpuas diri. Kongsi bersama Harun, teman dekatnya, putra kedua pasangan Syamsuar-Misnarni yang merupakan alumni Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tahun 2016, mulai merintis usaha kedai kopi di Kawasan Gobah dengan menyewa ruko. 

Hidup sederhana yang ditanamkan orangtua sejak kecil, menjadi bekal utama bagi Kiki, panggilan akrab Muhammad Riski Saputra, untuk belajar mandiri guna mempersiapkan masa depannya. 
 
Sekitar pukul 14.15 WIB, Rabu (3/1/2018) siang, FokusRiau.Com sampai di kedai kopi Yong Bengkalis. Tak begitu sulit menemukan kedai kopi yang berada di pinggir jalan besar ini. Dari Jalan Diponegoro, berbelok ke Jalan Thamrin, persis jalan yang berada di samping rumah dinas Gubernur Riau.  Sekitar satu kilometer, belok kiri setelah perempatan lampu merah. Hanya berjarak 100 meter dari lampu merah Gobah, di sisi kiri berjejer ruko dan ditengahnya tampak kedai kopi Yong Bengkalis. Ada kanopi di depannya.
 
Seperti kedai kopi "Jaman Now", warung kopi Yong Bengkalis siang itu dipenuhi pengunjung. Tak hanya anak muda yang asyik ber-wifi gratis sembari ngopi, sejumlah pejabat tampak bercengkrama sambil menikmati hidangan khas Bengkalis di kedai itu. Ada yang cerita masalah bisnis, juga isu politik kekinian. Suasana kedai hidup. 

Ruko dengan lebar 4 meter panjang sekitar 15 meter itu memiliki 16 meja dari kayu. Masing-masing meja terdapat 4 buah kursi plastik berwarna merah. Ada 4 lampu ukuran besar dan 3 kipas angin tergantung. Meja kasir berada di belakang, diatasnya televisi ukuran 21 inchi. Di samping meja kasir terlihat lemari pendingin (kulkas), ukuran sedang. Kemudian dapur paling belakang yang di skat papan triplek. 

Di depan, etalase besar menutupi setengah lebar ruko. Tampak berjejer beraneka ragam menu khas Bengkalis terpajang di etalase. Sangat sederhana. 

Padahal milik anak Bupati Siak. Usai menyantap nasi goreng kampung khas Bengkalis plus teh es, FokusRiau.Com bercerita dengan pengelola kedai kopi Yong Bengkalis, Wan Elia Rosa. Wanita berhijab berusia sekitar setengah abad itu mengatakan, kedai kopi ini adalah milik Kiki (anak Bupati Siak) yang kongsi dengan Harun, keponakannya. 

Sejak dibuka November 2016, warung ini dipercayakan kepada dirinya untuk mengelola. "Iya, yang punya Kiki dan keponakan saya, mereka kongsi. Awalnya modal Rp100 juta berdua. Baru saja Kiki keluar, tadi dia lama duduk di sini, " kata Bu Aro, biasa dia dipanggil mengawali cerita dengan FokusRiau.Com.

Setiap hari pulang kerja, Kiki biasanya menghabiskan waktu di kedai. Dia belajar semuanya tentang bisnis ini, termasuk cara memasak. Namun, sejak pindah tugas ke Tanjung Pinang, Kepri, Kiki mulai jarang ke sini. "Meski anak Bupati, sifat Kiki sangat jauh berbeda dengan anak pejabat pada umumnya. Saat pengunjung ramai, Kiki tak malu ikut membantu. Ibu sudah capek dari pagi, istirahat saja, biar Kiki yang nyuci piring, " kata Bu Aro menirukan ucapan Kiki. 

Pak Syamsuar dan istri, lanjut Bu Aro, biasanya juga sering berkunjung ke sini, terutama hari libur. Begitu juga abang, adik dan keluarga Kiki dari Bengkalis dan Rohil. "Kalau makan di sini, Bapak selalu bayar, bahkan kalau ada pelanggan yang dia kenal, sekalian dibayarkan. Ibu (istri Syamsuar) selalu bawa buah tangan, kadang bawa daging, mereka suruh karyawan masak untuk dimakan bersama sama. Bahkan, Ibu sering ke dapur belajar masak Sempolit. Keluarga beliau sangat sederhana, anak-anaknya santun dan hormat kepada orang tua. Saya dan tiga orang karyawan sudah dianggap keluarga," cerita Bu Aro. 

Pernah saat sayur dan cabe habis, lanjutnya, Kiki langsung pergi ke pasar Sail. "Saya disuruh istirahat saja, Kiki yang ke pasar Sail beli sayur dan cabe. Sering juga dia mengepel warung, setelah tutup. Anaknya sangat ramah, abangnya Andri juga begitu, kalau adiknya jarang saya jumpa," tambahnya. 

Meski kedai kopi, menurut Bu Aro, makanan khas di sini berasal dari Bengkalis, seperti roti canai, lempeng, sempolit, mie sagu dan nasi goreng kampung. Umumnya, pelanggan berasal dari daerah, untuk menikmati makanan khas kampung. 

"Menu spesial ini yang membuat pengunjung ramai setiap hari, mereka umumnya dari Bagan, Meranti dan Bengkalis yang sudah lama merantau di Pekanbaru, banyak juga dari daerah," ulasnya. 
 
 
Ramai pengunjung menikmati racikan kopi buatan sang koki. (Foto:Satria Donald/FokusRiau.Com)
 
Kemudian, Bu Aro menelpon Kiki dan menyerahkan handphone-nya ke FokusRiau.Com untuk bicara langsung dengan Kiki. 

Setelah FokusRiau.Com memperkenalkan diri dan tujuan nelpon untuk wawancara, Kiki mulai menceritakan awal membuka kedai kopi bersama Harun, dengan modal masing-masing Rp50 juta. "Modal awal Rp 100 juta, saya dan Harun menyewa ruko ini Rp 52 juta per tahun, sisanya untuk membeli peralatan dan bahan masakan. Alhamdullilah, setiap hari omset kita di atas Rp2 juta, dan tujuh bulan lalu kita buka cabang di Jalan Mangga, " kata Kiki. 

Masalah modal awal, Kiki mengakui dipinjam dananya dari bapak, Syamsuar. Namun, sesuai perjanjian dengan bapak, modal itu harus dikembalikan dengan cara dicicil setiap bulan.  "Bapak pinjamkan, tapi harus bayar. Uang cicilannya diserahkan ke Ibu setiap bulan. Kamu harus belajar berhemat dan hidup sederhana," ujar Kiki menirukan nasehat Syamsuar saat meminjamkan modal usaha. 

Meski sejauh ini utang itu belum lunas, namun Kiki mengaku dari keuntungan kedai kopinya, setiap bulan diserahkan cicilan ke Ibu. 

"Kadang-kadang Rp2 juta, kalau lagi sepi saya stor Rp1 juta ke Ibu setiap bulan. Meski belum lunas, tapi modal yang diberikan Bapak itu setiap bulan diangsur. Alhamdullilah, untuk sewa ruko tahun ini uangnya juga sudah stand by," jelas Kiki. 

Walau belum bertatap muka, Kiki memang enak diajak bicara.  Ceritanya begitu lepas tanpa beban. Dia begitu bersemangat menjelaskan usaha kedai kopinya. "Sebenarnya dulu Kiki mau buka warung makan, tapi melihat prospek kedai kopi lebih cerah, makanya buka usaha ini, " ujarnya. 

Sebagai anak pejabat, kenapa Kiki mau bersusah payah berbisnis? Toh, kalau mau tinggal minta proyek ke Bapak saja, kan enak? Seperti anak pejabat pada umumnya? 

Pertanyaan FokusRiau.Com membuat Kiki tertawa. Dia mengaku tak mau menyusahkan Bapak dan menjerumuskan dirinya. Bagi Kiki, didikan Bapak dan Ibu sejak kecil agar selalu hidup sederhana terbawa hingga dewasa. Hal yang sama juga disampaikan orangtua kepada Abang (Muhammad Andri, 29 th) dan Adiknya (Muhammad Zikri Bintani, 19 th). 

"Bapak itu dari keluarga susah bang. Kakek dulu Kades Jumrah di Rohil. Bapak anak paling besar dari enam bersaudara, tapi udah meninggal satu. 

Waktu tamat SMA karena tak ada biaya, Bapak merantau ke Sawahlunto, Sumbar, kerja sebagai buruh batu bara selama dua tahun. Kemudian, balik ke Bengkalis dipanggil tante untuk ikut tes pegawai negeri (STPDN), dan Bapak lulus. Dari pengalaman hidup yang pahit itu, Bapak selalu mengajarkan kami untuk hidup sederhana. Bagi Bapak, ibadah nomor satu, usaha dan doa harus seimbang," jelas Kiki. Suaranya terdengar berubah pelan. 

Mungkin meresapi nasehat orangtuanya. Sosok Ibu juga luar biasa bagi Kiki. Selain sederhana, Ibu juga terbiasa membantu orang kesusahan. Peran Ibu sangat besar dalam karirnya, hingga sekarang ini."Kalau Ibu, tak ada bandingnya bang, kasihnya sepanjang jalan, tak pernah putus," sahut Kiki. 

Diceritakannya, setelah tamat IPDN tahun 2016, dia ditugaskan di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Riau selama setahun, baru tiga bulan ini dipindahkan ke Kabupaten Bintan. "Nanti setelah dua tahun tugas di Bintan, akan dikembalikan ke daerah asal, Provinsi Riau," jelasnya. 

Terkait niat Syamsuar maju sebagai calon Gubernur Riau, Kiki sangat men dukung rencana itu. Apalagi, sejak menjabat Bupati Siak, Bapaknya dinilai amanah untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat. 

"Ibu, anak-anak dan keluarga besar mendukung niat Bapak maju di pilgubri. Bagi Bapak, jabatan adalah ibadah dan amanah yang akan dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Sebagai putra Melayu, dengan pengalaman 7 tahun memimpin Siak, sudah sepantasnya Bapak maju. Kami selalu doakan niat Bapak terwujud, dan tetap amanah menjalankan kepentingan rakyat Riau, kalau diizinkan Allah jadi gubernur. Kami selalu support Bapak," tutup Kiki dipengujung telponnya. (satria donald)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus