Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Kolom

Krisis Pemerintahan

Minggu, 26 Agustus 2012


Oleh: Dodi Syahputra *

Krisis kepercayaan. Barangkali inilah yang tengah mewabah di negeri kita. Ketidakpercayaan terhadap sistem pemerintah terhadap rakyatnya. Bukan masalah regulasi atau kebijakan yang sudah seperti sangat suci itu. Lebih kepada pelaksanaan atau sistem yang tidak pernah lagi berpihak ke masyarakat.

Akan jadi apa negeri ini ???. Negeri yang dipimpin, diawasi, diperintah orang-orang hebat. Mereka sarjana, pasca sarjana bahkan doktor di bidangnya. Namun lihatlah implementasinya, korupsi dan penyalahgunaan wewenang di mana-mana.

Kala pemerintah ribut soal harga BBM yang harus naik, malah antrian mobil berplat merah makin ramai di sisi minyak premium yang disubsidi. Ketika pemerintah berucap akan pendidikan berkualitas, malah kini pemerintah sibuk mengganti kembali sistem dan kurikulum pendidikan.

Di sisi lain, yang miskin dilarang sakit. Jangankan sakit, untuk sehat saja kini banyak yang harus dibeli dengan rupiah. Tak ayal, masyarakat bangsa ini kini tengah menangis sedih. Kategori kemiskinan tak lagi tepat ditempatkan. Tepatnya, ‘merana’. Susahnya mencari lapangan kerja dengan modal terbatas anggunan Bank yang signifikan itu membuat jengah masyarakat kita.

***

Di sudut kota, apalagi di Ramadan ini tak sulit melihat dan mencari warga kategori miskin itu. Tak lagi miskin, kategori mereka, merana. Pengemis, anak jalanan, warga tidak bertempat tinggal, semakin meramaikan negeri dengan sendal butut, baju kumuh dan lusuh serta ringisan menghiba. Mereka membawa kaleng tua di tepi jalan raya. Meminta-minta.

Soal aksi dan kelakuan banyak sekali rupa yang harus disaksikan sebagai pemandangan biasa. Ada yang kakinya luka, ada yang lumpuh tak berdaya, ada yang menggendong balita, berhujan berpanas. Dimana-mana sama. Modus operandinya digunakan untuk membuat orang iba lalu mau merogoh kocek dan menyerahkan bantuan ala kadarnya.

Toh meskipun dimana-mana dilarang membantu waga merana ini, kemanusiaan kita tetap tiada tega. Tetap saja minimal seribu dua ribu kita berikan dengan senyum sungging nanar kepada warga merana ini.

***

Menilai pemerintah, yang artinya mulai dari pejabat tertinggi sampai yang terendah, asalkan mereka bertugas di pemerintahan, memang sulit kini menilai aspektasi ‘demi rakyat’. Telah beribu bahkan beratus ribu perbuatan tidak menyenangkan rakyat dilakukan. Mulai dari korupsi; waktu, uang negara dan kebijakan, sampai kepada perbuatan-perbuatan lain yang membuat kesal masyarakat.

Sampai-sampai ada warga yang bersumpah tidak akan berurusan dengan pemerintahan kelurahan. Pasalnya, dipermainkan waktunya untuk mengurus surat, sebab Pak Lurah sedang ke kecamatan. Mulai dari persoalan kecil sampai urusan pajak kini telah banyak penyelia. Mereka dibayar untuk menyelesaikan urusan rakyat dengan negara agar tidak terjadi kontak langsung. Kontak yang mengesalkan itu.

Benarkah negara ini sedang bimbang. Jika pemerintah mengatakan bahwa keuangan negara terus membaik, ekspor non migas meningkat drastis, penerimaan negara melambung, siapa yang percaya?

Secara angka-angka benar. Secara praktik di tengah publik, langka sekali kita dengar kata-kata pembenaran. Jelang Lebaran ini, harga tepung naik: benar. Harga beras melambung: benar. BBM susah: benar. Masyarakat kian susah: benar.

Lalu apa yang salah? Jika dikoneksikan kembali tentang krisis kepercayaan yang sedang berjalan dengan optimistis pemerintah yang sibuk membenarkan diri, inilah negara yang tengah dalam krisis moral dan kepercayaan masyarakatnya. Sampai dimana masyarakat akan percaya?

Perlukah kita masih berpemerintah jika pembangunan diarahkan bagi kepentingan warga golongan dan kelompok. Jika pembangunan difokuskan bagi para pendukung saat kampanye atau didasarkan kepada komitmen bagi hasil? Inilah negara dengan krisis kepercayaan sedemikian rupa. Entah kalau tidak?

*Pengamat Sosial, Domisili di Payakumbuh


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus