Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Berita Islami

Larangan Bercadar di UIN Suka, Said Aqil: Bukan Perintah Agama, Tapi Budaya

Jumat, 09 Maret 2018

Larangan bercadar. (Foto:Ilustrasi)

JAKARTA-Adanya kebijakan mengenai larangan penggunaan cadar bagi mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka), memunculkan polemik di tengah masyarakat. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj enggan berkomentar banyak terkait larangan bercadar tersebut.

Aqil menjelaskan, cadar bukanlah perintah agama, melainkan sebuah budaya Arab. Dia mempersilakan dan tidak melarang siapa pun memakai cadar. Dirinya berpesan kepada mereka yang memakai cadar untuk tidak merasa paling Islam. "Jangan merasa paling sempurna Islamnya. Kesempurnaan Islam dalam hati, akhlak, moral," katanya.

Menurutnya, kebijakan yang dibuat UIN Suka tidaklah salah. Sebab hal tersebut merupakan kewenangan internal kampus tersebut. "Punya wewenang ya sudah, urusan internal UIN," tegasnya.

Sebelumnya, Rektorat UIN Suka menegaskan akan mengeluarkan mahasiswi yang tidak melepas cadar saat beraktivitas di kampus. Pihak UIN Suka juga telah melakukan pendataan jumlah mahasiswi yang mengenakan cadar. Larangan tersebut dikeluarkan dengan pertimbangan mencegah perluasan paham Islam radikal di lingkungan kampus.

Sebagaimana dilansir FokusRiau.Com dari republika.co.id, pihak kampus juga sudah membentuk tim konseling dan pendampingan kepada mahasiswi bercadar agar mereka mau melepas cadar saat berada di kampus UIN. Mahasiswi bercadar akan mendapatkan pembinaan dari kampus melalui tujuh tahapan berbeda. 

Jika seluruh tahapan pembinaan telah dilampaui dan mahasiswi yang bersangkutan tidak mau melepas cadar, pihak UIN akan memecat mahasiswi itu.

Sementara, Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah Alwi Shihab mengatakan, larangan penggunaan cadar di kampus Islam jangan dianggap sebagai bentuk penolakan terhadap Islam.

"Saya kira tidak usah dipermasalahkan, seakan-akan anti-Islam. Islam itu luas kok, yang (hijab biasa) begini bagus, pakai kerudung model Bu Nuriyah (Wahid) juga bagus," kata Alwi di Istana Wakil Presiden Jakarta dilansir dari antara.

Alwi menjelaskan, Islam sesungguhnya adalah agama yang mengajarkan umatnya berpakaian sopan. Namun, pengertian batasan pakaian sopan dan Islami tersebut ditafsirkan berbeda-beda oleh sejumlah orang. Cara berpakaian tersebut juga menjadi berbeda jika diterapkan di negara Eropa dan Amerika. Di sana, perempuan yang memakai cadar akan menjadi pusat perhatian karena dianggap mencurigakan.

Di lain sisi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) berpandangan ada kesalahpahaman sementara dari pihak yang mengaitkan masalah radikalisme dengan pemakaian cadar, celana cingkrang (isybal) ,dan potongan jenggot seseorang. Pandangan tersebut sangat tidak tepat karena radikalisme tidak hanya diukur melalui simbol-simbol aksesoris tersebut, tetapi lebih pada pemahaman ajaran agamanya.

"Sehingga, kurang tepat jika karena alasan ingin menangkal ajaran radikalisme di kampus, kemudian melarang mahasiswi memakai cadar," kata Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa'adi.

Zainut khawatir, setelah larangan penggunaan cadar, kemudian disusul dengan larangan berikutnya, yaitu larangan mahasiswa memakai celana cingkrang dan berjenggot. Untuk menangkal ajaran radikalisme, menurut dia, harus melalui pendekatan yang lebih komprehensif, persuasif, edukatif, dan konseling keagamaan yang intensif.

MUI meminta kepada semua pihak menempatkan masalah ini sebagai sesuatu hal yang wajar, proporsional dan tidak perlu dibesar-besarkan dan menyerahkan sepenuhnya kepada Rektorat UIN Sunan Kalijaga. 

Kampus memiliki otoritas dan kewenangan mengatur kampusnya melalui berbagai penerapan peraturan yang tidak bertentangan dengan nilai agama, norma susila, dan undang-undang yang ada. Selain itu dengan melalui berbagai pendekatan dan solusi yang komprehensif, maslahat, juga bermartabat.

"MUI yakin kita semuanya tidak berharap kampus menjadi sarang penyebaran paham radikalisme, liberalisme, dan tempat yang menanamkan sikap fobia terhadap agama Islam," ujarnya di laman republika.co.id. (andi affandi)


Berita terkait :

    Terkini
    Terpopuler



     
    situs portal berita riau
    fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus