Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Ekonomi

Lemahnya Rupiah Berlawanan Dengan Pertumbuhan Ekonomi

Rabu, 30 Januari 2013


PEKANBARU-Masih hangat kiranya berita-berita pertumbuhan ekonomi dan pasar Indonesia yang semakin positif beberapa tahun terakhir. Secara fundamental hampir semua sektor ekonomi di Tanah Air menunjukkan kemampuan bertahan yang baik, terutama di tengah krisis global yang mendera dunia. Namun tidak demikian dengan mata uang kita, ternyata nasibnya kian tragis.

Sejak Januari 2012 lalu, rupiah yang masih memiliki nilai tukar Rp 9.000 per dollar AS akhirnya anjlok terlalu jauh pada kisaran Rp 9.650. Bahkan kemaren rupiah belum dapat menunjukkan geliatnya dan hanya dapat mencapai level Rp 9.680 per dollar AS, di mana pada 15 Januari lalu mata uang kebanggan bangsa Indonesia ini terjerambab ke angka Rp 9.775 per dollar AS.

Lalu kenapa semua ini melanda rupiah? Ekonom pasar uang Farial Anwar menjelaskan, kondisi nilai tukar rupiah terus melemah sejak awal 2012 lalu. Ia berpendapat ada sejumlah penyebab menurunnya nilai tukar rupiah yang harus diantisipasi agar dampak ekonomi luar biasa yang ditimbulkan dapat dihindari.

"Saya sangat prihatin dengan kondisi nilai tukar rupiah saat ini. Sebenarnya ini terjadi anomali di saat perekonomian Indonesia positif, namun rupiah malah terus melemah," kata Farial, Rabu (30/1) pagi.

Kembalinya karisma dollar AS dan bercampur isu keuangan nasional merupakan penyebab pertama. Permintaan akan pecahan-pecahan dollar AS meningkat tajam, namun tidak diimbangi ketersediaan mata uang Negeri Paman Sam itu. "Jadi lebih kepada supply yang tidak bisa mengimbangi demand pasar. Yang punya aset dollar enggan menjualnya," kata Farial.

Dugaan kekhawatiran masyarakat akan dampak redenominasi juga berpeluang dalam melemahnya rupiah belakangan ini. Ketika mereka panik akan mata uang mereka, saat itu masyarakat mulai mengamankan aset dollar.

Faktor ketiga muncul dari kondisi neraca perdagangan nasional yang terus-terusan defisit. Impor migas terus membesar dari waktu ke waktu dan diperparah oleh kenaikan harga inyak mentah. Lengkap sudah pukulan membabibuta menghajar mata uang Indonesia. (kcm/ded)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus