Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Pokok Pikiran

Malangnya Nasib Jalan Poros Sako-Trans SKP II Kuansing, Hancur Digilas Truk CPO!

Rabu, 03 Januari 2018

Kondisi jalan rusak akibat dilalui truk pengangkut CPO. (Foto:Jhon/FokusRiau.Com)

Catatan: Jhon Hendri

KEBERADAAN Jalan Poros Sako-Trans SKP II merupakan akses penting yang menghubungkan antar kecamatan dalam satu kabupaten, yakni Pangean dan Logas Tanah Darat (LTD). Jalan tersebut bahkan menjadi akses penting dalam menghubungkan Desa Sukaraja dengan ibukota Perhentian Luas sekaligus melalui Desa Sungai Langsat dan Sako di Kecamatan Pangean jelang Perhentian Luas.

Pada Saat Kuansing masih berada dalam Pemerintahan Indragiri Hulu (Inhu) dan belum dimekarkan, Jalan Poros Sako-Trans SKP II sepanjang 32 Km tersebut sudah diaspal sepanjang 12 Km, tepatnya di Desa Sako dan Sungai Langsat. Tentu saja, pengaspalan jalan tersebut membuktikan kalau jalan poros ini merupakan jalan kabupaten yang bernilai penting.

Seiring waktu, demi kesejahteraan masyarakat. Pemerintah kemudian membuka peluang bagi investor untuk berinvestasi membangun kawasan tersebut. Adalah PT Citra Riau Sarana (CRS), sejak tahun 1998 yang berani membuka lahan perkebunan sawit di kawasan Tanah Ulayat Nagori Pangean. Secara administrasi negara, wilayah tersebut merupakan Kecamatan Logas Tanah Darat sekarang.

Bisnis PT CRS di bidang perkebunan sawit terus berkembang. Sekitar tahun 2000an, PT CRS kemudian membangun pabrik kelapa sawit (PKS) I. Untuk operasional, tentu saja akses transportasinya untuk mengangkut hasil perkebunan harus menggunakan akses Jalan poros Sako-Trans SKP II. 

Inilah yang kemudian menjadi awal gejolak masyarakat dengan PT CRS yang ditandai dengan penyetopan armada pengakut CPO, karena dinilai membuat ruas jalan rusak. Saat itu, truk pengangkut CPO masih bisa melewati simpang warung Pas di Kecamatan Sentajo Raya arah simpang WK Kecamatan Benai.

Sementara itu, dari PKS I terus berkembang menjadi PKS II yang berdiri sekira tahun 2009 lalu. Dengan demikian, aktivitas kendaraan pengangkut CPO yang melewati jalan poros tersebut terus meningkat.

Saat itu, dalam catatan penulis, Kuansing dipimpin Bupati Sukarmis. Pada masa itu, Sukarmis tengah giat melakukan pembangunan bidang infrastruktur, termasuk pengaspalan jalan poros Simpang WK di Kecamatan Benai arah simpang warung Pas di Kecamatan Sentajo Raya. 

Ruas jalan ini kerap dilalui truk pengangkut CPO oleh PT CRS. Saat itu, pengaspalan jalan tidak bisa dilakukan bila terus digunakan untuk kepentingan perusahaan. Karena itu, kemudian Sukarmis melarang dan mengalihkan jalur truk CPO melewati jalan kabupaten di Desa Sungai Langsat dan Desa Sako yang dahulunya masih berada di Desa Pasar Baru, Kecamatan Pangean.

Tentunya, kebijakan peralihan jalan tersebut membuat Perusahaan harus kembali berbenturan dengan masyarakat. Karena masyarakat sudah terlanjut protes dengan aktivitas truk yang merusak jalan. Dimana jalanan akan berkubang lumpur saat hujan, dan berdebu saat musim panas.

Namun setiap ada gelojak, pasti ada perundingan. Kesepakatan yang diperoleh saat itu ada tiga poin. Secara garis besar PT CRS bisa menggunakan jalan kabupaten tersebut, namun perusahaan harus ikut melakukan perawatan dan peningkatan badan jalan. Kedua, PT CRS harus melaksanakan penyiraman jalan saat siang hari, agar masyarakat tidak menghirup debu dan ketiga, PT CRS wajib menyalurkan program CSR kepada masyarakat.

Namun dalam realisasinya, kesepakatan itu jauh dari kata maksimal. Saat musim hujan, masyarakat tetap harus melewati jalan berlumpur dan musim panas harus menghirup udara berdebu. Sedangkan program CSR diimplementasikan dalam bentuk kompensasi kepada Desa Sako dan Sungai Langsat dengan nilai Rp4.500.000/bulan. Sungguh angka yang tak sebanding dengan keuntungan yang diraup perusahaan CPO yang menggunakan akses jalan poros Sako-Sungai Langsat.

Sedangkan pengaspalan ruas jalan sepanjang 12 Km yang sebelumnya dilakukan Pemkab Inhu kini hancur sudah. Bahkan untuk menemukan bukti jalan tersebut pernah diaspal saja sekarang sudah susah. 

Lantas bagaimana kelanjutan jalan poros Sungai Langsat dan Sako tersebut?

Angin segar dihembuskan pemerintahan Mursini-Halim. Pada safari Ramadan 2017 lalu di Masjid Haqqul Yakin Desa Sungai Langsat, Wabup Halim menyampaikan, jalan poros Sako-Sungai Langsat akan dispal pemkab. Namun tentu tidak sekaligus dalam satu tahun anggaran, karena harus disesuaikan dengan anggaran atau kondisi keuangan daerah. Kini, tahun 2018 masyarakat menanti janji pemerintah!. (***)

*Penulis adalah wartawan FokusRiau.Com bertugas di Kabupaten Kuansing


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus