Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Otomotif

Masalah Master Rem, Honda Tarik Kembali 80.000 Unit Kendaraan

Jumat, 02 Maret 2018

Honda 80.000 unit kendaraan. (Foto:dok. Honda via www.autoevolution.com)

JAKARTA-Akhir Januari lalu, PT Honda Prospect Motor (HPM) mengumumkan product update untuk komponen master silinder dan master power, pada sistem pengereman kendaraan mobil-mobil yang dijual di Tanah Air. Sebanyak 463.891 unit di Indonesia teridentifikasi dalam program tersebut. 

Perusahaan mengatakan, masa kampanye PUD akan berjalan selama 6 bulan, mulai 26 Januari sampai 26 Juli 2018. Marketing and After Sales Service Director PT HPM Jonfis Fandy mengatakan, ada 80.000 unit kendaraan telah menjalani pemeriksaan atau penggantian komponen master silinder dan master power pada sistem pengereman tanpa dikenakan biaya. 

"Dari Januari kita mungkin sekarang repair sudah sekitar 80 ribu kendaraan. Saya rasa Honda itu kalau recall yang paling advanced dan paling besar jumlah yang orang yang recall-nya," ujar Jonfis usai peluncuran New Honda Odyssey di Central Park, Jakarta, Kamis (1/3/2018).

Unit yang terpengaruh recall antara lain Honda Mobilio tahun produksi 2014-2017, Honda Brio tahun produksi 2014-2017, Honda Jazz tahun produksi 2014-2017, Honda HR-V tahun produksi 2014-2017 dan Honda BR-V tahun produksi 2015-2017. 

Selain master rem, Honda juga melakukan recall airbags sejak April 2017. Dari 172.874 unit, baru sekitar 40 persen yang tersentuh. Penggantian komponen airbag inflator yang mengembang secara berlebih (over-deployment) dilakukan pada beberapa model di Indonesia, seperti Jazz, Accord, Freed dan Oddysey. 

Menurut Jonfis, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengkampanyekan product update tersebut dengan berbagai cara selama ini. "Kita udah banyak usaha selama enam bulan ini melalui komunitas, sms, surat dan lain sebagainya supaya dilakukan perbaikan bertahap," kata dia.

Di sisi lain, Honda meyakini, recall bukanlah suatu hal yang seharusnya dianggap sebagai kejahatan. Pasalnya, bagi Honda program tersebut sudah menjadi kewajiban untuk menjaga kualitas setiap produk yang dijualnya di dalam negeri, bahkan dunia. 

"Bagi kami recall ini bukan kejahatan gitu. Walau banyak komentar-komentar yang tidak menentu gitu coba kalau dia yang kena gimana. Apakah tidak perlu diganti," terang Jonfis.

Karena itu, konsumen diimbau untuk tidak khawatir mengenai pelayanan ganti komponen jika itu memang kesalahan produsen. Honda mengakui bahwa penggantian komponen akan memakan waktu dan dilakukan bertahap karena jumlahnya yang besar.

"Recall ini harus dilakukan oleh kami. Memang belum bisa siap karena angkanya bukan hanya ribuan tetapi ratus ribu dan selalu recall di seluruh dunia itu dilakukan bertahap karena mobil yang udah lebih dari lima tahun pun masih kita ganti jadi tidak terbatas warranty saja... Konsumen tidak perlu khawatir bahwa penggantian ini dapat duluan atau belakangan," paparnya.

Perlu badan pengawas
Jonfis menyatakan, sebenarnya Indonesia memerlukan badan pengawas kualitas kendaraan independen. Badan ini akan memiliki kewajiban untuk mengizinkan produsen kendaraan melakukan recall jika memang tidak sesuai dengan standar.

Badan ini menurut Jonfis juga akan membantu tingkat kesuksesan recall yang tsehingga keselamatan konsumen lebih terjamin. Di luar negeri, misalnya Amerika terdapat Badan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional AS atau The National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA).

"Negara belum punya badan recall. Pengertian recall itu saja juga belum jelas. Makanya bahkan untuk mendapatkan 80-90 persen recall itu susah. Kalau di luar negeri ada badannya. Kalau di kita namanya program update (PUD), kalau ada badan resmi itu dikatakan recall," terang Jonfis dikutip FokusRiau.Com dari cnnindonesia.com.

Meski sekarang belum ada, Jonfis optimis pemerintah sudah mengetahui pentingnya kehadiran badan seperti ini. Dia yakin di masa depan, akan dibentuk badan tersebut di Tanah Air. "Itu akan menjadi badan yang akan ada di masa depan. Kita dalam tahap berkembang ke sana, cuma Honda ini kan kalau masalah safety tidak bisa menunggu," pungkasnya. (boy surya hamta)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus