Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Pokok Pikiran

Memahami Dunia Remaja

Selasa, 24 Februari 2015

Ilham Hudi. (Foto:FokusRiau.Com)

Oleh: Ilham Hudi, S.Pd*
 
Dunia remaja adalah dunia yang penuh warna. Pada masa ini remaja dideskripsikan sebagai sosok pribadi yang labil dan rentan terhadap setiap perubahan. Hal ini biasanya ditandai dengan perilaku yang cenderung ingin mencoba-coba, bertindak atas dasar kemauan sendiri dan cenderung memberontak terhadap aturan sudah mapan.

Pada masa ini tidak sedikit remaja  sering terjerumus pada pola-pola pergaulan tertentu yang pada prinsipnya justru membahayakan serta merugikan dirinya sendiri. Lebih lanjut pada masa ini seseorang cenderung ingin menampilkan siapa dirinya dan ingin mendapatkan pengakuan atas eksistensinya.

Dalam konteks kekinian patut dicatat dan digarisbawahi oleh kita semua bahwa dengan begitu cepatnya arus informasi dan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, seperti televisi dari berbagai channel dengan durasi tayang yang panjang atau jaringan internet yang menyuguhkan aneka ragam informasi global membuat daya serap remaja terhadap hiburan dan seni serta film juga sangat cepat dan memiliki kesan mendalam dan kemudian meniru gaya tersebut.

Kondisi seperti ini tentunya jika tanpa filter yang baik dapat melahirkan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh para remaja. Lantas apa yang harus dilakukan?
 
Memahami dan Memberdayakan Remaja.
Remaja adalah generasi masa depan, penerus generasi masa kini. Di tangan merekalah masa depan dunia ini beserta seluruh isinya berada. Itulah sebabnya, remaja perlu mendapatkan pola asuh yang tepat. Perlu diketahui juga bahwa budi pekerti bertumbuh melalui keluarga karena keluarga merupakan tempat para remaja belajar, berkembang, dan berlindung.

Dalam budaya Indonesia yang dimaksud dengan keluarga tidak hanya terdiri dari keluarga inti (nucleus family), yakni, ayah, ibu, dan saudara kandung, tetapi juga keluarga besar (extended family) yang mencakup kakek, nenek, paman, bibi, dan seterusnya.
Dengan demikian, perkembangan budi pekerti para remaja sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang bertindak konsekuen di sekitar mereka, bukan dari banyaknya ceramah, pidato, seminar, atau lokakarya yang membahas perihal remaja.

Karena budi pekerti berkaitan dengan dengan perangai, tabiat, perilaku, dan watak, maka perkembangan dan penerapannya dalam kehidupan para remaja tidak terjadi dalam sekejap, melainkan melalui proses peneladanan yang panjang (Surbakti, 2009). Oleh karena itu para orang tua dituntut harus bisa menjadi panutan dalam hal menerapkan kebenaran moral dan nilai-nilai kepada anak remaja mereka.

Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Tentunya dalam upaya mencari jati diri tersebut perlunya peran keluarga sebagai media sosialisasi pertama terutama orang tua untuk membangun karakter anak dengan mengedepankan penanaman nilai-nilai keagamaan sebagai aturan yang fundamental.

Dalam kehidupan para remaja, terdapat banyak faktor yang turut membentuk kepribadian dan karakter mereka, seperti pola asuh, lingkungan, keluarga, sistem religi, budaya, ekonomi, sosial-politik, atau pendidikan. Hal di atas menandakan diperlukan komunikasi yang efektif dan berbagi nilai diantara keluarga, sekolah, organisasi keagamaan dan masyarakat.

Kalau tidak para remaja akan mudah terjebak pada suatu keadaan dimana mereka meninggalkan nilai dan norma, serta mencari penggantinya, atau yang kita sebut dengan istilah anomie. Karena itu  dituntut kesediaan dan kerendahan hati para orang tua, sekolah, dan seluruh stakeholder untuk memikirkan berbagai alternatif pendidikan dan pengembangan, misalnya  dengan memberdayakan remaja yang diharapkan meningkatkan nilai tambah atau kemampuan mereka sehingga menjadi remaja yang aktif, produktif, dan berprestasi.

Akan tetapi untuk memberdayakan para remaja agar menjadi generasi produktif  diperlukan kemampuan orang tua untuk memahami mereka karena mustahil para orang tua atau kelompok masyarakat mampu memberdayakan komunitas remaja tanpa memahami dunia mereka yang khas dan unik. (***)

* Mahasiswa pasca sarjana Universitas Pendidikan Indonesia


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus