Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Kolom

Mencontek, Bentuk Kecil Penipuan

Kamis, 06 Desember 2012


Oleh : Pit Sandra Sari*

Proses pendidikan pada anak tidak terlepas dari peran seta keluarga, sekolah dan masyarakat. Bila diantara ketiga unsur tersebut tidak bersinergis dan saling mendukung, maka terjadilah ketidaksempurnaan dan kesenjangan antara penguasaan keterampilan, ilmu pengetahuan dan pembinaan kepribadian terhadap anak.

Meski kenyataannya seorang anak bisa meraih nilai bagus, namun hal itu tidak bisa dijadikan jaminan anak mempunyai keterampilan dan karakter seperti diharapkan. Ukuran keberhasilan pendidikan saat ini memang belum bisa keluar dari orientasi nilai. Hasil ujian masih merjadi satu satunya patokan dalam menentukan prestasi  dan keberhasilan peserta didik dalam pendidikan. Orangtua biasanya akan cepat merasa puas, jika anaknya sudah memperoleh nilai bagus dalam ujian atau lulus dengan nilai yang memuaskan, tanpa memikirkan karakter seperti apa yang terbentuk selama proses pendidikan.
 
Kecendrungan yang terjadi di lapangan, sebagian anak didik sangat dekat dengan tradisi menyontek dalam ujian. Kegiatan itu dilakukan anak berprestasi maupun tidak. Dalam kamus besar bahasa Indonesia “menyontek adalah kegiatan mengutip tulisan dan sebagainya sebagaimana aslinya atau menjiplak”. Sudah pasti saja yang dijiplak itu adalah hasil karya orang lain. Hal ini mengisaratkan suatu kemalasan dalam berusaha, termasuk malas dalam belajar yang berujung pada kegiatan menyontek.

Sikap tidak peduli terhadap ujian muncul karena anak merasa pasti bisa menjawab soal ujian tanpa belajar.  Mereka punya pikiran akan bisa mendapat nilai bagus dengan menyontek teman yang bisa diandalkan. Akibatnya menyontek menjadi sifat yang membiasa dikalangan peserta didik, bahkan marwahnya mampu mempengaruhi anak anak berprestasi untuk ikut – ikutan menyontek. Anak berprestasi yang biasa berjuang sendiri dengan segala kemampuannya merasa dilanggar hak–haknya, tak ayal akhirnya terbersit pula dalam pikiran mereka untuk  ikut menyontek, karena takut prestasinya tersaingi.

Sadar atau tidak, seorang anak yang menyontek dalam ujian berarti telah melakukan kebohongan dan mengungkapkan pribadinya yang palsu terhadap guru dan orang – orang disekelilingnya, sebab nilai yang diperolehnya dalam ujian bukanlah hanya. Ironisnya hasil ujian palsu bahkan mampu menempatkan anak yang menyontek pada barisan anak – anak berprestasi.

Dengan demikian menyontek bisa disebut sebagai bentuk kecil dari praktek penipuan dan pembohongan publik. Tentu tidak ada jaminan kedepannya sifat anak bisa berubah dari menyontek menjadi tidak menyontek, bila tidak ada upaya untuk menghentikan mereka dari tradisi tersebut. Disinilah diperlukan perhatian guru, orang tua dan pihak – pihak terkait untuk meminimalisirnya.

Sekilas terlihat sepele, anak–anak membuat catatan kecil untuk ujian yang akrab mereka sebut “ ajimat” . Seorang anak membantu temannya dengan memberitahu sebahagian jawaban ujian dan isu soal telah bocor sebelum ujian dilaksanakan. Bahkan mungkin ditemukan anak yang kesehariannya dalam belajar biasa – biasa saja, ketika ujian justru memperoleh nilai yang waw? Bukankah hal ini perlu menjadi pertanyaan.

Berangkat dari kenyataan diatas, kadang kita terlambat untuk menyadari bahwa ujung dari perbuatan anak yang biasa menyontek tersebut sangat fatal akibatnya. Jika sifat buruk dalam belajar ini terus dibiarkan apa yang akan terjadi pada saat mereka dihadapkan dengan dunia kerja yang sesungguhnya. Situasi yang menuntut kompetensi, kerja keras, kejujuran, tanggung jawab dan kedisiplinan, siapapun bisa memprediksi akhir dari pengabdian mereka dimasyarakat.

Mereka akhirnya menderita stress yang tinggi, kebingungan menghadapi situasi kerja, tugas dan tanggung jawab yang besar, sehingga pada akhirnya mengambil keputusan yang salah dengan kembali melakukan penipuan dan pengkhiataan terhadap orang–orang sekelilingnya. Meminjam istilah DR. Husein Shahatah (2004) “ ketika pelajar pencontek keluar mengerjakan perannya dimasyarakat, dia keluar sebagai sosok pecundang yang lemah dan tidak mampu menampilkan peran yang dinanti–nantikan, maka jadilah kiprahnya berantakan, karena tidak berkompeten untuk mengerjakan peran tersebut”.

Begitu besar akibat yang diawali dari tradisi menyontek, makanya sebagai guru disekolah marilah kita bersama – sama meminimalisir kebiasaan buruk ini. Peserta didik dalam segala bentuk ujian jangan sekali kali diberi ruang gerak untuk menyontek dan memberi contekan kepada temannya.  Peserta didik harus diajak menemui sukses dengan usaha mereka sendiri. Guru juga dapat memberi hukuman yang berisifat mendidik dan menimbulkan efek jera kepada anak yang menyontek dalam ujian.

Disamping perbuatan itu tidak memotivasi anak untuk bersifat aktif dan mengembangkan potensi dirinya, menyontek itu sendiri jelas bertentangan dengan karakter jujur, mandiri, kerja keras dan tanggung jawab yang merupakan bagian dari akhlak yang mulia.

Hal ini bahkan termaktub dalam arti pendidikan itu sendiri bahwa “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara” (Achjar Chalil dan Hudaya Latuconsina, 2008).

Kepada orang tua kita juga berharap dapat  memantau perkembangan anak anak mereka , terutama dalam membimbing mereka ketika belajar dirumah. Mereka harus d untuk mengerjakan tugas sendiri tanpa bantuan yang bersifat negatif. Mereka harus dibiasakan mandiri dan percaya pada diri sendiri, sehingga tidak tergantung kepada orang lain. (***)

*Guru SDN 03 Pakan Kurai, Bukittinggi, Sumatera Barat



Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus