Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Pokok Pikiran

Menelisik Eksistensi Budaya Melayu di Bumi Lancang Kuning

Jumat, 26 Januari 2018

Muslim Afandi. (Foto:Istimewa)

Oleh: Dr H Muslim Afandi M.Pd 

BANGSA ini tengah menghadapi gejala krisis identitas dan krisis kepribadian. Ini tercermin di hampir seluruh bidang dan lapisan kehidupan masyarakat, tidak terkecuali Provinsi Riau. Riau merupakan pusat kebudayaan Melayu pada masanya. Ini dapat dikenali dari sumbangannya pada peradaban dunia dalam bentuk bahasa, pelayaran, kemahiran membuat kapal, alat penangkapan ikan dan lain sebagainya. 

Di tengah kemajuan zaman saat ini, eksistensi budaya Melayu di Bumi Lancang Kuning justru semakin dipertanyakan. Hal ini disebabkan banyaknya etnis lain yang masuk ke Riau dari berbagai daerah. Urbanisasi ini sayangnya tidak dibarengi dengan kesadaran bahwa mereka berada di wilayah yang memiliki budaya dan adat istiadat Melayu. 

Selanjutnya, generasinyalah yang melunturkan nilai-nilai budaya Melayu itu sendiri. Dimana orang tua dan anak muda Riau enggan menerapkan nilai-nilai budaya Melayu dalam kehidupan. Dari tata cara berbicara misalnya, mayoritas masyarakat tidak menggunakan bahasa Melayu dalam berbagai aktivitasnya. 

Selain itu kesadaran orang tua untuk menanamkan nilai-nilai Melayu kepada anaka-anaknya melalui interaksi di rumah yang sebetulnya bisa menjadi pondasi awal pengenalan budaya Melayu sejak dini sangat minim, bahkan cenderung menghilang.

Penyebab selanjutnya, pengaruh globalisasi yang tidak dapat dielakkan. Kemajuan IPTEK yang begitu pesat telah mengaburkan batas territorial negara dimana arus informasi menjadi mudah dan murah untuk didapatkan. Hal ini ternyata berdampak pada gaya hidup masyarakat Melayu Riau.

Dalam tata busana misalnya, masyarakat Riau kini lebih dominan menggunakan busana-busana modern yang merujuk kepada budaya asing meski bertentangan dengan nilai-nilai kemelayuan. Bilapun ditemui masyarakat yang berbusana melayu dalam beberapa kegiatan, sayangnya sudah tidak memiliki makna berpakaian melayu yang sesungguhnya. 

Melemahnya kedudukan dan peran pemuka adat serta sentralisasi yang dilakukan pemerintah pusat selama 32 tahun Orde Baru yang memaksa identitas nasional disatukan, seperti penggunaan batik, kebaya, maupun sanggul yang kurang sesuai dengan kubudayaan melayu juga telah turut andil dalam melunturkan budaya Melayu di masyarakat. Hal-hal inilah yang  menyebabkan budaya Melayu belum sepenuhnya menjadi “tuan” di negerinya sendiri.

Perubahan dan pergeseran warisan budaya Melayu ini sangat dirasakan. Apabila hal ini tidak ditangani secara serius bukan tidak mungkin kebudayaan melayu akan hilang dimasa akan datang. Belum banyak yang menyadari pentingnya kebudayaan bagi suatu daerah. Pentingnya budaya melayu bagi masyarakat Riau adalah terkait identitas. 

Identitas merupakan integritas. Individu yang tidak memiliki identitas yang jelas maka tidak memiliki intergritas yang kuat. Sementara suatu daerah apabila tidak mempunyai identitas maka dipertanyakan keberadaanya. Pentingnya kebudayaan bagi suatau daerah sehingga mendapat perhatian PBB, UNESCO dalam aktivitasnya menghimbau seluruh negara agar memperhatikan aspek kebudayaan dalam pembangunannya. Di Indonesia, keragaman budaya dihargai dan diakui oleh negara yang termuat secara tegas pada pasal 28I ayat (3) dan pasal 32 ayat (1) UUD 1945.

Disinilah peran strategis Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau. Lambaga yang lahir tahun 1970 ini didirikan tokoh-tokoh kebudayaan Riau untuk pengembangan dan pelestarian kebudayaan Melayu Riau. Upaya pelestarian budaya Melayu terkait menjaga dan memeliharan adat istiadat dan nilai sosial budaya, terutama nilai-nilai akhlak, moral dan adab yang merupakan inti dari adat istiadat agar keberadaannya tetap terjaga. LAM Riau juga sangat diperlukan untuk menggalang persatuan, kesatuan, pendapat, pikiran dan menggali serta membangkitkan adat Melayu Riau. 

Dalam aktivitasnya, LAM Riau menjadi mitra pemerintah dalam bidang pelestarian kebudayaan melayu. LAM Riau berkomitmen mewujudkan visi dan misi Riau 2025 untuk menjadikan Provinsi Riau sebagai pusat kebudayaan melayu se-Asia Tenggara serta turut menyukseskan pariwisata berbasis budaya yang lebih familiar dengan Riau The Homeland of Melayu

LAM Riau bersama Pemerintah Provinsi Riau berupaya menjadikan kebudayaan Melayu sebagai identitas kolektif masyarakat Riau. Dengan diakuinya identitas suatu daerah, akan mudah bagi etnis daerah tersebut mendapatkan kekuasaan memimpin daerahnya. Hal ini merupakan dampak pengakuan pusat terhadap etnis daerah. (***)

Penulis adalah Dosen Prodi/konsentrasi Guidance And Counseling UIN Suska Riau


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus