Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Pokok Pikiran

Menguji Ketokohan Syamsuar

Senin, 27 November 2017

Bupati Siak Syamsuar. (Foto:Istimewa)

Oleh: Satria Donald*
 
REKOMENDASI DPP PAN telah membuka jalan bagi Bupati Siak Syamsuar untuk selangkah maju di Pilgubri 2018. Kendati dukungan itu mengejutkan banyak pihak, namun keputusan DPP PAN dinilai tepat. Sebab popularitas dan elektabilitas sang bupati terus meningkat dibanding 11 bakal calon (balon) lainnya yang ikut dalam penjaringan DPD PAN Riau, termasuk Irwan Nasir (Ketua DPD PAN Riau-Bupati Kepulauan Meranti) dan Syamsurizal (Ketua Harian DPD PAN Riau-mantan Bupati Bengkalis). 

Kendati demikian, rekomendasi yang diterima Syamsuar masih belum cukup mengantarkan dirinya maju sebagai calon gubernur. Sebab syarat dukungan di parlemen masih belum terpenuhi. Bermodal tujuh kursi PAN, Syamsuar masih butuh minimal enam kursi untuk bisa menghadapi pasangan calon gubernur petahana Andi Rahman-Suyatno yang didukung Golkar (14 kursi). 

Seiring berjalannya waktu, jadwal pendaftaran pasangan calon gubernur dan wakil gubernur di KPU Riau semakin dekat, 7 Januari 2018. Namun di penghujung November ini, belum ada tanda-tanda siapa figur yang akan mendampingi Syamsuar untuk maju. Syamsuar bersama tim suksesnya masih gencar melakukan lobi politik.

Lantas mampukah Syamsuar mendapatkan kawan untuk menantang calon petahana di Pilgubri nanti? 

Inilah saatnya ketokohan Syamsuar diuji. Puluhan tahun bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS), Putra Rokan Hilir ini memulai karir politiknya di Kabupaten Siak, bukan di kampung halamannya. Tahun 2001, Syamsuar menjabat sebagai Wakil Bupati Siak mendampingi Arwin AS setelah dimekarkan dari Bengkalis tahun 1999. 

Tahun 2006, keberuntungan belum berpihak kepada Ketua Golkar Siak ini. Sebab dia dikalahkan Arwin AS di Pilkada Siak. Namun lima tahun kemudian, setelah kepemimpinan Arwin AS berakhir dua periode, Syamsuar berpasangan dengan Alfedri berhasil mengalahkan tiga pasangan calon lainnya untuk memimpin Siak periode 2011-2016. 

Ketokohan Syamsuar semakin diakui masyarakat Siak saat dirinya kembali dipercaya menjadi Bupati Siak di pilkada 2015 lalu. Tetap berpasangan dengan Alfedri, Syamsuar meraih suara 60 persen melawan Suhartono-Syahrul. 

Menahkodai Kabupaten Siak sejak 2011, Syamsuar dinilai berhasil meningkatkan ekonomi masyarakat. Ratusan penghargaan sudah diterima Siak dari Pemprov Riau dan Pemerintah Pusat atas prestasi yang diukir dari berbagai bidang. Bahkan, penghargaan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas pengelolaan keuangan daerah berturut-turut enam kali diterima Pemkab Siak berkat "tangan dingin" ayah tiga putra ini memimpin Negeri Istana.

Di usia 63 tahun, suami Misnarni ini bertekad mengembalikan kejayaan Provinsi Riau. Tentunya, niat itu dapat direalisasikan jika dirinya berhasil menang di pilgubri untuk menduduki kursi nomor satu di Bumi Lancang Kuning. Memiliki segudang pengalaman di birokrasi, dari menjabat Camat Siak, Kepala Inspektorat Pemprov Riau sampai Sekretaris KPU Riau menjadi modal besar bagi Syamsuar untuk membawa Riau ke arah yang lebih baik. 

Ditambah pengalaman politiknya bersama Partai Golkar yang mengantarkan dirinya menjadi orang nomor satu di Siak. "Riau harus bangkit. SDA kita berlimpah, SDM kita banyak," tegas Syamsuar usai menyatakan kesiapan dirinya maju di Pilgubri sekitar delapan bulan lalu. 

Gayung bersambut. Keinginan Syamsuar didukung penuh mantan Bupati Siak dua periode Arwin AS. "Syamsuar itu wakil saya dulu, saya paham betul cara kerja dia. Masalah administrasi, dia sangat teliti dan hati-hati. Pengelolaan keuangan daerah juga disiplin. Saatnya sekarang Syamsuar maju untuk Riau 1, sudah sangat layak," kata Arwin. 

Penilaian yang sama disampaikan sejumlah pengamat politik Riau, yakni Guru Besar Universitas Riau Prof Sujianto dan Dekan Fisipol Universitas Islam Riau Dr Ahmad Tarmizi Yusa. 

"Syamsuar itu religius, sederhana, tak ada kasus, perilakunya baik, dan yang terpenting Kabupaten Siak terus berkembang sejak dia pimpin tahun 2011 lalu. Syamsuar pandai menghormati senior dan menghargai yunior. Sama Arwin (mantan Bupati Siak dua periode) hubungannya baik, begitu juga dengan wakilnya, Alfedri. Hingga memasuki dua periode, mereka tetap akur," kata Prof Sujianto. 

Maju sebagai calon Gubernur Riau, tak hanya mengandalkan popularitas agar laku di depan publik. Namun yang terpenting adalah karya nyata, sehingga masyarakat bisa menilai dan memutuskan untuk memberi dukungan. Track record itu sangat berpengaruh, itu kampanye terbaik. Meski kader Partai Golkar, Syamsuar dinilai berhasil menempatkan diri. Dia bisa memisahkan, mana kepentingan publik, mana kepentingan partai. 

"Syamsuar memahami betul kondisi sosial masyarakat, sehingga tak ada konflik horizontal yang terjadi selama memimpin Siak. Dia duduk sebagai bapak, mengayomi rakyat yang heterogen," ujar Dr Ahmad Tarmizi Yusa. 

Kini, ketokohan Syamsuar kembali diuji. Bukan perkara mudah baginya meyakinkan petinggi partai politik agar memperoleh dukungan, apalagi masing-masing parpol punya kader yang siap maju di pilgubri. Bermodal tujuh kursi dari PAN, tidak tertutup kemungkinan Partai Demokrat yang punya sembilan kursi "jatuh hati" ke Syamsuar. 

Tanda-tanda itu begitu jelas terlihat ketika Agus Harimurti Yudoyono (AHY) datang ke Riau awal bulan lalu. Saat berkunjung ke Siak, AHY melihat langsung sejumlah pembangunan yang sudah dilaksanakan Syamsuar. Bahkan, AHY bernostalgia diatas jembatan Sultanah Hasanah Latifah yang diresmikan Presiden SBY tahun 2007 silam. 

Didampingi Syamsuar serta sejumlah petinggi Partai Demokrat Riau, AHY juga mengunjungi Istana Siak serta menghadiri berbagai kegiatan di Kabupaten Siak, sebelum kembali ke Jakarta. Sementara itu, calon petahana Andi Rachman-Suyatno sudah mendapat restu dari DPP Golkar. Kendati memiliki 14 kursi, tidak tertutup kemungkinan Golkar akan berkoalisi dengan PDI Perjuangan (9 kursi).

Apalagi, Suyatno yang saat ini menjabat Bupati Rohil adalah wakil ketua PDIP Riau. Namun, Ketua PDIP Riau Kordias Pasaribu menyatakan sampai saat ini DPP belum memberikan dukungan untuk pilgubri. Sementara, isu PDIP mendukung pasangan HM Harris-Yopi semakin kencang berembus. Dimana, PDIP sudah resmi berkoalisi dengan NasDem (3 kursi) dan Hanura (2 kursi). Sehingga jumlah dukungan menjadi 14 kursi. 

Kemudian, PKB (6 kursi) tetap komit mengusung kader terbaiknya Lukman Eddy. Namun belum ada kepastian dengan partai apa PKB berkoalisi. 

Berembus kabar LE akan berpasangan dengan Ketua Demokrat Riau Asri Auzar. Jika itu terwujud, pasangan ini sudah bisa mendaftar ke KPU karena memiliki dukungan 15 kursi. Sementara, Partai Gerindra (7 kursi) sudah resmi berkoalisi dengan PKS (3 kursi). Jika mereka juga berhasil membangun koalisi dengan PPP (5 kursi), tentu syarat untuk mengusung Edy Tanjung ( Ketua Gerindra Riau) - Hendri Munaf ( Ketua PKS Riau) atau Edy Tanjung - Rusli Effendi ( pengurus DPP PPP) sudah memenuhi syarat. 

Bagaimana dengan Syamsuar yang hanya mengantongi rekomendasi PAN? 
Politik last minute. Peluang masih terbuka lebar. Bisa saja PAN berkoalisi dengan Gerindra dan PKS untuk mengusung pasangan Syamsuar - Edy Natar (Danrem) di pilgubri. Sebab pertarungan pilgubri juga menjadi pedoman untuk pilpres tahun 2019 mendatang. Tidak tertutup kemungkinan, head to head antara Andi Rachman dengan Syamsuar bakal terjadi. 

Pilgubri menjadi ujian sesungguhnya bagi Syamsuar. Apakah dia mampu mendapatkan dukungan dari partai politik agar bisa melawan calon petahana yang didukung partai penguasa? Ketokohan Syamsuar akan menjawab semuanya. (***)
 
*Wakil Pemimpin Umum FokusRiau.Com 


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus