Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Lifestyle

Menikmati Keindahan Kota Tua Padang Bersama Es Kopi Legendaris

Kamis, 20 Februari 2020

Kawasan Kota Tua menjadi awal peradaban Kota Padang. (Foto:HarianHaluan)

PADANG-Pagi beranjak siang. Cuaca mulai terik, namun terasa segar kala menikmati segelas kopi milo dingin legendaris dari kedai Om Ping di kawasan pecinan Kota Tua Padang, Sumatera Barat. Kedai ini memang selalu ramai dikunjungi para penikmat kopi.

Awal mula hidupnya kota tua ini dimulai dari kawasan Batang Arau. Gedung-gedung tua masih terlihat berdiri kokoh di sisi barat Kota Padang. Beberapa bangunan ada yang sedang direvitalisasi. Ini merupakan salah satu upaya pemerintah setempat menghidupkan kembali pesona kota tua.

Kota Padang lahir dari beragam etnik sejak ratusan tahun lampau. Salah satu etnik yang paling lama menetap di ibu kota Provinsi Sumbar ini adalah Suku Nias.

Itu menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang yang menyebut penduduk asli Kota Padang adalah orang Nias. Sejarah Kota Padang tak bisa dilepaskan dari beragam etnik yang menghuni Kota Bengkuang.

Sejarawan Universitas Andalas, Dr Anantona Gulo mengatakan, tidak hanya Nias, keberadaan berbagai macam suku bangsa lainnya juga memiliki peran dalam perjalanan panjang sejarah Kota padang.

Eksistensi orang Nias di Kota Padang sudah berlangsung sejak lebih dari tiga ratus tahun. Sehingga menjadi salah satu etnik yang paling awal menghuni Kota Padang. Awal mula kedatangan orang Nias di Kota Padang, ketika masa VOC Belanda dan EIC Inggris menguasai aktivitas dan jalur perdagangan di Pantai Barat Sumatera di abad ke-17 hingga 18.

"Hal ini, kemudian berlanjut pada masa pemerintah Kolonial Hindia Belanda dan Jepang sampai memasuki periode kemerdekaan," katanya.

Salah satu pasal dalam kontrak perjanjian antara VOC dengan pemuka masyarakat Nias di Teluk Dalam tahun 1693 antara lain, kesepakatan mengenai pengiriman komoditas perdagangan dari pulau Nias ke Padang.

Perjanjian tersebut menjadi pintu gerbang masuknya etnik Nias ke Kota Padang, kebanyak beragam etnik ini bermukim di daerah yang kini disebut Kota Tua di kawasan Batang Arau.

Akulturasi Budaya
Anantona menjelaskan, beragam etnik seperti Nias, Tionghoa, Jawa dan India bersama-sama dengan kelompok masyarakat Minangkabau memainkan peran dan turut berkontribusi didalam membentuk warna dan identitas kota Padang.

"Di Kota Padang, akulturasi budaya begitu kental, sejak dahulu bahkan tidak ada antar etnik ini yang bergesekan, melainkan hidup rukun di tengah masyarakat," ulasnya.

Menurut Anantona, secara spesifik etnik Nias memiliki konsep yang disebut mukoli atau merantau, sama seperti masyarakat Minangkabau, istilah merantau bukan hal asing lagi.

Orang Nias, keluar dari wilayahnya berimigrasi ke berbagai wilayah, selain ke Sumatera Barat mereka juga banyak menuju ke wilayah Pulau Simelue, Aceh.

"Sejak masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Aceh, orang Nias sudah banyak yang sampai di Kotaraja Banda Aceh. Sementara keberadaan orang Nias di Bengkulu, dapat dilacak hingga abad ke-18 saat badan dagang EIC Inggris berkuasa disana," ujarnya.

Mirip dengan kota lain, Padang memiliki beberapa nama kampung yang menggunakan nama etnik yang menandakan bahwa sejak dulu kota ini sudah banyak didatangi suku bangsa lain dari luar Sumatera Barat.

Setidaknya terdapat empat nama kampung di Kota Padang yang menggunakan nama etnik kampung Cina, Kampung Nias, Kampung Keling dan Kampung Jawa. (*)
 
 

Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Liputan6


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus