Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Advetorial

Menko Maritim Launching STTKSI di Kawasan Teknopolitan Pelalawan

Senin, 29 April 2019

Ribuan warga sambut kedatangan Menko Maritim di kawasan Teknopolitan. (Foto:Istimewa)

PELALAWAN-Sebagian besar wilayah Kabupaten Pelalawan, Riau kini dipenuhi perkebunan kelapa sawit, baik milik perusahaanmaupun masyarakat petani. Keberadaan perkebunan sawit tersebut, jelas memiliki potensi besar bagi ekonomi masyarakat dan daerah bila saja dikelola dengan baik. 

Kelapa sawit selain diambil minyaknya sebagai bahan baku minyak makan, ternyata setelah melalui penelitian dan uji laboratorium bisa menghasilkan berbagai produk lain dengan nilai ekonomis yang menjanjikan. 

Untuk memaksimalkan potensi sawit di Kabupaten Pelalawan, pemerintah daerah kemudian membangun kawasan industri teknopolitan di Kecamatan Langgam. Kawasan tersebut diperuntukan untuk pengolahan turunan minyak sawit. Bahkan, Pemkab Pelalawan juga membangun perguruan tinggi yang konsen dengan persoalan sawit, yakni Sekolah Tinggi Teknologi Kelapa Sawit Indonesia (STTKSI).

Tak tanggung-tanggung, pertengahan Januari 2019 lalu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan didampingi Bupati Pelalawan HM Harris secara langsung melakukan launching STTKSI bersamaan dengan launching pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) PO Mill Jaya. 

Dalam rombongan Luhut Binsar Panjaitan terlihat Kepala BPPT diwakili Deputi Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi Dr Gatot Dwiyanto, Pangdam I Bukit Barisan, Direktur Kawasan Sain dan Teknologi Kemeristekdikti, Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Kepala Balitbang Industri Kementerian Perindustrian, Direktur Utama PT Pindad, Diretur Badan Pengelola Dana Kelapa Sawit Indonesia dan undangan lainnya. 
 
 
Menko Maritim didampingi Bupati HM Harris menuju lokasi acara. (Foto:Istimewa) 
 
Bupati HM Harris mengatakan, Pelalawan pada tahun 2006 atau 13 tahun lalu telah dinyatakan oleh negara sebagai satu dari 12 daerah tertinggal di Indonesia. Dimana ketertinggalan tersebut dilihat dari lima indikator yang masih sangat lemah, seperti permasalahan pelayanan kesehatan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) khususnya bidang pendidikan, infrastruktur desa, rendahnya rasio elektrifikasi dan meningkatnya angka kemiskinan. 

Melalui pendekatan pembangunan yang dilakukan secara perlahan, saat ini Pelalawan telah berhasil keluar dari predikat ketertinggalan tersebut. Pendekatan pembangunan yang dilakukan dengan penguatan sistem inovasi. Dalam hal ini, Pemkab Pelalawan melaksanakan lima langkah utama terkait penguatan sistem inovasi.

Kelima langkah tersebut adalah Mengembangkan ekosistem kreatifitas dan inovasi daerah, Mengembangkan klaster industri unggulan daerah, Membangun kawasan Teknopolitan, Berkembangnya bisnis dan industri inovatif, Meningkatkan pemenuhan air bersih, energi bersih, transportasi hijau, dan teknologi informasi serta lingkungan yang berkualitas. 

Melalui pendekatan pembangunan ini juga sekarang Pelalawan telah menunjukkan perkembangan yang cukup fantastis. Dimana geliat ekonomi di kabupaten pemekaran Kampar ini terus menuju arah kemajuan. Pembangunan infrastruktur juga cepat seiring dengan perkembangan pendidikan, kesehatan, pertanian dan sektor lainnya.

Pelalawan Inovatif
HM Harris juga menyebut, melalui visi 2016-2021 yaitu "Inovasi Menuju Pelalawan Emas" singkatan Ekonomi Mandiri, Aman dan Sejahtera. Pemkab Pelalawan terus berkomitmen untuk kemajuan pembangunan Pelalawan. Sedangkan makna dari Visi tersebut adalah pembangunan yang didorong oleh upaya, gerakan dan prakarsa inovatif menuju kabupaten Pelalawan yang mandiri dalam ekonomi, aman dan sejahtera dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. 

Dalam mewujudkan visi tersebut, HM Harris menyebut, ada tujuh program prioritas, salah satunya program Pelalawan Inovatif. Dimana Program Pelalawan Inovatif merupakan upaya Pemkab Pelalawan dalam meningkatkan daya saing daerah melalui pendekatan inovatif dengan membangun kawasan ekonomi baru yang mengintegrasikan industri bernilai tambah tinggi dengan pusat riset dan perguruan tinggi yang disebut Kawasan Teknopolitan Pelalawan sebagai simpul dari Jaringan Inovasi Pelalawan, Riau dan Sumatera. 
 
 
Menko Maritim Luhut Panjaitan foto bersama Rektor STTKSI Prof. DR Detri, Bupati HM Harris dan penerima beasiswa. (Foto:Istimewa) 
 
"Sedangkan program Pelalawan Inovatif ini juga telah berdampak pada semakin siapnya daerah Kabupaten Pelalawan menghadapi persaingan global. Pemkab Pelalawan juga terus intensif melakukan persiapan, termasuk tahun 2015 lalu membangun Sekolah Tinggi Teknologi Pelalawan (ST2P) yang sekarang berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Kelapa Sawit Indonesia (STTKSI)," paparnya. 

STTKSI ini menjadi salah satu pilar utama dari kawasan Teknopolitan yang semakin memperlihatkan fungsi dan perannya. Disamping menjalankan proses belajar, mengajar dan penelitian, saat ini STTKSI juga difungsikan untuk menjadi pusat riset dan pusat inovasi kawasan. 

"Ini sudah dimulai dengan melakukan inkubasi terhadap temuan teknologi yang ada di daerah ini. Hal tersebut dilakukan dalam upaya komersialisasi hasil riset dan pengembangan Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi (PPBT)," tukasnya. 

Bupati Pelalawan dua periode ini menambahkan, keberadaan STTKSI di Pelalawan akan sangat membantu program pemerintah pusat dalam mengejar kemajuan pembangunan pendidikan Indonesia dengan mendirikan universitas yang ditargetkan. 

Bahkan, dengan adanya pembangunan STTKSI di kawasan Teknopolitan, Pelalawan telah dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan seminar internasional dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) ke-23 tahun 2018 lalu yang dihadiri Sekretaris Jenderal dari Kementrian Perindustrian Harris Munandar, guru besar Tsuba University Jepang dan puluhan perwakilan universitas dalam negeri. 

"Selain pembangunan kawasan Teknopolitan, Pemkab Pelalawan berencana membangun Pelabuhan Sokoi di Kuala Kampar. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan kargo dan mendukung ke kawasan teknopolitan. Pembangunannya dalam rangka mendukung program Pemerintah Pusat dalam membuka akses transportasi internasional di wilayah perairan Pelalawan yang bersebrangan dengan Malaysia dan Singapura," ujarnya.

Jadi, kedatangan Menko Kemaritiman di Kabupaten Pelalawan diharapkan bisa melihat langsung keseriusan Pemkab Pelalawan dalam membangun dan mendukung program Nasional dalam persaingan global melalui pembangunan kawasan Teknopolitan. Dimana potensi kelapa sawit di Pelalawan. Potensi perkebunan kelapa sawit ini penyumbang terbesar bagi Pelalawan. Teknopolitan milik Pemkab Pelalawan dikhususkan untuk kelapa sawit. 
 
 
Bupati HM Harris menyalami Menko Maritim Luhut Panjaitan usai menyerahkan cenderamata. (Foto:Istimewa) 
 
Di kawasan ini akan dibagi tiga zona, yakni zona pendidikan, riset dan industri. Di luar dari program Kabupaten Pelalawan, program Nasional itu bagaimana mendatangkan wisata 20 juta orang pertahun. 

"Dengan dibukanya pembangunan jalan tersebut, akan terbuka kesempatan para wisatawan datang ke Kabupaten Pelalawan. Karena wisatawan kita juga sudah ke mancanegara, seperti wisata Berselancar Bono yang sudah mendunia. Kedua Program Pembangunan Nasional, mendirikan 100 teknopark seluruh Indonesia," tukasnya.

Ketiga, kata mantan Ketua DPRD tersebut, hasil rapat dengan Menristek Dikti, karena Pelalawan ketergantungan perekonomian dengan harga sawit di pasar dunia, Pelalawan harus bisa mandiri. Kemandirian dimaksud salah satunya pengolahan kelapa sawit dan sawit merupakan potensi ekonomi masyarakat Pelalawan 70 persen di Riau dan 75 persen khusunya di Pelalawan. 

"Keberadaan STTKSI tentunya bisa membawa generasi muda Pelalawan dan Riau umumnya ikut berperan dalam pengelolaan kelapa sawit dan membantu industri hilir bisa berkembang," harapnya. 

Sementara itu, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan meminta agar STTKSI bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Hal ini ITB karena sudah memiliki teknologi soal kelapa sawit.

"Artinya, agar lebih konkret, saya minta sekolah tinggi kelapa sawit yang ada di kawasan teknopolitan dapat melakukan kerjasama dengan ITB, sehingga para generasi penerus bangsa bisa mandiri," ujarnya.

Saat ini, menurut Luhut, hasil turunan kelapa sawit di Indonesia memang masih jauh dari cukup. Padahal dari sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, khususnya Kabupaten Pelalawan sangat banyak. Karena itu, produksi sawit di Pelalawan ke depan harus terus ditingkatkan.

"Diharapkan, keberadaan STTKSI di kawasan Teknopolitan akan menghasilkan tenaga terampil yang mampu mengolah produk turunan kelapa sawit. Tidak hanya CPO saja seperti saat ini. Pemerintah pusat tentunya sangat mendukung upaya Pemkab Pelalawan membangun kawasan Teknopolitan ini," tukasnya. (adv/diskominfo)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus