Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Membangun Desa

Menurut Indra, Bangun SDM Bisa Menghapus Kemiskinan

Senin, 14 Januari 2013


"Sumber Daya Manusia itu dibangun agar kemiskinan dapat dihapuskan. SDM juga sangat dibutuhkan untuk membangun daerah ini".

Itulah jawaban yang disampaikan H Indra Muchlis Adnan sekitar awal tahun 2008 kepada sejumlah wartawan, terkait program pendidikan gratis dan wajib belajar 12 tahun yang telah direalisasikan Pemerintah Kabupaten Ingragiri Hilir sejak tahun 2006. Seiring program Desa Mandiri untuk meningkatkan perekonomian desa, di tahun 2006, Bupati Indra juga mengagas pendidikan gratis dan wajib belajar 12 tahun.

Setahun setelah dilantik menjabat Bupati Inhil, Indra menemukan banyaknya anak usia sekolah yang tidak mengenyam pendidikan dan putus sekolah, khususnya yang berada di desa-desa. Mereka umumnya berasal dari keluarga kurang mampu dan hal itu telah berlangsung bertahun-tahun. Kondisi itu yang mendasari Indra untuk meluncurkan program pendidikan gratis untuk warga kurang mampu dan juga wajib belajar 12 tahun.  
 
"Pendidikan itu sangat penting untuk menciptakan SDM, dan ini butuh waktu. Makanya program ini harus dilaksanakan, mudah-mudahan beberapa tahun ke depan terlihat hasilnya," tegas Indra yang menamatkan gelar doktornya di Universitas Utara Malaysia.
 
Ketika itu belum ada satupun daerah di Riau yang meluncurkan program pendidikan gratis dan wajib belajar 12 tahun tersebut. Aplikasinya, setiap siswa baru sejak dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas mendapatkan bantuan baju seragam, buku dan tas. Selain itu, setiap sekolah juga tidak dibenarkan memungut biaya masuk dan SPP. Khusus untuk masyarakat tidak mampu, Pemkab Inhil menanggung semua biaya agar dapat sekolah. Karena untuk merealisasikan program tersebut Pemkab telah menganggarkannya melalui APBD setiap tahunnya.
           
Program mulia itu diluncurkan Indra semata-mata demi meningkatkan kualitas SDM, sebab Pak Jenggot, sapaan warga kepada Indra menemukan kenyataan sedikitnya jumlah anak usia sekolah yang mampu menamatkan pendidikan hingga SMA. Kendati saat program itu diluncurkan jumlah APBD Inhil sangat kecil, bahkan setengahnya sudah digunakan untuk anggaran rutin. Tetapi Indra yang saat itu merupakan  Bupati termuda di Indonesia berani mengambil langkah ekstrem demi meningkatkan perekonomian masyarakat Negeri Seribu Jembatan. "Mata rantai kemiskinan ini harus dihapus, caranya tingkatkan SDM dengan memberdayakan warga lewat pendidikan," kata Indra.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Inhil saat itu, H Pahrolrozy mengakui, masih banyak ditemukan anak usia sekolah yang tidak mengenyam pendidikan. Namun, sejak program pendidikan gratis dan wajib belajar 12 tahun diluncurkan, warga di pedesaan yang semula sedikit apatis dalam menyekolahkan putra dan putrinya perlahan-lahan mulai berubah. Apalagi, beban mereka menjadi ringan, karena tidak lagi harus mengeluarkan biaya untuk membeli pakaian baru, tas, buku serta kebutuhan sekolah lainnya. "Orangtua siswa cukup datang ke sekolah untuk mendaftar dan anak mereka sudah bisa mengenyam bangku pendidikan," kata Pahrolrozy yang sekarang menjabat Kepala Dinas Perhubungan Inhil.           

Kendati program itu belum bisa menggratiskan seluruh biaya pendidikan, kecuali bagi warga tidak mampu, namun hal itu sudah sangat membantu masyarakat agar tetap menyekolahkan anaknya hingga tamat SMA. "Setelah program ini berjalan enam tahun, jumlah pelajar yang menyelesaikan pendidikan hingga SMA setiap tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Bahkan, sebagian mereka juga melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Indragiri di Tembilahan yang berdiri sejak tahun 2008 lalu," tambah Kepala Dinas Pendidikan Inhil, H Fauzar.

Saat melakukan kunjungan kerja ke desa-desa, Indra selalu menekankan pentingnya pendidikan untuk menciptakan SDM yang handal. Sehingga, warga mempunyai kesempatan untuk bersaing dalam mendapatkan pekerjaan yang layak serta memiliki pengetahuan untuk membuka usaha sendiri. "Kalau tidak lulus sekolah, bagaimana mau bersaing. Tidak mungkin kita selamanya menjadi pesuruh. Harus kita yang jadi pimpinan di daerah kita sendiri," ujar Indra memotivasi warganya.

Komitmen itulah yang terus disampaikan Indra. Inhil daerah desa tetapi bukan ndeso. Dia menyampaikan harapan supaya warga daerah ini bisa memainkan peranan penting. Apalagi, cukup banyak perusahaan besar yang beroperasi di daerah ini, tetapi tenaga kerja pada posisi penting kebanyakan bukan warga Inhil.

Sejalan dengan program hal itu, Pak Mok, sapaan akrab warga dengan Indra, juga menganjurkan kepada warganya agar tidak menunggu dan berharap menjadi pegawai negeri sipil setelah lulus sekolah. "Yang paling baik itu membuka lapangan pekerjaan dan bisa memperkerjakan orang lain, sehingga dapat membantu pemerintah dalam menekan jumlah pengangguran, khususnya di kampung yang kita cintai ini," ujar Indra. (hr/satria donald)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus