Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Pemkab Bengkalis

Musim Kemarau, Sejumlah Desa di Bantan Bengkalis Kini Mulai Kesulitan Air Bersih

Rabu, 13 Maret 2019

Parit warga yang biasa mengaliri air kini kering. (Foto:M Rafii/FokusRiau.Com)

BENGKALIS-Memasuki musim kemarau sejak dua bulan terakhir, selain berdampak terhadap munculnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sejumlah desa di Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis kini mulai mengalami kesulitan air bersih.

Desa-desa yang kini mengalami kesulitan air di antaranya Desa Teluk Papal, Mentayan, Bantan Tengah, Ulupulau, Bantan Air, Bantan Sari, Bantan Timur, Muntai, Muntai Timur, Pambang Baru, Pambang Pesisir, Teluk Pambang, Sukajadi, Kembung Luar, Kembung Baru dan Teluk Lancar.

Seperti di Desa Teluk Papal dan Mentayan. Kemarau yang hampir berlangsung dua bulan terakhir menyebabkan kolam dan sumur yang menjadi sumber pasokan air warga untuk mandi dan mencuci kering. Bahkan parit-parit aliran air di depan rumah warga kering kerontang dan tanahnya mulai merekah.

Tidak hanya itu, kemarau yang berkepanjangan juga berdampak pada tumbuhan perkebunan yang penopang perekonomian warga. Seperti karet, kelapa dan pinang, berkurang hasilnya.

Bahkan rumput yang menjadi sumber utama makanan pokok hewan ternak juga memulai mengering. Akibatnya warga mencari bahan alternatif, seperti daun karet muda, daun ubi dan lain. Kalau pun ada rumput yang bisa diramban, terpaksa harus mencari ke lokasi yang jauh dari perkampung.

“Sekarang ini, kami kesulitan mendapatkan air. Untuk mandi, mencuci dan kebutuhan lainnya, memang benar-benar sulit,” ungkap salah seorang warga, Kurniawan, Rabu (13/3/2019). 

Untuk kebutuhan memasak, sebagian warga mengandalkan air simpanan dalam tanki (penampungan dalam ukuran besar) milik warga. Namun saat ini, pasokannya sudah menipis, karena sejak dua bulan ini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Itupun kata Kurniawan, untuk kebutuhan minum, membeli air isi ulang.

“Bagi warga yang tidak punya tanki. Ada yang minta air kepada yang punya tanki. Tapi kalau yang tidak punya, terpaksa harus mengandalkan membeli di air isi ulang, untuk memasak dan minum,” ungkapnya.

Kepala Desa Teluk Papal, Lakuning Ratno mengatakan, kemarau sudah berlangsung selama dua bulan terakhir dan membuat warga kesulitan air. Karena bahan baku air milik warga sudah tidak ada. Sumur-sumur mulai mengering, kalau pun masih ada airnya, rasanya asin layaknya air laut.

Memang, sebagian warga yang memiliki sumur bor, bisa berbagi air dengan warga lain. Namun kondisi air sumur bor, tidak layak dikonsumsi, karena warna kecoklatan dan higenisnya belum teruji. (*)





Penulis: M Rafii
Editor: Boy Surya Hamta


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus