Situs Portal Berita Riau
bintang florist
facebook twitter fokusriau on google plus
Pokok PikiranPendidikan Karakter

Selasa, 11 Desember 2012 - 10:44:00 WIB


Oleh : Pit Sandra Sari, S.Pd*

Segudang harapan mengemuka, ketika program pendidikan karakter mulai diterapkan disekolah sekolah di seluruh indonesia. Program Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut diharapkan dapat menuai hasil yang membanggakan terhadap penciptaan karakter anak bangsa dikemudian hari. Terkesan hal yang baru, namun sebenarnya sudah ada sejak lama dan sangat dekat dengan dunia pendidikan kita.    

Pendidikan karakter sebenarnya bukanlah hal yang tabu dalam dunia pendidikan, sebab pendidikan yang diterapkan selama ini bukan hanya kegiatan mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga merupakan kegiatan untuk merubah pola tingkah laku kearah yang lebih baik. Jika demikian, berarti pendidikan karakter yang akan dilaksanakan sekarang ini, sesungguhnya telah dimulai sejak lama namun belum secara maksimal seperti yang diharapkan saat ini.

Seiring perkembangan zaman dan mulai menurunnya kualitas karakter dan pemahaman terhadap budaya bangsa ini, pendidikan karakter tentunya dilaksanakan dalam rangka lebih mengaktualisasikan dan memunculkan kembali nilai nilai yang sebenarnya telah ada dalam diri generasi bangsa ini. Dengan program ini pula kiranya akan tercipta generasi penerus bangsa yang berkarakter yang dapat dibanggakan, yang diharapkan dapat membawa bangsa ini pada keluhuran moral dan etika.

Dengan demikian pendidikan karakter secara kasat mata dapat berupa pembiasaan - pembiasaan tingkah laku dan sikap yang baik dan terpuji kepada peserta didik yang diwujudkan dengan tindakan langsung yang perlu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Hal ini dapat dilakukan kapan dan dimanapun, baik diluar maupun didalam proses belajar mengajar.

Karakter bukanlah sebuah mata pelajaran yang ilmu pengetahuannya tertulis, tercatat, dapat dibaca, dipelajari dan dihafal  kapan saja atau bisa diakses dimanapun, tetapi ini adalah pembelajaran kearah moral dan etika yang harus diaplikasikan melalui sikap dan perbuatan. Karena bersifat merubah tabiat dari yang telah  biasa dilakukan dan boleh dikatakan telah mengental dan melekat erat dengan pribadi seseorang, maka pendidikan semacam ini tak dapat dipandang sebelah mata.

Merubah pola tingkah laku seseorang adalah perjuangan yang membutuhkan waktu dan proses.  Karena itu program pendidikan karakter memerlukan kerjasama yang baik dari berbagai pihak .  Pendidikan di sekolah dapat dilihat sebagai kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan proses interaksi guru dengan peserta didik yang juga melibatkan unsur unsur seperti kepala sekolah, instansi terkait, lingkungan, masyarakat,  sarana prasarana dan unsur lainnya. Hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi proses pendidikan.

Begitu pula dengan pendidikan karakter nantinya akan tetap melibatkan unsur unsur tersebut. Betapa tidak, sekolah model sebagai sekolah yang akan dipedomani bagi sekolah lain disekitarnya, akan selalu menjadi sorotan berbagai pihak, bahkan tidak tertutup kemungkinan terjadinya  kunjungan kunjungan langsung ke sekolah ini dalam rangka studi banding antar sekolah. 

Penulis berpendapat terdapat sejumlah unsur yang akan sangat berpengaruh pada keberhasilan pendidikan karakter dimaksud.  Diantaranya, berhasil atau tidaknya proses pendidikan karakter akan sangat ditentukan oleh guru sebagai tenaga pendidik yang selalu berintegrasi dengan peserta didik. Guru yang akan menjadi panutan dan tauladan, dimana segala tindak tanduknya diperhatikan, perintahnya dituruti, bahkan sikap dan prilakunya ditiru, saatnya berbenah diri.

Dalam artian, guru harus terlebih dahulu mengkarakteri dirinya sendiri sebelum tampil sebagai pendidik karakter. Guru hendaknya memahami secara mendalam latar belakang, tujuan, visi dan misi dilaksanakannya pendidikan karakter dan menguasai sejumlah indikator indikator pendidikan karakter itu sendiri. Termasuk bagaimana karakter karakter tersebut diintegrasikan kedalam kurikulum dan proses belajar mengajar.

Seperti diungkapkan Achjar Chalil dan Hudaya Latuconsina (2008) dalam bukunya mengatakan, sebelum melaksanakan tugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan dan melatih peserta didiknya, seorang guru harus mampu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan dan melatih jiwanya sendiri. Karena hanya jiwa yang bersihlah yang dapat menjadikan jiwa jiwa disekelilingnya menjadi  bersih. Sapu yang kotor tidak mungkin digunakan untuk membersihkan lantai yang kotor karena hasilnya tidak akan pernah bersih.

Pendapat Achjar Chalil dan Hudaya latuconsina ini sangat sederhana, bila guru tidak siap dengan dirinya sebelum mengajar, maka materi yang diajarkannya tidak akan jelas dan mengambang jauh dari tujuan yang sebenarnya, bahkan tidak menimbulkan pemahaman apa apa terhadap peserta didik. Menguasai secara mendalam tentang pendidikan karakter bagi guru sebelum dirinya tampil sebagai pendidik karakter, tentunya dapat dilakukan melalui pembekalan pembekalan, pendidikan, pelatihan dan sosialisasi terkait program pendidikan karakter nantinya.

Karena itu pihak terkait tentu tidak lupa dan diharapkan dapat menyelenggarakan sosialisasi dan pembekalan bagi guru yang nantinya akan terlibat langsung sebagai tenaga pendidik disekolah sekolah yang ditunjuk sebagai model.

Pembekalan karakter dan kepribadian terhadap guru, kapan dan dalam rangka apapun, bukanlah hal yang berlebihan. Pengelolaan disiplin guru dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, bahkan telah memuat beberapa hal terkait kepribadian dan karakter ideal seorang guru. Contohnya karakter disiplin dengan jam hadir di sekolah dan pulang setelah jam mengajar selesai, mengisi daftar hadir, meninggalkan kelas tepat waktu, membuat program pembelajaran dan tidak meninggalkan sekolah tanpa seizin kepala sekolah.

Dalam disiplin kebersihan dan keindahan, guru juga harus melaksanakan K5, membuang sampah pada tempatnya, berpakaian bersih dan sopan, memeriksa kebersihan anak dan mengatur tempat duduk peserta didik secara berkala.  Dari segi perkataan, guru juga dituntut menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tidak berkata kasar dan sebagainya.  Artinya guru harus menjadi contoh karakter bagi anak didiknya.

Ini baru dilihat dari satu indikator pendidikan karakter saja. Akan terdapat 18 nilai karakter yang akan dikembangkan nantinya seperti dikutip (Koran Singgalang edisi 23 Desember 2011) . Misalnya perilaku jujur, tanggung jawab, religius, kerja keras, mandiri, gemar membaca dan sebagainya yang harus dikuasai oleh guru sebelum tampil sebagai pendidik karakter.

Pola pola seperti inilah nantinya yang akan ditularkan para guru kepada anak didiknya. Guru harus lebih banyak mencontohkan dan tak dapat hanya saling berpandangan mengharapkan suatu keajaiban terjadi pada prilaku peserta didik, hanya dengan ucapan dan kata kata. Namun sebagai suri tauladan, guru harus berada dibarisan paling depan menjadi model karakter yang diharapkan bagi sekian banyak jiwa yang sedang belajar memaknai sikap dan prilakunya masing masing.  

Beranjak dari pentingnya peranan guru dalam pendidikan karakter, unsur kedua yang tidak kalah pentingnya adalah tersedianya fasilitas dan sarana prasarana pendukung di sekolah sekolah karakter seperti penyediaan tempat pembuangan sampah, fasilitas ibadah, perpustakaan, ruang UKS dan sarana lainnya yang akan menggambarkan identitas sekolah berkarakter. Kurangnya alat alat pembersih ruangan di setiap kelas, sehingga sampah berserakan dengan lantai yang kotor, tentu bukan pencerminan dari sebuah sekolah model. Bagaimana pula jika satu lokal memuat lebih dari 40 orang, belajar dalam suasana sangat ribut dengan kursi dan meja seadanya, bahkan ada yang tidak layak pakai.

Kesan apa pula yang akan timbul bagi lingkungan, masyarakat dan sekolah sekolah yang boleh dikatakan sedang berguru kepada sekolah RSBI dan calon RSBI ini, jika tidak dilengkapi dengan sanitasi yang lancar dan bersih, tentulah kondisi ini akan menimbulkan pertanyaan besar dan citra yang kurang berkenan.

Itu baru dilihat dari segi kebersihan dan keindahan. Belum lagi fasilitas vital lainnya seperti kantin kejujuran, tempat ibadah, pustaka dan ruang UKS yang juga dibutuhkan demi kelancaran proses pendidikan karakter tadi. Singkatnya, fasilitas pendidikan di sekolah model nantinya mesti lebih kondisinya dari sekolah biasa, karenanya  perlu menjadi perhatian khusus semua pihak.

Di sisi lain, keberhasilan pendidikan karakter akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan sekolah masing masing. Kepala sekolah sebagai ujung tombak yang menentukan seluruh kebijakan sekolah bersama para guru, harus bahu membahu mendorong terlaksananya program pendidikan karakter. Apapun kebijakan sekolah yang akan dibuat nantinya, sebahagian besar diharapkan dapat menunjang  tercapainya keberhasilan program tersebut. 

Disamping itu, sebagai sekolah karakter yang nantinya akan menjadi teladan bagi sekolah lain, sekolah ini tidak akan lepas dari kontrol dan pengawasan  berbagai pihak. Baik sekolah sekolah, maupun masyarakat sekitar, apalagi  para orang tua peserta didik yang mempercayakan putra putri mereka  menuntut ilmu ditempat itu.

Karena itu, sekolah model karakter diharapkan dapat bekerjasama, dan merangkul unsur - unsur penting dan terkait lainnya yang memungkinkan dapat membantu terwujudnya pendidikan karakter tersebut.  Disinilah diperlukan sosialisasi dan pemberian informasi seluas luasnya dari pihak sekolah kepada masyarakat sekitar, terutama para orang tua peserta didik tentang kebijakan sekolah dalam rangka menerapkan program pendidikan karakter.

Hal ini dilakukan supaya orang tua peserta didik mau memberikan perhatian yang besar dalam menunjang kegiatan kegiatan sekolah, membantu mengarahkan dan mendorong anak anak mereka sejalan dengan apa yang sedang diprogramkan sekolah, baik dalam proses belajar maupun dalam menfasilitasi kebutuhan anak mereka.

Sekolah juga perlu mengadakan hubungan baik secara timbal balik dengan instansi terkait, seperti lurah, RT, RW dan tokoh masyarakat. Selain itu kerjasama pihak sekolah juga dapat diperluas dengan dunia usaha dan lembaga pendidikan lainnya, yang nantinya dapat membantu memotivasi dan memberikan sumbang saran bagi terwujudnya program pendidikan karakter tersebut.

*Guru SDN 03 Pakan Kurai, Bukittinggi, Sumatera Barat


Berita terkait :


Terkini
Terpopuler




 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus