Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Pokok Pikiran

Pendidikan yang Memanusiakan

Senin, 04 Mei 2015

Wikki Yuliandra. (Foto:FokusRiau.Com)

Oleh: Wikki Yuliandra*

Pendidikan sejatinya memanusiakan manusia agar bermanfaat bagi manusia itu sendiri. dalam perjalanan sepanjang sejarah kebudayaan manusia, manusia selalu melewati proses pendidikan yang ditandai dengan belajar… belajar adalah rangkaian aktivitas dalam proses pendidikan yang dia adalah merupakan salah satu indikator terciptanya sebuah peradaban serta kebudayaan bagi dunia ini.

Indonesia memiliki jumlah penduduk terbanyak didunia sehingga dalam Swot analysis, Indonesia seharusnya bisa mengambil peluang menempati Sumber Daya Manusia nya diurutan terdepan dengan Sumber Daya Alam yang mendukung hal tersebut.

Salah satu tujuan nasional yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari sini dapat dilihat bahwa pendidikan sangat perlu untuk dijadikan prioritas dalam mencetak generasi bangsa demi masa depan negara.

Kita tentu pernah mendengar Semboyan “Tut wuri handayani”, atau yang aslinya disebut : ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Filosofi “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani” nyatanya begitu melekat di benak hingga saat ini. Perkembangan ilmu pengetahuan pada akhirnya menemukan bahwa terdapat kesesuaian antara filosofi tersebut dengan kepemimpinan yang ideal untuk bangsa Indonesia.

Ing ngarsa sung tuladha. Filosofi ini memiliki arti bahwa seseorang yang berada di garis depan atau seorang pemimpin, harus bisa memberi contoh kepada para anggotanya. Seorang leader akan dilihat oleh followernya sebagai panutan. Follower tidak hanya memperhatikan perilaku dari seorang leader secara pribadi, namun juga meliputi sejauh mana nilai-nilai budaya organisasi telah tertanam dalam diri leadernya.

Bagaimana cara leadernya dalam mengatasi masalah, sejauh mana leader berkomitmen terhadap organisasi, sampai kerelaan seorang leader untuk mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadinya. Karena itu, sepatutnya seorang leader memiliki karakteristik-karakteristik yang dapat menjadi teladan untuk para followernya. Leader yang memiliki charisma atau seorang pemimpin yang kharismatik akan lebih mudah menjalankan peran ini. Hal ini disebabkan kharisma mereka yang dapat menginspirasi para followernya.

Ing madya mangun karsa. Filosofi ini berarti bahwa seorang leader harus mampu menempatkan diri di tengah-tengah followernya sebagai pemberi semangat, motivasi, dan stimulus agar follower dapat mencapai kinerja yang lebih baik. Melalui filosofi ini, jelas bahwa seorang leader harus mampu mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan followernya. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut, akan memotivasi follower untuk memberikan yang terbaik bagi organisasi. Teori-teori motivasi memiliki peranan penting bagi seorang leader untuk mengaplikasikan peranan sesuai filosofi ke dua ini.

Tut wuri handayani. Filosofi yang terakhir ini memiliki makna bahwa seorang leader tidak hanya harus memberikan dorongan, namun juga memberikan arahan untuk kemajuan organisasi. Arahan di sini berarti leader harus mampu mengerahkan usaha-usaha followernya agar sejalan dengan visi, misi, dan strategi organisasi yang telah ditetapkan. Sebagai dasarnya, leader nilai-nilai organisasi harus tertanam kuat dalam diri masing-masing anggota.

Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani adalah Slogan dari Pahlawan Republik Indonesia, pahlawan Kita Ki Hajar Dewantara. dan apabila digabungkan maka Makna "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani" adalah, apabila di depan Kita harus menjadi Panutan (Seorang Pemimpin), apabila di tengah Kita harus menjadi Penghubung yang Baik dan apabila Kita dibelakang, kita harus memberikan Dorongan, ibaratkan Prajurit dalam Peperangan.

Nah, apalagi bagi pemimpin dan calon pemimpin penerus generasi muda  Indonesia hendaknya meneladani sifat pahlawan kita dan meiliki sifat demikian.
Sebaiknya kita jadikan panutan untuk kehidupan kita sehari-hari dalam aspek apapun. Mau kita pemimpin, kita prajurit atau siapapun sesuai tempatnya kita harus menjalankan dengan baik.

Karna kekuatan suatu negeri sama sekali tidak terletak pada besar atau kecilnya jumlah penduduk dan luas sempitnya negeri. Tetapi pada nilainya dalam menguasai ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan juga dapat menjadikan manusia sebagai pelindung dan pembebas. Tapi juga dapat menjadikan manusia sebagai penjahat yang memusnahkan manusia.

Nah orang-orang yang seperti ini yang harus kita sadarkan agar hak-hak rakyat untuk mengenyam dunia pendidikan tidak lagi dirampas. Karna tak ada orang terpelajar, dimanapun ia bertempat, akan melanggar hak-hak perorangan.

Jikalau ini masih terjadi di negeri kita, apa guna sekolah-sekolah didirikan kalau toh tak dapat mengajarkan mana hak mana tidak, mana benar mana tidak..? Dan kalau sekolah tinggi hanya melahirkan bangsat-bangsat saja, ya akan runtuhlah manusia ini.

Selaku kader HMI, saya selalu menanamkan dalam diri apa yang menjadi tujuan yaitu “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang berlafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” oleh karena itu kita sekarang selaku orang yang terpelajar harus menjadi contoh yang baik mulai dari saat ini dan kedepannya. Ayo bersama sama mendidik bangsa. Karna tidak ada kebenaran jatuh dari langit begitu saja, dia mesti di perjuangkan untuk menjadi benar. "Yakin Usaha Sampai"

Selamat Hari Pendidikan Nasional

* Gubernur BEM FEKON Universitas Pasir Pengaraian



Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus