Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Kolom

PKS Jangan Kebakaran Jenggot

Selasa, 14 Mei 2013


Oleh: Bambang Arianto*

Kasus suap impor daging mulai memasuki lembaran baru. Langkah KPK melakukan penyitaan enam mobil Lutfhi Hasan Ishaaq di Kantor DPP PKS adalah bentuk maju dari proses hukum mantan presiden PKS tersebut. Sayangnya, yang terjadi sekarang bagai permainan anak kecil, yaitu perlawanan DPP PKS terhadap KPK.

PKS menilai, penyidik KPK menyalahi prosedur dengan tidak membawa surat penyitaan. Hal ini berlanjut dengan melaporkan Juru Bicara KPK, Johan Budi ke Mabes Polri, karena dinilai mencemarkan nama baik PKS.

Sekarang ini, apa yang dilakukan PKS memang cukup wajar. Tetapi yang dilakukan KPK juga masih sangat wajar dalam posisinya sebagai lembaga pemberantasan korupsi. Untuk itu, saya menilai PKS jangan seperti kebakaran jenggot dengan kejadian tersebut. PKS harus lebih dewasa, legowo dan harus menanggapi apa yang dilakukan KPK sebagai upaya memperbaiki PKS dari perlakuan oknum yang membebani partai dan bukan sebaliknya. PKS sudah seharusnya mendukung apa yang dilakukan oleh KPK, bila benar PKS juga menjunjung tinggi gerakan anti korupsi.

Apa yang diserukan PKS tentang KPK sebagai agen konspirasi politik atau permainan kelompok kepentingan, sungguh sangat disayangkan. Saya melihat di tataran kader PKS terhembus sebuah penanaman isu, kalau KPK dan ICW merupakan sebuah lembaga yang tidak dipercaya dan dihinggapi kepentingan politik tertentu. Bila hal ini dibiarkan terus yang dirugikan juga PKS, karena yang menilai baik buruknya itu rakyat.

Kan anda tahu sendiri bila rakyat lebih percaya sama KPK dan bukan PKS, ini jelas akan menjadikan sebuah bumerang bagi elektabilitas PKS. KPK itu milik rakyat Indonesia. Nah kalau PKS tidak percaya dengan KPK dalam pemberantasan korupsi, berarti PKS melawan rakyat Indonesia. Bila PKS masih seperti orang yang kebakaran jenggot dengan membuat perlawanan yang aneh-aneh, hal ini akan dapat membuat rakyat akan membenci PKS. Cobalah PKS meminta pendapat rakyat umum bagaimana pendapat mereka dengan perlawanan PKS ini. Kalo meminta pendapat kader PKS ya bisa dipastikan mereka akan membela sampai mati PKS, tapi masyarakat umumkan belum tentu.

Masalah Ahmad Fathanah, biarlah rakyat yang menilai apakah dia kader atau bukan. Kita juga nggak bisa menyalahkan media yang membesar-besarkan bahwa Ahmad Fhatanah sebagai kader PKS, karena inikan ada kaitannya dengan mantan Presiden PKS. Jadi wajar-wajar saja bila rakyat menilai PKS dan Ahmad Fathanah sama saja, yang lebih penting bagi PKS saat ini adalah melakukan konsolidasi dan merapatkan barisan untuk menghadapi pemilu.

Kalo PKS masih sibuk dengan urusan ini dipastikan energi untuk pemilu 2014 akan terkuras, lagipula tantangan PKS akan lebih berat disatu sisi harus memperbaiki citra buruk dan disatu sisi harus mengaet suara sebanyak mungkin. Dalam hal ini, rakyat pasti mendukung KPK, karena KPK milik rakyat Indonesia. Saya berharap, Abraham Samad tidak gentar sedikit pun dengan ancaman PKS. Buktinya sekarang PKS melunak, padahal sebelumnya PKS sempat mencak-mencak dan marah-marah pada KPK bahkan sampai melaporkan KPK ke polisi.

Lah bila seperti ini terus PKS bisa dinilai tidak mendukung pemberantasan korupsi. Misal seperti masalah penyitaan mobil LHI, kemarin PKS menghalagi dengan menurunkan barisan korsat atau semacam kesatuan elit PKS ketika mobil LHI itu mau disita eh sekarang malah melunak sampai memasang spanduk segala, ini ada apa dengan PKS, kok jadi gugup dan panik banget. Rakyat akan menilai kenapa PKS jadi aneh begini dan bisa-bisa rakyat akan terus mencari tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi di tubuh PKS.

Saya nilai rakyat pun akan mulai curiga dengan sepak terjang PKS, jangan-jangan PKS benar-benar terlibat dalam kasus impor daging ini. Saya berharap kader-kader PKS, seperti Fahri Hamzah maupun kader yang lain harus tenang menghadapi hal ini. Cobalah bersifat dewasa dan memaknai hal ini sebagai sebuah dinamika politik, karena yang menilai kemajuan PKS adalah rakyat Indonesia. Coba bayangkan seluruh rakyat Indonesia melihat sikap Fahri Hamzah yang berapi-api melawan KPK, hal ini justru akan membuat rakyat Indonesia mikir-mikir mencoblos PKS.

Bila rakyat sudah antipati terhadap PKS bisa dipastikan elektablitas PKS turun dan paling akan berkisar dikisaran 2-4 persen atau sekitar 2juta, angka ini didasarkan dari jumlah kader dan simpatisan PKS. Saya sangat berharap PKS lebih menampilkan kesan bersahabat dan dewasa dalam kasus impor daging. Bila benar katakan benar dan bila salah ayo katakan salah, walau itu terasa pahit.

Kita mendukung pernyataan ICW melalui Febri Diansyah yang menyebutkan, bila terbukti terlibat PKS bisa dibubarkan. Walau hal ini masih baru di Indonesia akan tetapi ini bisa dijadikan sebagai shock teraphy dalam upaya pendewasaan parpol di tanah air. Siapapun parpolnya bila terlibat TPPU ya sah-sah saja bila dituntut dan dibubarkan, karena parpol juga korporasi. (***)

* Peneliti di Bulaksumur Empat Research and Consulting (BERC) Yogyakarta.



Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus