Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Advetorial

Potensi Besar Kekayaan Laut Telah Membawa Rokan Hilir Mendunia

Rabu, 05 Desember 2018

Bupati Suyatno mengunjungi perkampungan nelayan di Rohil. (Foto:Humas/FokusRiau.Com)

ROKAN HILIR-Sejarah telah mencatat, Kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau pernah menjadi eksportir ikan terbesar kedua di dunia, setelah Kota Bergen, Norwegia. Bagan Siapiapi yang saat itu masih tergabung dengan Kabupaten Bengkalis menjadi pusat pendaratan ikan terbesar di dunia. Ada ratusan kapal trawl saat itu mendarat di Bagansiapiapi.

Berton-ton ikan, mulai dari ikan basah segar, ikan atau udang kering dan ikan asin atau terasi telah diekspor dari kota ini ke berbagai tempat di belahan dunia. Dalam satu tahun, hasil tangkapan ikan bisa mencapai 150.000 ton. Ekspor hasil laut terus berkembang menjadi salah satu pilar ekonomi rakyat.

Akan tetapi, sangat disayangkan ketika semua kelebihan Bagansiapiapi itu kini tinggal sejarah. Nama Bagan Siapiapi dengan kekayaan hasil lautnya, sekarang telah memudar seiring dengan berkurangnya sumber daya perikanannya. 

Hal ini terjadi akibat dampak dari eksplorasi yang dilakukan secara terus menerus dengan menggunakan kapal pembawa pukat harimau yang membuat semua faktor
penunjang yang memenuhi kebutuhan ikan rusak, bahkan susah untuk kembali seperti sedia kala.

Belajar dari kejadian itulah, Pemerintah menetapkan pukat harimau sebagai alat tangkap yang dilarang. Akan tetapi, dalam prakteknya saat ini masih banyak yang menggunakan alat tangkap terlarang itu. Hanya saja, sekarang namanya diubah dan dimodifikasi, namun prinsip kerja dari alat tangkap tersebut tetap sama.

Pemkab Rokan Hilir saat ini terus berupaya menggembalikan predikat yang dahulunya pernah meraih sebagai daerah penghasil ikan terbesar didunia. “Memang dulunya Bagan Siapiapi penghasil ikan terbesar kedua di dunia dan kami ingin predikat itu bisa diraih kembali. Upaya-upaya yang kami lakukan salah satunya memberikan bantuan kepada para nelayan setiap tahunnya,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Rohil M Amin.

Dinas Perikanan dan Kelautan Rohil mencatat, hasil tangkapan nelayan tahun 2013 lalu hanya 47.511,81 ton dengan rincian 46.781 ton atau sekitar 98,46 persen merupakan hasil perikanan laut dan perairan umum. Sedangkan hasil tangkap nelayan budidaya hanya 730,81 ton atau 1,54 persen.

“Jika hasil tangkap perikanan nelayan dibandingkan dengan tahun sebelumnya dengan total produksi ikan 57.850 ton, maka terjadi penurunan pada tahun 2013 lalu sebesar 17,87 persen,” katanya.

Untuk hasil tangkap nelayan tahun 2014, tercatat produksi ikan sebanyak 33.847,46 ton, dimana 49.141 ton atau 98,00 persen merupakan hasil tangkap perikanan laut dan perikanan umum. Sementara untuk hasil tangkap ikan budidaya sebesar 1.089,76 ton atau 2,00 persen.

Hasil tangkap nelayan ini juga terjadi penurunan dari tahun 2013 lalu sebesar 16,79 persen. Dengan kondisi yang terjadi dua tahun terakhir itu, tentunya sangat berimbas bagi perekonomian para nelayan meskipun laut Rohil masih banyak menyimpan potensi perikanan yang siap untuk dikembangkan. 

Meski demikian, untuk meraih kejayaan tersebut dalam beberapa tahun terakhir pemerintah daerah telah membuat program dengancara melakukan pembinaan dan memberikan berbagai bantuan alat tangkap agar para nelayan bisa hidup sejahtera.

“Upaya ini kami lakukan untuk memperkuat para nelayan dari yang tidak bersemangat menjadi lebih semangat. Pemberdayaan yang dilakukan itu juga sesuai dengan peraturan pemerintah nomor 50 tahun 2015 tentang pemberdayaan nelayan dan budidaya ikan,” katanya.

Bantuan Armada Boat
Sebelumnya, Dinas Perikanan dan Kelautan Rokan Hilir telah menyalurkan bantuan Armada Boat berkapasitas 1 Gross Tonnage (GT) dan 3 Gross Tonnage Kepada nelayan pesisir Rohil, bantuan kapal untuk nelayan yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2016. Bantuan Armada berupa boat yang dilengkapi alat pendeteksi ikan (Fish Finder) ini diberikan agar nelayan dalam melaut bisa berlayar lebih jauh ke tengah.

Untuk Nelayan pesisir seperti nelayan Bagansiapiapi, Panipahan dan Sinaboi tahun 2016 lalu selain diberikan bantuan alat tangkap perikanan juga akan diberikan bantuan Armada Boat sebanyak 40 unit. Sebanyak 40 Unit armada yang akan diberikan kepada nelayan itu berkapasitas 3 GT sebanyak 20 unit dan 1 GT sebanyak 20 unit.
 
 
Bupati Suyatno melakukan panen perdana bersama pembudidaya ikan air tawar di Rohil. (Foto:Humas/FokusRiau.Com) 
 
Budidaya Ikan Air Tawar
Dinas Perikanan dan Kelautan kini juga terus berupaya meningkatkan sektor perikanan dengan melakukan pegembangan bibit ikan air tawar. Selain itu Diskanlut juga mengupayakan bantuan alat tangkap ikan bagi nelayan.

“Untuk pengembangan ikan air tawar kami sudah membuat tempat pembenihan ikan di daerah Ujung Tanjung. Tahun kemarin saja kami sudah berhasil menbenihkan ikan air tawar sekitar 200.000 ekor benih dari jenis ikan selais, baung, lele serta ikan nila. Ikan hasil pembenihan tersebut kami sebar keseluruh daerah Rohil dalam bentuk bantuan bagi peternak ikan kerambah maupun kolam,” ujar Amin.

Sesuai visi-misi Bupati yang akan meningkatkan program di sektor perikanan, Diskanlut Rohil secara umum anggarannya terus meningkat, terutama program bantuan bagi nelayan kecil. “Bantuan yang kami berikan kepada nelayan berupa boat, alat deteksi ikan (fish finder), jaring, fibre box serta mesin boat," tuturnya.(advertorial/humas protokol)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus