Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Pendidikan

Potret Pendidikan di Kota Padang, Mereka Terpaksa Belajar di Ruang Darurat

Kamis, 08 Maret 2018

Para murid belajar dalam ruangan darurat. (Foto:Haluan)

PADANG-Meski harus belajar dalam ruang darurat dan jauh dari kata layak, namun kondisi tersebut tidak menyurutkan minat para murid Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN) 7 Seberang Palinggam, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat untuk terus menuntut ilmu. 

Di sekolah agama negeri ini, terdapat dua ruangan berdindingkan papan dengan jendela dari kawat pagar wajik yang sudah tidak layak pakai. Di sini merupakan ruangan belajar untuk murid kelas I.

Wakil Kepala MIN 7 Padang Zalidin mengaku sangat menyayangkan kondisi sekolah yang sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Kelas I memiliki dua ruang belajar dan terpaksa harus bergantian dengan murid kelas II. Kondisi tersebut tentu saja menganggu Proses Belajar Mengajar (PBM).

Melalui inisiatif pihak sekolah dan dukungan masyarakat, kemudian dibangun ruang sekolah dengan anggaran seadanya tanpa bantuan Pemko Padang. “Sebelumnya, ruang kelas I ini tidak layak digunakan untuk PBM. Kemudian direnovasi. Karena tidak memiliki anggaran, atas inisiatif bersama melalui swadaya masyarakat dan pihak sekolah terkumpul dana sebesar Rp15 juta,” ucap Zalidin, beberapa waktu lalu.

Diceritakan, pertama kali dibangun masyarakat adalah Sekolah Islam (SI) tahun 1955. Seiring berjalan waktu, beberapa tahun karena banyaknya siswa mendaftar maka masyarakat meminta agar dibangun SD dan SI. Karena itu kemudian dibangun SDN 25. PBM berjalan bergantian, dimana pagi ruangan itu digunakan murid SI dan siang oleh murid SD.

“Tahun 1997 mendapatkan ada hibah bangunan dari Kementrian Agama pusat dan tahun itu juga SI dialihkan status menjadi negeri. Karena terdapat dua sekolah berdampingan, dikuatirkan akan mempengaruhi kualitas pendidikan anak. Karena itu, pihak sekolah bersama masyarakat Seberang Palinggam kemudian bermusyawarah untuk menyepakati apakah akan mempertahankan SI atau SD. Sesuai keputusan masyarakat, akhirnya dipertahankan SI yang kemudian menjadi MIN,” ujarnya dikutip FokusRiau.Com dari harianhaluan.

Pihak sekolah, kata Zalidin sudah pernah meminta bantuan kepada berbagai instasi di Kota Padang untuk membenahi lokal darurat tersebut. “Kami telah meminta bantuan ke beberapa instansi, termasuk DPRD Padang dan PT Semen Padang untuk membenahi bangunan sekolah. Untuk saat ini kami memiliki tujuh ruangan belajar, karena kelas I memiliki dua ruangan dan jumlah siswa MIN 7 Padang untuk saat ini 174 orang. Alhamdulillah tiap tahunnya meningkat,” tukasnya. (boy surya hamta)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus