Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Politik

Profesor Unri Nilai Syamsuar Merupakan Pemimpin yang Bersih

Selasa, 09 Januari 2018

Prof. Sujianto. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU-Guru Besar Universitas Riau (Unri) Prof Sujianto menilai, ketiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Riau yang akan bertarung di Pilgubri memiliki peluang sama besar untuk menang. Namun, masing-masing paslon harus ekstra kerja keras untuk mendapatkan simpati masyarakat. 

"Untuk saat ini, ketiga paslon (Arsyadjuliandi Rachman-Suyatno, Syamsuar-Edi Natar Nasution dan Firdaus-Rusli Efendi), sama-sama berpeluang menang, walaupun harus kerja keras hingga pencoblosan, " kata Prof Sujianto menjawab FokusRiau.Com, Selasa (9/1/2018) di Pekanbaru.

Meskipun demikian, kehadiran pasangan Syamsuar-Edi Natar pada pilgubri tahun ini memberi warna tersendiri bagi masyarakat Riau. Sebab, selama memimpin Siak sejak tahun 2011, Syamsuar dinilai pemimpin yang bersih dan dikenal oleh kalangan elite di Riau dan nasional.

"Dia sosok sederhana, agamis dan bersih. Masyarakat Riau butuh pemimpin seperti ini. Wakilnya, Edi Natar di kalangan keluarga militer tak asing lagi, tapi butuh sosialisasi lagi," ujarnya. 

Dilihat historisnya, lanjut Profesor,  Edi Natar secara emosional dan primodial dikenal dalam dua wilayah yaitu geobudaya dan geososial seperti Rokan Hulu dan  Bengkalis dan ini akan merekatkan goepolitik yang semakin kuat. "Gabungan sosok Syamsuar dan Edi Natar memberikan keanekaragaman atau kebhinekaan. Ini menunjukkan jati diri Riau dan memdisfusikan budaya dalam jiwa kemasyarakatan," ulasnya. 

Terkait dukungan partai politik dapat mempengaruhi suara pasangan calon, kata Profesor, hal itu tidak menjadi alasan yang dominan."Partai memang perlu tapi tidak dominan, apalagi saat ini kridibilitas partai dipertanyakan. Sekarang, figur yang sangat menentukan," ujarnya. 

Prof menilai, sekitar 4 juta lebih masyarakat Riau yang memiliki hak suara pada pilgubri 2018 nanti, 40 persen atau 1,6 jiwa masuk golongan pemilih intelektual yang idealis.

Golongan ini tak bisa disogok atau dibayar, mereka menentukan pilihan sesuai prestasi dan kerja nyata yang sudah dilakukan calon selama menjadi pejabat. Nama baik, prestasi dan sikap bagi mereka lebih utama dari faktor lain. Mereka ini pemilih yang cerdas,” kata Pengamat Politik Riau ini. 

Golongan yang termasuk jumlah besar lainnya adalah kaum oportunitas, dimana pilihan mereka tidak kaku dan juga tidak lunak. Golongan ini akan menentukan sikap politik apabila kebutuhan mereka dipenuhi.Menurut Sujianto, terdapat sekitar 30-40 persen dari jumlah DPT pada pilgubri nanti masyarakat yang masuk ke dalam golongan oportunitas tersebut. Mereka siap menerima uang dari tim pasangan calon manapun, tapi untuk pilihan saat berada di TPS, sulit ditebak. Bahkan, parahnya kalau ada tiga pasang calon yang maju, dua calon diantaranya memberi mereka uang, tapi pilihannya akan jatuh ke calon yang tak memberi mereka uang.

"Istilah mereka rezeki jangan ditolak, dikasih uang terima saja, tapi jangan pilih orangnya. Pilih yang baik, calon yang tak kasih uang saja. Ada banyak kaum intelektual berada di golongan oportunitas ini,” sebut Profesor.

Kemudian ada juga sekitar 20 persen golongan pemilih baik alias sopan. Apapun kata orang, mereka tetap mendukung calon yang disukainya karena adanya hubungan kedekatan, baik secara pribadi, kesukuan, keluarga atau kepentingan politik. 

“Walaupun calon yang didukungnya tak bagus, tak punya nilai jual, tapi mereka tetap setia memberikan dukungan. Kalah menang bagi mereka urusan belakangan. Istilah sekarang mereka ini masuk golongan militan. Kalau arahannya A, dia pasti pilih A tak mau neko-neko apalagi berkianat," tutup Guru Besar Universitas Riau ini. (satria donald)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus