Situs Portal Berita Riau
bintang florist
facebook twitter fokusriau on google plus
Pokok PikiranProspek Studi Islam di Maroko

Kamis, 09 Mei 2013 - 08:17:55 WIB
Prospek Studi Islam di MarokoOleh: Muannif Ridwan*
 
Negeri Maghrib atau Matahari terbenam. Ketika kita mendengar kalimat tersebut, pastinya pikiran kita akan langsung tertuju ke Afrika Utara, tepatnya di Kerajaan Maroko.

Maroko... Negara Islam yang ber-madzhab Maliki tulen dan terletak di ujung barat dunia Islam. Agama Islam di negeri ini dikembangkan dengan menghargai tradisi lokal, seperti yang dilakukan para dai atau wali songo ketika menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Maroko kini dikenal sebagai negara Arab yang gaul dengan nuansa Eropanya yang kuat, tetapi tak mau kehilangan akar tradisi Arab dan Islam. Kebebasan berpendapat dan tradisi berpikir sangat terbuka di negeri Ibnu Batutah ini. Pemerintah tidak memaksa rakyatnya untuk berpola pikir secara kaku atau seragam.

Barangkali salah satunya karena faktor penguasa Maroko sekarang, Raja Muhammad VI merupakan lulusan Eropa yang berpikiran Modern. Dia bertekad memodernisasi Maroko, namun tetap melandaskannya kepada ajaran Islam. Wajar kalau berbagai aliran Islam banyak berkembang di negeri ini, seperti Islam Salafi atau yang biasa dikenal dengan Islam garis keras.

Prospek belajar Islam di Maroko
Maroko mulai banyak diminati para mahasiswa Indonesia untuk belajar berbagai ilmu keislaman. Berbagai manfaat bisa dirasakan mahasiswa Indonesia yang belajar di sana. Selain mendapat disiplin ilmu yang diambilnya, para mahasiswa juga bisa berlatih berbahasa Perancis, karena sebagian besar penduduk Maroko kesehariannya menggunakan bahasa Perancis yang merupakan bahasa keduanya setelah bahasa Arab. Selain itu, bahasa Perancis juga diajarkan di kampus-kampus di Maroko, bahkan menjadi mata kuliah wajib.

Salah satu keunggulan Maroko sebagai tempat tujuan belajar adalah ilmu Maqashid Syariah-nya. Maqashid Syariah merupakan ilmu yang menjadikan wisdom (hikmah) sebagai salah satu pertimbangan dalam pengambilan dan penetapan hukum Islam. Imam Syatibhi adalah orang pertama yang mengkaji Maqashid Syariah, bahkan ia dianggap sebagai bapak Maqashid Syariah pertama. Ia mempunyai karya monumental, Al-Muwafaqaat, kitab inilah yang menjadi santapan dan rujukan utama dalam mengkaji ilmu Maqashid Syariah, terutama bagi ilmuan Maghrib Arabi (barat arab) dan timur tengah lainnya.

Selain kitab Al Muwafaqat karya ulama Andalusia itu, banyak juga karya-karya ulama asli Maroko yang mengkaji tentang Maqashid Syariah, antara lain: Maqashid al-Syariah al-Islamiyah wa Makarimuha (Syeikh ‘Allal al-Fasi), Nadzariyat al-Maqashid ‘Inda al-Imam as-Syathibi (Dr. Ahmad Ar-Raisuni), dan Al-Fikr al-Ushuli wa Isykaliyat as-Sulthah al-Ilmiyah fi al-Islam: Qira’ah fi Nasy’at Ilm al-Ushul wa Maqashidus Syari’ah (Dr. Abdul Majid as-Shughair). Hampir seluruh kampus Islam di Maroko membuka jurusan untuk mempelajari Maqashid Syariah.

Di bumi yang berjuluk “Negeri Senja” ini, para mahasiswa juga bisa mempelajari lebih dalam madzhab Maliki. Madzhab Maliki ini menjadi panutan mereka, baik dalam berfiqih maupun ber-ushul. Bahkan Amirul Mukminin (julukan untuk raja Maroko) memfatwakan untuk mengikuti satu madzhab, yaitu Madzhab Maliki. Sehingga madzhab maliki ini menjadi madzhab resmi kerajaan Maroko. Maka tak heran, jika kajian-kajian keislaman tentang madzhab Maliki sangat lengkap di negeri ini.

Lain lubuk lain ikan, lain ladang lain belalang, maka lain madzhab, lain teori/pandangan.Tak usah heran, ketika anda berada di Maroko melihat parktek-praktek peribadatannya sangat jauh berbeda dengan apa yang sering kita lihat di Indonesia, yang mayoritas masyarakatnya menganut madzhab Syafi’i.

Fenomena inilah yang kadang menjadi dilema bagi saya ketika mencoba mencicipinya. Berpindah madzhab memang secara Fiqih tidak ada salahnya. Tapi bagi saya berpindah madzhab itu tak ubahnya seperti bergantinya menu makan dari nasi ke roti yang kadang-kadang membuat perut saya ini belum sanggup menerimanya. Maklum saja, ketika saya di pesantren salaf belum pernah mencicipi karya-karya Imam Malik atau pun pengikutnya. Lagi-lagi pasti beraroma syafi’i, seperti fiqih wadih, fathul qarib, fathul mu’in, al-Um, ar-Risalah, al-Mustasfa, dan sebagainya yang biasa menjadi santapan para santri di pesantren-pesantren salaf di Indonesia.

Fenomena semacam ini, bagi saya tentu menjadi sesuatu yang unik, dan menarik dikaji. Misalkan saja, ketika saya melihat bagaimana orang Maroko bisa berwudlu hanya menggunakan air satu gelas. Apalagi kalau bertayamum, mereka hanya menggunakan sebuah batu sebesar biji salak, dengan cukup menggosok-gosokkannya ke muka dan pergelangan tangan. Yang lebih mantap lagi, yaitu seorang khotib jum’at yang minum saat berkhutbah, dan masih banyak lagi tentunya, fenomena-fenomena yang lain tentang penerapan fiqih Maliki yang mungkin dianggap “aneh” oleh sebagian kita yang biasa mempraktekkan fiqih Syafi’i. Bahkan barangkali kita bisa “dikafirkan” atau dianggap “sesat” oleh sebagian masyarakat kita, ketika kita mengamalkan peribadatan ala Maliki seperti ini.

Di sisi lain, fenomena semacam ini tentu akan memperkaya wawasan kita, mengingat kondisi Indonesia yang sebagian besar umat Islam hanya familiar dengan madzhab Imam Syafi’i dan bisa kita jadikan perbandingan dengan madzhab yang selama ini dikenal dan dianut oleh umat Islam di Indonesia.

Maroko, Negeri Para Wali dan Sufi
Mungkin anda masih ingat legenda Wali Songo (Sembilan wali) penyebar Islam di tanah Jawa. Konon, salah satunya berasal dari Maroko, yaitu syeikh Maulana malik Ibrahim yang dikenal dengan sebutan syeikh Maulana al Maghribi. Makanya tak bisa dipungkiri, kalau di Maroko ternyata ada juga tradisi yang mirip kenduri seperti layaknya di Indonesia. Karena budaya kenduri yang berkembang di Indonesia itu, konon juga merupakan kenang-kenangan yang dibawa oleh wali Songo.

Nah, satu hal lagi yang juga menjadi keunggulan bagi para mahasiswa Indonesia untuk belajar di Maroko adalah menikmati kajian tentang tasawuf, karena Maroko dikenal dengan Biladus Sufiyah (Negeri para sufi). Termasuk syeikh Tijani, pendiri Tareqat Tijaniyah yang terkenal di tanah air itu makamnya terdapat di Maroko, tepatnya di kota Fez.

Di Maroko, kita bisa melihat bagaimana tempat berzikir para sufi yang disebut dengan Zawiyah. Tempat seperti ini terdapat hampir di setiap sudut kota di Maroko. Namun saat ini dengan kuatnya arus gerakan “salafi” di Maroko yang sering mem-bid’ah-kan dan menuduk sesat ajaran sufi itu, banyak zawiyah-zawiyah yang sepi ditinggalkan penghuninya. Akan tetapi sejarah telah mencatat, bahwa di negeri Ibnu batuthoh ini telah bermunculan banyak Zawiyah bak jamur di musim hujan. Terlihat dari bangunan-bangunannya yang masih berdiri kokoh dan banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara, baik untuk berziarah mencari berkah maupun hanya sekedar berwisata.

Tentu penasaran kan? Nah, Sekedar Informasi, bahwa pemerintah Kerajaan Maroko telah memberikan 15 kuota beasiswa jenjang S-1 setiap tahunnya yang ditangani langsung oleh Kemenag RI, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (http://www.ditpertais.net/) dan 15 kuota lagi untuk jenjang S-1, S-2 dan S-3 yang ditangani Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) (http://www.nu.or.id/).

Bagi warga Indonesia yang mau berkunjung ke Maroko, tak perlu pusing dengan persoalan visa, karena Maroko sudah membebaskan visa bagi WNI selama tiga bulan. Tentu itu merupakan sebuah bukti betapa erat hubungan diplomatik Indonesia-Maroko yang telah lama dijalin sejak era Bung Karno dan Raja Mohamed V. Selamat berkunjung ke Maroko… (***)

*Putra Indragiri Hilir dan Mahasiswa S1 Jurusan Islamic Studies di Universita Imam Nafie, Tanger-Maroko. email: anifr@ymail.com
mobile: +212633755960. PIN BB: 26ADE27C

Prospek Studi Islam di Maroko



Berita terkait :


Terkini
Terpopuler




 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus