Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Daerah

Ratusan Imigran Demo di Pekanbaru, Tuntut Pengembalian ke Negara Tujuan

Kamis, 08 Agustus 2019

Aksi demonstrasi imigran. (Foto: Merdeka.com)

PEKANBARU-Ratusan Warga Negara Asing (WNA) asal timur tengah menggelar aksi demonstrasi di kantor International organizations for migration (IOM) Gedung Graha Pena, Pekanbaru, Riau, Kamis (8/8/2019). Mereka berasal dari negara konflik seperti Afghanistan, Somalia, Sudan, Iraq, Iran, Palestina.

Mereka mengaku bertahun-tahun mengungsi di Indonesia. Saat ini, mereka ingin ke Negara tujuan, yaitu egara ketiga yang ditunjuk United Nations atau Perserikatan bangsa bangsa seperti Kanada dan Australia.

Saat berunjuk rasa, mereka membawa anak-anak yang masih sekitaran usia 4 tahun ke atas. Dengan bermodal karton bertuliskan aspirasi melalui bahasa Inggris, mereka menduduki halaman luar kantor Graha Pena di Panam Pekanbaru, yang dijadikan kantor IOM.

"Kami sudah terlalu lama di sini. Kami seolah tidak memiliki masa depan. Kami punya keluarga dan anak-anak. Tapi mereka tidak peduli dengan kami," ujar seorang pengungsi asal Afghanistan, Azzad saat dikonfirmasi dengan menggunakan bahasa Inggris.

Azzad dan para imigran lainnya datang di bawah perlindungan Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi atau United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Namun mereka mengaku kurang diperhatikan.

Mereka tidak mendapat kepastian dari UNHCR, termasuk tujuan ke negara ketiga seperti Australia, dan Kanada. Ada 1.000 imigran yang mengungsi di Pekanbaru hidup dalam ketidakpastian. "Don't forget us, (jangan lupakan kami)," lirih Azzad.

Mirisnya, anak-anak mereka tidak mendapat akses pendidikan, begitu juga dengan para pengungsi dewasa yang tidak memperoleh pekerjaan. "Kami sangat dilupakan," ucapnya.

Azzad dan imigran lainnya menyadari kebijakan negara ketiga seperti Australia dan Amerika yang tidak lagi menerima pengungsi seperti mereka. Namun, mereka butuh kepastian ditempatkan di negara manapun asal mendapat kebebasan. "Kami ingin diperlakukan sebagai manusia," ujarnya.

Beberapa spanduk yang dibawa para pencari suaka asal Afganistan, Sudan, Iran, Iraq dan Palestina itu bertuliskan "Please pay attention to the forgotten refugees in Indonesia", "Please hear our poor voice", "We ask for justice and equity". '6 Years we are refugees'. 'We ask for justice and equity'. Juga ada tulisan, 'Stress, humilation, uncertainty, anxiety kill us gradually'.

Azzad dan teman-teman seperjuangannya tidak berarti menentang pemerintah atau masyarakat Indonesia. Dia mengaku selama ini telah diperlakukan dengan baik oleh masyarakat Pekanbaru.

Mereka berunjuk rasa hanya bertujuan untuk menunjukkan kepada UNHCR dan dunia bahwa ada 14.000 pencari suaka se Indonesia, dan 1.000 di antaranya yang terlupakan di Pekanbaru. "Tolong dengarkan suara kami. Lihatlah wajah-wajah kami. Ada begitu banyak pengungsi di sini," keluhnya.

Aksi damai yang digelar para pencari suaka itu mendapat pengawalan puluhan personel polisi. Hingga berita ini diturunkan, belum ada perwakilan IOM maupun UNHCR yang menemui mereka. Sebelumnya, aksi serupa juga digelar para pencari suaka di sejumlah wilayah di Indonesia seperti Tanjung Pinang, Kepulauan Riau serta di Jakarta.

Kapolsek Bukit Raya Kompol Bainar menyebutkan, pihaknya hanya sebagai pengamanan dalam aksi unjuk rasa tersebut. "Mereka minta bertemu dengan pihak IOM, dan kita minta perwakilan mereka untuk bertemu dan menyampaikan aspirasi saudara-saudara kita ini kepada IOM," kata Bainar di lokasi. (*)




Editor: Evi Endri
Sumber: Merdeka.com


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus