Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Utama

Riau Berasap: Udara di Pekanbaru, Rohil, Siak dan Dumai Berbahaya‎ untuk Dihirup

Minggu, 15 September 2019

Kualitas udara berdasarkan ISPU. (Foto:Merdeka.com)

PEKANBARU-Empat daerah di Riau ini memiliki udara dengan kualitas berbahaya untuk dihirup. Memburuknya udara tersebut diakibatkan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin pekat. Sementara dua daerah lainnya sekarang dalam kategori tidak sehat.

Kepala LP3E Wilayah Sumatera Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Amral Fery mengatakan, tolak ukur kualitas udara berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), Minggu sore pukul 15.00 WIB.

"Alat pengukur kualitas udara menunjukkan empat daerah memasuki level berbahaya, dan dua daerah lainnya tidak sehat," ujar Amral.

Dijelaskan, ke empat daerah dengan udara berbahaya untuk dihirup itu adalah Kota Pekanbaru, Rokan Hilir, Dumai dan Siak. Sedangkan dua daerah lain yang dinyatakan tidak sehat adalah Bengkalis dan Kampar.

Menurut Amral, polutan standar indeks (PSI) keempat daerah ini rata-rata telah berada di atas 300 atau kategori warna hitam. Untuk Pekanbaru, terdapat tiga papan ISPU yaitu display KLHK di Pekanbaru dengan kualitas udara Tidak Sehat (189 Psi), display DLHK Pekanbaru menunjukkan kualitas Tidak Sehat (139 Psi), alat ISPU Chevron di Rumbai kategori Berbahaya (di atas 300 Psi).

Lalu alat ISPU Chevron yang berada di Minas Kabupaten Siak kualitas udara kategori Berbahaya (300 Psi). Di Dumai kualitas udara berbahaya (300 Psi). Sementara di Rokan Hilir dari dua papan ISPU di Bangko kualitas sedang (76 Psi) dan Libo kualitas udara Berbahaya (300 Psi).

"Di Bengkalis dari dua alat ISPU milik Chevron yang berada di Duri Camp dan Duri Field juga menunjukan sedang dan tidak sehat. Di Kampar alat ISPU yang berada di Petapahan kategori tidak sehat (143 Psi)," katanya.

Menurut Amral, dengan adanya peringatan udara level berbahaya itu, ‎kepala daerah di wilayah itu bisa menetapkan status darurat pencemaran udara akibat asap Karhutla.

Sebab, dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara menjadi dasar hukumnya. "Dalam PP itu, maka kita rekomendasikan, kepala daerah sudah bisa menetapkan status darurat pencemaran udara," tukasnya. (*)



Penulis: Febridianto
Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Merdeka.com


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus