Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Properti

Rumah Murah Sepi Pembeli, Pengembang Keluhkan Sulitnya Akad KPR di Bank

Rabu, 04 Mei 2016

Sulitnya proses akad di Bank menjadi alasan lambatnya penjualan. (Foto:Int)

JAKARTA-Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) menemukan realisasi penjualan rumah murah belum mencapai target. Sampai akhir kuartal pertama tahun ini, realisasi penjualan rumah murah baru 20.000 unit. Padahal, target penjualan di kuartal pertama 2016 mencapai 40.000 unit.

"Kalau kita sih patokannya bukan yang dibangun, kita (patokannya) yang terjual. Yang dibangun belum tentu terjual. Jadi yang sudah terjual itu sekitar di angka 20.000-an unit. Seharusnya di bulan ini target tahun ini ya harusnya 40.000," kata Ketua Umum Apersi, Eddy Ganefo kepada wartawan, Rabu (4/5/2016) di Jakarta.

Padahal, sepanjang tahun ini Apersi menargetkan penjualan rumah murah mencapai 100.000 unit di seluruh Indonesia. Kendala yang dihadapi pengembang perumahan di bawah naungan Apersi, menurut Eddy, adalah sulitnya mendapatkan akad Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari perbankan. "Rumah murah masih merangkak dikarenakan sulitnya pelaksanaan akad KPR," ujar Eddy.

Diuraikan, tahun lalu Apersi masih bisa menjual unit rumah meski pembangunan belum rampung 100 persen. Kebijakan baru mengharuskan pengembang menyelesaikan pembangunan unit rumah sepenuhnya, termasuk infrastruktur pendukung seperti jalan, pasokan air hingga aliran listrik. "Kalau dulu kita ada kurang-kurang dikit bisa KPR, sekarang enggak, semuanya harus benar-benar terpenuhi seperti lampu harus sudah menyala, air semua harus sudah mengalir, jalan harus sudah jadi," tukasnya.

Menurutnya, pengembang perumahan mengalami hambatan apabila tidak ada biaya dari KPR untuk melanjutkan pembangunan unit rumah-rumah tersebut. "Padahal perumahan baru kan perlu waktu. Kita kalau tidak bisa KPR kita tidak bisa bangun lagi, nunggu dulu, nunggu ini bisa KPR baru bisa bangun, itu masalahnya. Jadi cuma masalah kebijakan dan kemauan dari pemerintah juga sih," kata Eddy dikutip dari merdeka.

Eddy berharap, kebijakan akad KPR bisa dikembalikan lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. "Ya harusnya seperti tahun kemarin lah, ya tahun kemarin kan umpamanya jalan itu kan kita bisa menunggu 2-3 bulan, kita bisa akad (KPR) sambil dikerjain," tukasnya. (den)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus