Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Kolom

Saatnya Riau Mengelola Blok Siak

Sabtu, 17 Agustus 2013


Oleh: Yatno SR

Ada pepatah menyebutkan, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlwannya"... Menghargai disini salah satunya dengan menjaga apa yang diperjuangkan para pahlawan terdahulu, seperti potensi ladang minyak Indonesia yang menjadi aset utama negara dalam bentuk sumber daya alam.

Sayangnya... Hari ini, kita melihat aset berharga negara malah dikuasai bangsa asing. Artinya, secara fisik memang Indonesia telah bebas dari jajahan negara asing, tetapi hakikatnya ternyata Indonesia belumlah terbebas dari penjajahan itu sendiri. Sebab saat ini, banyak aset bangsa malah dikuasai pihak asing dan Indonesia hanya menjadi penonton di saat pihak asing membawa hasil bumi Indonesia untuk kekayaan negerinya. Beberapa aset yang dikuasai itu separti pertambangan yang beroperasi di dataran tinggi Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, yakni Freeport Indonesia.

Mereka seenaknya mengambil dan memasarkan konsentrat tembaga dan emas Indonesia selama puluhan tahun. Sementara bangsa Indonesia yang ada di sekitar lokasi pertambangan sampai hari ini masih tetap miskin. Begitu juga dengan sejumlah ladang minyak di Indonesia, khususnya di Riau. Hampir 80 persen dikuasai pihak asing, seperti PT Chevron dan Medco yang mengelola Blok Siak.

Mereka menguras potensi alam Indonesia, sementara masyarakatnya tetap hidup dibawah garis kemiskinan. Inikah kemerdekaan yang dimaksud pemimpin bangsa kita atau yang diperjuangkan pahlawan kita. Tentu tidak... Karena pejuang kita menginginkan kesejahteraan masyarakat, bukan seperti yang dilakukan pemimpin bangsa sekarang yang karena kebijakannya membuat rakyat sengsara.

Indonesia atau Riau khususnya yang merupakan salah satu negeri penghasil minyak terbesar di Dunia malah harus menaikkan harga minyak untuk masyarakat sampai menjerat leher masyarakat. Bahkan, konon kabarnya harga bahan bakar minyak Indonesia adalah yang tertinggi di Dunia. Inikah makna kemerdekaan itu?

Yang jelas, ini semua akibat pengelolaan yang dilakukan perusahaan asing. Perlu diketahui, Riau adalah salah satu provinsi terbesar yang memberikan amunisi besar kepada Pemerintah Pusat, namun yang diterima atau disalurkan kembali ke Riau masih tidak seimbang.

Kabar baiknya, tepat tanggal 27 November nanti, kontrak Medko yang mengelola ladang minyak Blok Siak akan habis. Itu berarti sudah hampir 10 tahun minyak Riau diambil asing dan program Bioremediasi yang direncanakan malah masuk ke kantong pribadi dan lingkungan menjadi rusak. Karena itu, mari kita dukung rencana pemerintah untuk mengelola Blok Siak agar hasilnya bisa dinikmati sepenuhnya oleh masyarakat Riau.

Bila kemudian ditanya apakah pemerintah Riau mampu atau tidak mengelola Blok Siak? Sama seperti Indonesia apakah mampu mengelola blok minyak lain yang sekarang masih dikuasai pihak asing. Dan pertanyaan serupa juga sama dengan yang disampaikan Presiden Soekarno sebelum memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia. Beliau sempat bertanya, apakah Indonesia mampu untuk merdeka?

Bila jawabannya dan hasilnya seperti sekarang, Indonesia merdeka. Maka saatnya Pemerintah Riau mengambil dan mengelola Blok Siak. Karena mengelola Blok Siak dan menggusur dominasi asing adalah harga mati dan marwah bagi masyarakat Riau. (***)

*Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Abdurrab, Pekanbaru



Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus