Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Pokok Pikiran

Saya Keturunan Cina dan Saya Pribumi

Sabtu, 21 Oktober 2017

Gubernur DKI Anies Baswedan yang kini dipermasalahkan karena kata pribumi. (Foto:Istimewa)

Oleh: Asma Nadia
 
SAYA teringat ilustrasi dai kondang Alm Zainuddin MZ saat membaca hiruk-pikuk media sosial soal pemilihan kata pribumi yang disampaikan gubernur Jakarta, Anies Baswedan. Sang kyai membahas ayat Alquran yang memulai dengan kalimat, “Ya ayuhallaziina aamanu…” atau "wahai orang-orang beriman". Sebagai muslim, kita membaca Alquran yang sama, tapi kenapa ada yang tersentuh dengan panggilan tersebut namun ada yang tidak peduli?

Kemudian Dai Sejuta Umat  itu memberi perumpamaan, dengan gambaran sederhana. Tiga  pedagang buah,  durian,  jeruk dan  mangga  mendorong  gerobak masing-masing beriringan ketika dari arah belakang terdengar teriakan, “Manggaa!”. Tukang mangga langsung berhenti dan mencari sumber suara. Sedangkan pedagang  durian dan jeruk  tidak memedulikan, terus berjalan, karena  tahu bukan mereka yang dipanggil.

Gambaran ini menunjukkan betapa seseorang pasti mendefinisikan dirinya, dan  bersikap secara natural sesuai dengan label atau identitas yang mereka pilih. Pedagang durian sadar ia tidak menjual mangga, hingga teriakan tersebut tidak membuatnya terusik Begitu pun penjual jeruk.

Kembali pada kata pribumi, ketika Anies Baswedan mengucapkannya, maka mereka yang merasa dirinya  pribumi tahu sedang dibela. Sedangkan  yang merasa berbeda tentu tidak bisa mencegah perasaan  tersisihkan. Pribumi,  sejatinya lebih karena rasa yang hadir setelah seseorang  mendefinisikan diri,  sebagai bagian penuh dari tanah air tempat dia berpijak. Bukan masalah bahkan bila dia mempunyai nenek moyang keturunan asing atau tidak.

Jika publik mencoba merunut silsilah keluarga sang gubernur sendiri, dengan mudah terlihat bahwa ia memiliki  darah Arab. Kakeknya AR Baswedan  pendiri Partai Arab Indonesia di tahun 30-an dan secara lugas menyatakan bahwa Tanah Air mereka adalah Indonesia. Di masa yang sama  berdiri Partai Cina Indonesia yang membuat pernyataan serupa. Saat itu nama negara Indonesia bahkan belum ada, namun mereka telah merasa dirinya sebagai penduduk negeri ini.

Sebab tidak terjebak pada masa lalu, sang gubernur tanpa beban saja menegaskan kata pribumi, karena merasa dirinya demikian. Begitu pun para pendengar pidato tersebut, termasuk saya, turut merasa terbela oleh pemimpin baru Jakarta. Meski  jika ditilik silsilah keluarga kami, ibu merupakan keturunan Tionghoa Medan, dan masih fasih berbahasa Hokkien. Walau demikian, saya, ibu juga keluarga besar kami, sama sekali tidak tersinggung, sebaliknya merasa terwakili kepentingannya sebagai orang Indonesia.

Sejak saya mampu mengingat, saya telah mencap diri sebagai pribumi. Begitu pun Ibu, juga keluarga besar yang bertukar kunjungan ketika Lebaran, Natal, atau Imlek tiba. Sejujurnya secara pribadi, saya  tidak melihat kesalahan dalam pidato sang gubernur.

Justru yang kemudian membuka mata, ternyata masih terdapat warga negara yang lahir dan besar di Indonesia, beranak pinak di negeri merah putih, tapi belum merasa dirinya  pribumi. Pak Anies sekalipun berdarah Arab merasa dirinya penduduk asli, saya meskipun keturunan Tionghoa juga merasa pribumi. 

Sederhananya bukan silsilah yang membuat seseorang pribumi atau non pribumi melainkan bagaimana dia mendefinisikan diri. Dalam KBBI, kata pribumi dijelaskan sebagai penghuni asli; yang berasal dari tempat yang bersangkutan. Jika definisi itu digabungkan dengan fakta sejarah eksistensi negara Indonesia yang lahir pada 17 Austus 1945, maka pribumi Indonesia berarti mereka yang sudah berada di Indonesia saat negara ini memerdekakan diri dan merasa menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

Bertolak dari sana, maka  terlepas silsilah di masa lampau, kita adalah penduduk asli Indonesia, karena jika dirunut jauh dari asal-muasal Adam, tidak satupun dari kita benar-benar berasal dari tanah ini. Pidato sang gubernur justru mempertegas identitas. Bagi yang merasa tersinggung  semoga berkenan mengevaluasi diri. Menyatukan lagi hati dan jiwa dengan bangsa ini.

Sambutan beliau  menjadi momentum yang menguatkan kesadaran, sesungguhnya kita semua satu, bangsa yang sama, mencintai tumpah darah tercinta,  berjuang untuk kemajuan bersama, bukan untuk kepentingan asing.

Saya pribumi, saya Indonesia. Keyakinan kuat yang terus melekat dan tidak hapus termasuk bagi sebagian  kita yang  sedang belajar atau bekerja ribuan bahkan puluhan ribu kilometer dari Tanah Air.
 
sumber: republika  


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus